Pagi itu, angin berhembus dengan pelan dan menerpa wajah cantik Haechan yang masih memejamkan matanya. Sementara itu, Pangeran Kedua Tauria itu masih terlihat sesekali memperhatikan wajah Haechan dengan buku yang berada ditangannya, entah sudah berapa lama dirinya disana namun yang pasti adalah Jeno tidak ada bosannya memandangi wajah Haechan sebagai pemandangan paginya.
"Engh.." tubuh kecil itu menggeliat, kedua matanya mulai mengerjap hingga kedua netra yang terbuka itu bertatapan dengan Jeno.
"Selamat pagi, sayangku," sapaan dipagi hari itu cukup membuat kedua pipi Haechan langsung memerah hingga ke telinga.
"A-apa yang kau lakukan di kamarku?! Tidak sopan!" Protes Haechan, ia mendudukkan tubuhnya dan menutupi sebagian wajahnya dengan bantal.
"Ini masih dalam wilayah kerajaanku, dan sebagai calon tunanganku aku merasa tidak perlu izin apapun jika untuk menatap wajahmu di pagi hari," jelas Jeno, namun tentunya hal itu tidak membuat kekesalan -sekaligus malu- Haechan mereda, anak itu melempar bantalnya pada Jeno lalu beranjak keluar dari kamar dengan bibir yang mengomel.
"Tidak ada Pangeran yang suka seenaknya sendiri pada tamu, huh,"
Mendengar celotehan Haechan dipagi hari rupanya cukup membuat mood Jeno bagus hari ini, "Setelah mandi langsung ke ruang makan, ya?" Jeno berteriak, meski Haechan tidak menjawab namun ia yakin Haechan mendengarnya.
Jeno bangkit dari posisinya, hari ini Mark akan kemari setelah tugas dari sang Ayah yang telah dilaksanakan. Dan hari ini juga mereka akan berdiskusi tentang pertunangan mereka.
Sarapan pagi ini tentu saja bersama dengan anggota kerajaan Tauria yang lain, termasuk Donghae dan juga kakak Jeno, itulah kenapa rasanya Haechan menjadi canggung.
Setelah Donghae mengambil suapan pertamanya, kepalanya mengangguk-angguk kecil saat dirasa makanan hari ini juga enak seperti biasanya.
"Oh, makanlah. Haechan, kau juga," ucap Donghae yang dibalas senyuman oleh Haechan,
"Aku sangat senang kau mau berkunjung kemari, festival yang diadakan juga untuk mengucapkan terimakasih kepadamu yang sudah menyelamatkan Tauria," jelas Donghae,
Meskipun ingatannya samar-samar, namun Haechan tahu tentang peperangan yang terjadi beberapa waktu lalu dan ia mendapatkan cerita lengkapnya dari Hina. Ia sampai terkejut, karena bagaimana cara seorang Haechan melakukan itu?
"Ah terimakasih, aku hanya melakukan tugas sebagai seorang Pangeran. Melindungi Geminic adalah tugas utamaku, aku tidak ingin kehilangan rakyatku," jelas Haechan,
"Kau akan menjadi istri yang baik untuk Jeno," ucapan Donghae sontak membuat Haechan tersedak makanannya, Jeno yang duduk bersebrangan dengan Haechan dengan sigap mengambilkan segelas air lagi untuk Haechan dan memberikannya pada anak itu walau harus memutari meja besar itu.
"Ayah, berhenti mengatakan hal-hal seperti itu," ucap Jeno.
"Apa ada yang salah? Menurut Ayah itu normal, mengingat kalian akan bertunangan," jawab Donghae, pembahasan ini sepertinya terlalu lumrah untuk Donghae namun masih mengejutkan bagi Haechan.
"Raja, Pangeran Mark sudah datang," suara itu menginterupsi obrolan ringan diantara mereka.
Jeno masih mengelap bibir Haechan dengan sapu tangan ketika Mark masuk ke dalam ruang makan,
"Selamat pagi Raja," sapa Mark sambil memberikan penghormatan kepada Donghae,
"Selamat pagi, duduklah dan nikmati makanannya," ucap Donghae.
Mark mengambil tempat disamping Haechan, alhasil kini Haechan duduk diantara Mark dan Jeno.
"Tidak seperti biasanya Ayahmu memberikan waktu tugas secepat ini," ujar Donghae,
"Ah, karena pengangkatanku akan segera dilaksanakan maka untuk urusan pernikahan juga harus aku selesaikan," jawab Mark.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZODIAC (MARKNOHYUCK)
Fan-FictionSemua orang selalu menginginkan kekuasaan, bahkan Haechan sendiri yang hanyalah pengembara yang ingin mengetahui dunia lebih luas, tak hanya terbatas pada kerajaannya saja. ...
