SATU

6.8K 778 383
                                        

"NENEK!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"NENEK!"

"Astaga, Nak. Ada apa? Kenapa teriak? Nenek kaget denger suara kamu." seseorang dari balik telpon tampak terkejut karena suara Junghwan yang begitu bersemangat.

Junghwan terlihat tertawa kecil dan berbicara dengan nada normal. "Nenek tau ngga sih? Rumah Ayah besar banget, Nek. Kayak istana,"

Tampak suara nenek yang terkekeh mendengar keantusiasan cucu nya itu. "Woah, besar sekali ya berarti."

"Iya, Nek. Kalo Hwan ajak teman-teman dari desa kesini, pasti mereka bakal kaget juga. Ngga bakal ada yang berani ledek Hwan lagi," tuturnya sedikit menggerutu.

"Emh, tapi Nek ..." Junghwan nampak menggantungkan ucapan nya. Dia sedikit ragu menceritakan tentang kakak tirinya itu.

"Kenapa, Nak?" suara nenek kembali terdengar dan menyadarkan Junghwan.

"Kayaknya Kakak ngga suka Hwan disini deh," adunya dengan suara mengecil dan nada sedikit sedih.

"Kakak?"

"Iya, Kakak. Ayah ternyata punya anak lain selain Hwan. Namanya Kak Jongu,"

"Hwan nakal ya?"

"Ngga! Hwan ngga nakal, Nek. Hwan baik kok," geleng nya cepat, walau dia tau neneknya tidak akan melihat.

"Hwan cuman ngajak Kak Jongu kenalan aja, tapi Kak Jongu ngga mau salaman sama Hwan. Padahal tangan Hwan ngga kotor," dumelnya pada sang nenek.

"Kak Jongu kayaknya ngga suka Hwan disini, Nek."

"Tadi juga Kak Jongu sempet berantem sama Ayah."

"Katanya, anak dari jalang mana lagi?" tidak ada balasan dari Sofia, nenek Junghwan.

"Nek, Hwan anak haram ya?" cicitnya dengan suara kecil.

"Karena itu juga, Hwan di tinggal sama Ibu dan tinggal bareng Nenek. Ibu pasti malu ya, Nek?"

"Dan yang di omongin anak-anak di desa itu bener, Hwan anak yang ngga di inginkan. Makanya Hwan di buang sama Ibu."

"Sayang ..." Sofia segera menghentikan segela dugaan buruk pada pikiran cucunya itu.

"Apa yang di omongin anak-anak desa itu bohong. Dan Hwan bukan anak haram,"

"Ibu juga ngga mungkin malu punya kamu. Ibu punya alasan kenapa kamu di titipin disini sama Nenek."

"Dan kalo pun itu benar, kamu ngga mungkin ada disana sekarang. Pasti kamu bakal tetep disini sama Nenek."

"Jangan pernah berpikiran kayak gitu lagi. Dan buat Kakak kamu, mungkin dia masih kaget dengan kedatangan kamu yang tiba-tiba."

"Jadi Hwan harus pintar-pintar ngedeketin Kakak kamu itu. Dia cuman belum terbiasa aja kok,"

"Ehm, gitu ya Nek." ucap Junghwan mengangguk-anggukan kepala nya.

BuanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang