15. Pertarungan

1K 123 3
                                        

Jeno dan Haechan kini sudah sampai di kerajaan, mereka berdua berjalan cepat menuju ke dalam istana untuk menemui Johnny. Haechan tidak terlalu mengerti perihal yang berhubungan dengan sihir, ia sebenarnya terlalu malas untuk mendengarkan penjelasan guru dikelas. 

"Ayah!" Haechan berteriak memanggil Johnny yang kini sedang memakai busana tempurnya, ia tidak bisa diam saja ketika kerajaannya ada di keadaan darurat seperti ini, setidaknya ia sudah harus siaga. 

"Bagaimana hasilnya?" tanya Johnny, ia memerintahkan agar pelayan berhenti memasangkan baju perangnya untuk mendengarkan penjelasan Haechan, 

"Monster itu punya tujuan bukan untuk menyerang orang-orang, mereka hanya ingin menghancurkan kerajaan," jelas Haechan,

"Mereka sepertinya diperintah oleh seseorang, portal yang ada di dalam gua tersebut menjadi jalan untuk tahu siapa pelakunya," Jeno menambahkan, 

Johnny terdiam sejenak, ia kemudian memanggil salah satu pengawalnya. 

"Kirim satu pasukan penyelidik untuk masuk ke dalam portal," perintah Johnny. 

"Ayah, aku harus ikut ke dalamnya," sahut Haechan. 

"Terlalu berbahaya dan beresiko, kau akan tetap di istana," Johnny tidak akan membiarkan Haechan pergi dalam penyelidikan berbahaya itu, meskipun ia sering memarahi dan menghukumnya tapi bukan berarti dirinya tidak sayang pada anaknya itu. 

"Tapi Ayah, jika aku tidak ikut maka masalah tidak akan terselesaikan. Seberapa banyakpun penyelidik yang dikirim kesana, dan juga Pangeran Jeno akan menemaniku," Haechan menarik lengan Jeno dan mengamitnya, perkataan Haechan ada benarnya tetapi.... 

"Tunggu disini sampai Ayah selesai," ucap Johnny. 

Helaan nafas keluar dari bibir Haechan, kalau nanti pada akhirnya tidak diizinkan untuk apa dia menunggu? lebih baik langsung kabur saja. Tapi dia butuh informan. Haechan pergi ke kamar, diikuti dengan Jeno dibelakangnya. 

"Kau baik-baik saja? tidak perlu memaksakan diri," ucap Jeno. Terdengar helaan nafas yang keluar dari bibir Haechan, anak itu seperti menanggung beban dunia.  

Haechan merebahkan tubuhnya diatas kasur sedangkan Jeno menyandarkan tubuhnya ditiang penyangga yang ada di pojok kasur Haechan. 

"Bagaimana keadaan Mark? Apa disana baik-baik saja?" tanya Haechan. 

"Prajurit yang bertugas mengirimkan pesan belum kembali kesini, sepertinya semuanya baik-baik saja disana. Semoga saja," balas Jeno. 

Haechan menatap Jeno, entah kenapa ia sekarang merasa perasaannya campur aduk sekali, ia ingin marah, ia ingin menangis, kecewa, dan menertawakan hidupnya ini. Jeno tertawa kecil melihat bagaimana Haechan beberapa kali menghela nafas, pemuda itu secara tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Haechan dan berakhir ia memeluk Haechan dengan erat. 

"Jeno!" Haechan mencoba untuk mendorong tubuh Jeno, bagaimana jika Hina tiba-tiba masuk?!

"Diam saja, aku sedang mengisi energimu," ucap Jeno.

"Tidak, aku tidak butuh," Haechan masih mencoba mengelak, tetapi Jeno semakin mengeratkan pelukannya seakan tidak ingin Haechan melepasnya.  

"Kalau begitu biarkan aku mengisi energiku," mendengar ucapan itu Haechan tiba-tiba terdiam, entah kenapa rasanya jadi nyaman dan ia tidak ingin Jeno melepaskan pelukannya? 

Lantas Haechan akhirnya melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Jeno sambil memejamkan matanya. 

"Lebih nyaman seperti ini kan?" Jeno bisa merasakan kepala Haechan yang mengangguk kecil. Dalam hatinya ia mensyukuri jika ia tidak menjadi seorang putera mahkota, dia jadi bebas meninggalkan kerajaan dan bersama dengan Mark. 

ZODIAC (MARKNOHYUCK)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang