Haechan dan Jeno benar-benar menghabiskan satu hari bersama untuk menikmati pemandangan indah di beberapa tempat di Tauria dan disemua tempat itu mereka pasti berciuman karena sesuai janji, Jeno akan mengambil bayarannya dengan mencium Haechan. Tepat pukul sebelas malam ketika jam malam sudah berlaku, Jeno mengantarkan Haechan diam-diam menuju ke gerbang, anak itu sedari tadi menunjukkan wajah murungnya. Dia baru pergi belum ada satu bulan tapi sudah membuat kekacauan di kerajaan lain, bagaimana kalau dia pergi lebih lama? astaga...dia tidak mau pulang!
"Jangan cemberut, aku berjanji akan kesana secepatnya." Jeno menarik dagu Haechan agar mereka bertatapan, meskipun Jeno menyebalkan tetapi mereka sudah menghabiskan waktu bersama meskipun tidak lama, Haechan tetap saja merasa sedih. Melihat mata Haechan yang berkaca-kaca itu membuat Jeno tertawa kecil,
"Aku berjanji." setelah itu Jeno mengecup kembali bibir Haechan yang sedari tadi dia cicip dan tidak pernah bosan, kali ini anak itu tidak melawan dan sedetik kemudian memeluk Jeno, anak itu tak berkata apa-apa bahkan sampai dirinya masuk ke dalam lorong. Yang Haechan takutkan adalah hukuman dari Ayahnya, bukan tidak bisa bertemu dengan Jeno lagi. Kali ini bisa-bisa dia tidak diperbolehkan keluar dari kamar berbulan-bulan, oh, bisa jadi dia akan dikurung selamannya. Itulah kenapa dia tidak mau kembali jika berhasil keluar, tapi sepertinya itu hanya akan menimbulkan kehebohan di kerajaan lain.
Geminic terlihat sangat cerah dan hening hari ini sampai membuat Haechan yakin kalau dia akan langsung ketahuan saat berjalan di jalanan menuju ke rumah. Haechan berjalan kaki, memilih untuk tidak menunggangi Hara agar lebih lama sampai dirumah.
"Sepertinya ini adalah kali terakhir aku menghirup udara luar." ucap haechan melankonis, malam ini bulan bersinar dengan terangnya hingga membuat bayangan tubuhnya terlihat dengan jelas, dan seperti yang di duga olehnya, baru saja dia menginjakkan kaki di depan pintu masuk desa dimana ada gapura sebagai penanda sebelum jalan menuju ke tebing luar orang-orang suruhan Ayahnya sudah mengepung dirinya.
Haechan berakhir dimeja pengadilan keluarganya, lebih tepatnya diruang makan dengan Johnny sebagai hakimnya.
"Kau sudah terlalu jauh melanggar aturan kali ini Haechan, sampai pergi ke kerajaan lain." ucap Johnny.
"Ayah bahkan tidak mengizinkanku keluar dari kota." protes Haechan,
"Kau tidak punya hak untuk menjawab disini Haechan Lyonelia Liberio!" Johnny membentak anak keduanya itu, membuat Haechan langsung tutup mulut melihat Ayahnya semarah ini.
"Kau tidak akan diizinkan keluar dari rumah selama satu tahun."
"Ayah!" Haechan dan saudaranya Hina secara kompak protes,
"Ayah, kurasa itu berlebihan." ucap Hina, disampingnya Haechan sudah tampak kesal dan ingin menangis, wajahnya memerah menahan emosi.
"Saudaramu sudah melampaui batas, Hina." Johnny menatap anak perempuannya itu,
"Biarkan dia keluar tapi berikan dia pengawal yang akan mengikutinya kemanapun dia pergi." ucapan Hina membuat Johnny memikirkan kembali keputusannya dan hal itu menjadi akhir dari persidangan tengah malam ini.
"Kau sangat tidak membantu." ucap Haechan,
"Setidaknya kau tidak akan mati kebosanan dirumah." ucap Hina, mereka masuk ke dalam kamar.
"Ya, dengan pengawasan ketat yang tak tahu kapan berakhirnya." Haechan menutup pintu kamar dengan keras, Hina menertawakan tingkah kakaknya itu sebelum masuk ke dalam kamarnya, ah dia juga harus bercerita pada Hendery soal ini, kakak tertua mereka itu sekarang sedang menjalani misi untuk mendinginkan perang saudara yang ada didaerah pinggiran dan jauh sana.
꒰✶𝑍𝛳𝐷𝐼𝛥𝐶 ✶꒱
KAMU SEDANG MEMBACA
ZODIAC (MARKNOHYUCK)
FanfictionSemua orang selalu menginginkan kekuasaan, bahkan Haechan sendiri yang hanyalah pengembara yang ingin mengetahui dunia lebih luas, tak hanya terbatas pada kerajaannya saja. ...
