Jeon Kenneth Theodore

51 2 0
                                    

Hallo dear it's me, Jea. Sorry banget ya 9 bulan baru update. Ada personal problem and beberapa kesibukan yang bikin ga fokus sama next chapter di WP. Big sorry beneran:( beberapa minggu lagi tugas ngampus padet banget, tapi di usahain deh rajin update di sela sela belajar.

Sebelum ini, chapter chapter yang uda up ada bagian yang di revisi juga, ada sedikit  pergeseran cerita tapi tetep di alur sama kok. Kalo sempet lupa, baca ulang lagi aja yee akwk.

Vote and comment ya, biar bisa cepet cepet tamat ceritanya.

Mi Le's pov, "happy reading, honey. I miss u all."

--------

Jantungnya bekerja keras menyembunyikan rasa khawatir akan kekalahan membuat bidang dada berdebar kencang. Air wajahnya tak santai, Mi Le tak berani meski untuk sesaat menatap wajah sang ayah yang penuh penekanan.

Kedua netra Louise melirik tajam ke arah kedua putranya. Ya, rapat itu masih berlanjut hingga, "aku sudah membulatkan keputusan ku," Louise mulai angkat bicara.

"Suara terbanyak untuk Mi Le. Putraku, Mi Louise yang akan meneruskan semua bisnis Keluarga Louise." Louise beranjak meninggalkan kursi agungnya membawa tungkai kaki ke luar ruangan yang kini mulai riuh oleh tepuk tangan.

"Pah!" Alis Glen bertaut, dia memanggil Louise yang berjalan cepat, air muka Glen berusaha menyembunyikan sesuatu memalukan.

Louise menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Glen sontak berkata, "bersikaplah profesional," lantas melenggang kembali setelah memperingati.

Satu per satu direksi pergi meninggalkan meja rapat. Mi Le tak berkata, hanya menyeringai menyaksikan pemandangan para direksi yang berbisik mengatai Glen. Semua telah beranjak dari kursi keagungan masing masing. Hanya menyisakan Glen dan Mi Le di ruang yang kian sunyi.

"Uhh, itu pasti menyakitkan ya?" Mi Le mengajukan pertanyaan mendramatisir kepada Glen yang sesekali mengernyit kesakitan memegangi bahu.

Malam saat Mi Le menyekap Glen

Duarrr!

Duarr!

"Aaargghhhhh!"

Glen tersungkur, kedua peluru tepat mengenai sasaran. Bahu. Rasa sakit pada bahunya tak main main, dua peluru sekaligus telah menembus pada bidangnya. Darah segar mengalir tak terlalu jelas membasahi pakaian berwarna hitamnya.

"Lepaskan rantainya. Bawa dia ke rumah sakit, pagi nanti Glen harus menyaksikan kekalahannya di meja rapat." Usai mengakhiri pembicaraannya dengan orang berbadan kekar itu Mi Le melenggang meninggalkan gedung terbengkalai yang menjadi saksi bisu dirinya hampir merenggut nyawa Glen.

Mi Le menjatuhkan bokongnya pada kursi kemudi, mematung sejenak sontak menyeringai. "Hah, Glen. Membunuh Wilona ya? Aku tidak akan melukai mu jika saja mulut anjing mu tak mengatakan hal itu. Lebih baik aku membunuh mu terlebih dahulu sebelum kau yang membunuh wanita kesayangan ku." Mesin mobil telah menyala, Mi Le melajukan kencang Bugatti nya hingga tak terlihat gedung yang diinjaknya beberapa menit lalu.

Mi Le mengikis jarak diantara Glen. "Jangan bermain api, kau tak pandai. Kau hampir saja terbakar hangus karenanya." Wajahnya dekat dengan telinga Glen, membisik. Lantas menepuk bahu yang terbalut akibat luka tembak yang masih basah. "Sakit bodoh!" Pekik Glen mengernyit lara. Hampir saja kaki Glen melayangkan tendangan ke badan, namun Mi Le sigap menepisnya. Melenggang sambil tertawa puas meninggalkan Glen dalam kemalangan.

"Hahaha aku menang Glen!"

----------

18 minggu telah berlalu dari semua nasib buruk yang telah dialami sepasang kekasih ini. Wilona yang sudah membaik kini hanya banyak menghabiskan sepanjang waktu di kamarnya. Mengingat kembali kecelakaan itu membuat Mi Le lebih over dalam kekhawatiran. Juga Mi Le yang sedang disibukkan dengan pengalihan kekuasaan di perusahaan yang tak kunjung selesai.

Kesayangan CEO Tampan (ON-GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang