Chapter 40

4K 311 68
                                        

Seorang wanita tengah duduk merenung sendirian di dalam kamarnya. Di tangannya sebuah figura foto tak henti-hentinya dia tatap. Dia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari foto itu.

Wanita itu—Inez Allison, dan foto yang berada di tangannya adalah foto sang kakak yang tak lain adalah Tiana Allison.

Tiana Allison, putri sulung keluarga Allison yang kehadirannya sama sekali tidak diinginkan karena dianggap mencoreng nama besar keluarga.

Menolak perjodohan dengan pria yang dipilihkan orang tua dan memilih menikahi pria lain. Inez tidak bisa membenci kakaknya meski semua orang di keluarga Allison berusaha keras menghapus namanya.

Bagaimana bisa dia melupakan kakaknya?

Terlebih Wilona memiliki wajah yang sama dengan Tiana. Benar, Wilona memang bukan putri kandungnya. Wilona adalah putri dari Tiana Allison.

Wajah mereka sama persis. Bahkan sifat mereka juga. Jika Inez bisa mendiskripsikannya Wilona adalah gambaran nyata dari ibunya.

Wilona terlahir saat Tiana mengorbankan nyawanya. Kecelakaan puluhan tahun yang lalu membawa Inez di titik dia bisa membalas budi pada kakaknya.

"Anak Kakak juga anakku. Dia sudah seperti anak kandungku sendiri. Meski Nenek nggak menerimanya, kakak tenang saja dia nggak akan kekurangan kasih sayang dari kita."

Inez berjanji akan merawat Wilona sepenuh hati, menjaga putri Tiana seperti putrinya sendiri. Namun enam tahun yang lalu merubah segalanya.

Tragedi itu—Inez menyesal. Semua ucapan yang dia katakan pada Wilona seharusnya tak pernah dia ucapkan. Sebagai seorang ibu dia merasa gagal.

Teringat jelas dibenaknya saat dia berlari tergopoh-gopoh di lorong rumah sakit sambil menggendong Karina yang masih berusia satu tahun.

Inez histeris saat tahu Tiana meninggal dalam kecelakaan mobil itu. Korban meninggal tidak hanya satu melainkan dua.

Tiana dan suaminya. Untung saja putri mereka terlahir sehat tanpa kekurangan. Wilona adalah cucu pertama di keluarga Allison yang kehadiranya tak diinginkan oleh Bulan.

Suara pintu berderit, Inez menoleh. Suaminya berdiri di sana. Inez dengan cepat menghapus air matanya. Dia tidak sadar terlalu jauh memikirkan masa lalu.

"Sudah pulang?"

"Ada apa sayang? Harusnya kamu menyambut suamimu dengan senyuman bukannya malah menangis."

Stevan tahu, ada hari dimana Irene akan merenung sepanjang hari hanya menatap foto kakaknya lalu menyesali semua perbuatan yang telah dia lakukan dahulu.

Istrinya telah melalui banyak masa-masa sulit. Stevan memaklumi jika Inez masih belum bisa melupakan tentang kecelakaan itu juga saat dimana mereka kehilangan Wilona. Dirinya pun sama. Stevan tidak akan pernah bisa melupakan dua kejadian yang sangat membuat keluarganya terpukul.

"Malam ini aku akan tidur di kamar putri kita," kata Inez, bangkit berdiri dari duduknya.

Stevan menghela napas panjang, dia biarkan istrinya itu menghilang di balik pintu. Tak berniat menahan karena takut akan membuat Inez semakin sedih.

Cklek!

Suasana yang sepi menyambut kedatangan Inez di kamar Wilona. Berbeda dengan kamar Kate yang bersinar terang, kamar milik Winter sangatlah gelap dan hampa. Padahal Inez selalu meminta para maid untuk membersihkan kamar ini setiap hari.

Ctak!

Inez menghidupkan lampu, seketika matanya membelalak melihat seseorang berdiri di depan cermin. Orang itu menatap Inez melalui bayanganya di cermin.

Obsession Series 1; Love and RevengeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang