"Baiklah kalau begitu, biarkan kami berdua menikahimu." tidak itu bukan Mark yang berucap, melainkan Jeno yang otaknya ternyata lebih gila daripada Mark.
"Hah?" Haechan hanya bisa melongo saat mendengar ucapan Jeno,
"Jangan gila." ucap si manis ketika sudah sadar.
"Kalau begitu pilih salah satu dari kami." sahut Mark, tentu Haechan terdiam mendengar ucapan Mark. Mana bisa?
"Kau lupa kau sudah pernah berciuman denganku pangeran?" pertanyaan Jeno membuat Haechan mati kutu, Mark yang ada disebelah Jeno menarik bahu kawannya itu.
"Dia juga pernah berciuman denganku." kedua pangeran itu menatap Haechan berbarengan,
"Katakan padaku kalau aku adalah orang yang pertama kali menciummu, kau bilang begitu kemarin." mendengar penuturan Mark membuat Jeno terkekeh,
"Aku menciumnya saat dia berada di kerajaanku." timpal Jeno. Mendengar itu Mark mengeraskan rahangnya, dia kalah start.
"K-kau tidak terhitung! itu karena perjanjian! Jadi... jadi aku tidak ingin mengakuinya sebagai ciuman pertamaku." suara Haechan semakin mengecil di akhir, ia jadi gugup. Ini lebih menyeramkan daripada ujian.
Mendengar jawaban itu membuat Mark tersenyum, secara teknis Haechan tidak mengakui Jeno.
"Secara tidak langsung kau tidak mengakui Jeno, kan?" pertanyaan itu menunjukkan betapa sombongnya Mark sekarang sampai ia sedikit mendorong tubuh Jeno agar berada di belakangnya.
Haechan salah tingkah, ia tidak tahu harus melakukan apa. Dan oh, kenapa sudah sore saja?
"Aku tidak tahu!" Haechan melompat ke atas kemudian memilih untuk terbang meninggalkan mereka berdua. Astaga, dia tidak pernah secara gamblang didekati oleh seseorang seperti ini. Biasanya kalau disekolah ia hanya bisa melihat Hina yang selalu menjadi primadona sekolah, dan dia sebagai pengantar surat untuk saudarinya itu.
"Ayaaaah aku tidak tahu harus apa!" Haechan berteriak diatas langit, jujur saja dia tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Tapi malam ini dia yakin jika dalam makan malam akan dibahas soal perjodohan ini juga. Bagaimana kalau nanti Hina marah padanya? Haechan tidak ingin kehilangan saudarinya.
Haechan sampai di istana, lebih tepatnya ia langsung pergi ke jendela kamarnya yang selalu terbuka, apalagi Hina tahu jika Haechan menghilang maka anak itu perlu dibukakan jendela untuk bisa masuk ke dalam kamar.
Haechan menghela nafasnya saat melihat tidak ada Raja atau Ratu di dalam kamarnya, biasanya Johnny bisa menunggunya di kamar.
"Huh... aman." Haechan masuk ke dalam kamar, namun ia terkejut saat melihat saudarinya duduk dikasur.
"Astaga, kupikir ada hantu yang masuk ke kamarku." ucap Haechan. Ia melihat raut wajah Hina tidak bersahabat, lebih ke sedih, ia jadi khawatir.
"Hey, ada apa? Ada yang mengganggumu?" tanya Haechan, senakal-nakalnya dirinya, ia masih punya tanggung jawab menjaga saudarinya ini.
"Haechan, aku dengar kalau kita akan dijodohkan dengan pangeran pangeran itu." ucap Hina. Astaga Haechan sampai lupa fakta kalau Hina belum tahu apa-apa soal ini,
"Benarkah?" Oke, mari pura-pura tidak tahu. Kepala Hina mengangguk sebagai jawaban kemudian kembali menunduk,
"Kau tahu kan jika aku menyukai salah satu anak dari penjagaku?" Haechan duduk disamping Hina,
"Sungchan bukan?" kepala Hina lagi-lagi mengangguk kemudian terdengar helaan nafas panjang dari perempuan itu.
"Aku akan coba bicara dengan Ayah." ucap Haechan,
KAMU SEDANG MEMBACA
ZODIAC (MARKNOHYUCK)
FanfictionSemua orang selalu menginginkan kekuasaan, bahkan Haechan sendiri yang hanyalah pengembara yang ingin mengetahui dunia lebih luas, tak hanya terbatas pada kerajaannya saja. ...
