Jeno kembali ketika Mark dan Haechan sedang menikmati sarapan, pemuda itu datang sudah dalam keadaan melepas semua baju perangnya, wajahnya terlihat lelah, pemuda itu langsung menghambur ke pelukan Haechan.
"Terimakasih atas kerja kerasmu, Pangeran Jeno," ucap Haechan sambil mengusap punggung lebar Jeno.
"Lepaskan pelukanmu, kau bau keringat dan Haechan sudah wangi," Mark berucap, hal itu membuat Jeno berdecak dan melepaskan pelukannya.
"Jadi Haechan, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Mark membuka pembicaraan,
"Semalam, aku diundang oleh Dewi Castor dan Pollux ke istana mereka," ucap Haechan,
"Kau yakin?" Tanya Jeno sambil mengunyah makanannya,
"Seratus persen, banyak pesan yang mereka sampaikan padaku," jelas Haechan, ia mulai menceritakan tentang Dewa Castor dan Pollux yang mengundangnya ke istana dan menjadi saksi pengadilan Erano di altar keadilan.
"Dia menyebutkan Raja Libre, aku yakin jika dia ada adalah pusat dari semua ini," ucap Haechan,
"Deuxe, dia kan?" Jeno menatap Mark setelah ia berhasil mengingat nama Raja Libre, kepala Mark mengangguk sebagai jawaban.
"Masuk akal, lorong yang ada disini terhubung dengan Libre," timpal Mark,
"Ah, aku baru ingat itu. Sepertinya tujuan kita sudah ditetapkan," ucap Jeno,
"Hina ada di depan," Haechan menolehkan kepalanya ke arah pintu ruang makan yang sekarang masih tertutup, tak lama kemudian pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Hina dengan nafas memburu.
"Haechan!" Hina sedikit berlari menghampiri saudara kembarnya itu.
"Aku membawa kabar buruk," ucapnya, Haechan menarik tangan Hina agar setidaknya saudarinya itu duduk dan mengisi perutnya terlebih dahulu.
"Aku mendapatkan penglihatan di masa depan," ucap Hina, ia meminta kertas kepada pelayan yang ada disana serta pena, setelah mendapatkannya Hina menggambar penglihatannya diatas kertas itu. Menggambar pohon Warlou sebagai pusat dari semua kerajaan.
"Semua kerajaan kita membentuk lingkaran dengan Warlou sebagai pusatnya, kerajaan Libre akan menyerang Leon terlebih dahulu karena pertahanan Leon yang paling kuat. Mereka akan menyerang yang kuat dan menyisakan yang lemah agar tunduk kepada mereka," jelas Hina,
"Jika dilihat pola serangannya searah dengan arah jarum jam, dimulai dari atas lalu ke kanan. Entah kenapa tetapi semua kerajaan yang memiliki kekuatan terbesar ada di kanan," lanjut Hina.
"Lalu apakah kau memiliki rencana?" Tanya Jeno,
"Aku tidak tahu pasti, tetapi sekarang yang bisa dilakukan adalah kita harus mengirim pengantar pesan untuk menyampaikan kabar ini. Selagi kita bersiap," jawab Hina,
"Aku akan mengirim pengawal. Apa kau tahu kapan mereka akan bergerak?" Tanya Mark,
"Tengah malam ini," jawab Hina, tatapan anak itu berubah menjadi tajam. Semuanya terlalu mendadak, Leon bahkan belum sepenuhnya pulih setelah perang kemarin.
"Sebenarnya seberapa banyak pasukan yang dimiliki oleh Libre?" Mark menggelengkan kepalanya,
"Dia tidak pernah memiliki pasukan," ucap Hina,
"Apa maksudmu?" Haechan bertanya kepada saudarinya itu,
"Mereka memiliki penyihir dari kalangan iblis, dan menggunakan mayat sebagai pasukan mereka," jelas Hina.
"Jangan bilang semua pasukan yang kita lawan selama ini adalah mayat?" Kepala Hina mengangguk sebagai jawaban,
"Mungkin itu salah satu alasan kenapa Leon akan diserang pertama kali, karena mayat tidak tahan terhadap api," Haechan berucap.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZODIAC (MARKNOHYUCK)
FanfictionSemua orang selalu menginginkan kekuasaan, bahkan Haechan sendiri yang hanyalah pengembara yang ingin mengetahui dunia lebih luas, tak hanya terbatas pada kerajaannya saja. ...
