Chapter 52

2.9K 234 33
                                        

tw// mature

Sebenarnya ide untuk tinggal di rumah hutan salah atau tidak? Itu yang Noah pikirkan sejak beberapa hari ini. Selain diisi dengan pikiran runyam karena pekerjaan, Noah juga terus memikirkan perkataan ibunya.

Sayangnya Noah belum berani untuk mengatakan itu pada Wilona. Saat dia membuka mulut untuk berkata tentang mansion Xander-ugh! Noah tidak ingin membayangkan kemungkinan apa yang akan terjadi.

Noah tidak ingin hubungannya dengan Wilona semakin merenggang. Bayi-bayinya melakukan tugas dengan baik akhir-akhir ini. Noah pikir akan membenci mereka karena merepotkan Wilona dan sempat menjadi halangan untuk hubungannya. Sekarang tidak lagi. Seratus persen, Noah menyayangi darah dagingnya itu.

Tok Tok Tok!

Gerakan Noah membubuhkan tanda tangan di atas kertas terhenti kala pintu diketuk dari luar.

"Masuk!"

Begitu pintu dibuka Noah mendesah lega melihat sosok sekretarisnya yang masuk. Noah pikir itu iMommynya. Ah benar juga, kalau itu Mommynya sudah pasti ketukanya bisa merobohkan pintu itu.

"Ada apa?"

"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan pimpinan," sekretaris itu sedikit ragu untuk mengatakannya. "Dia memaksa masuk meski sudah dilarang oleh keamanan."

"Siapa?"

Nada bicara Noah berubah dalam. Tak suka saat ada penyusup atau orang tidak berkepentingan yang mengusiknya saat sedang bekerja. MOmmynya juga termasuk, tapi Noah masih bisa menerimanya.

"Apa itu istriku?!" tanya Noah langsung berdiri dari duduknya. Dia berjalan dengan tergesa untuk menggapai pintu.

Salah besar. Bukan istri cantiknya yang Noah lihat melainkan Louis. Noah mengumpat keras. Fuck!

"Apa yang kau lakukan di sini?!" Noah bertanya dengan nada tak suka.

Noah juga memberikan tatapan maut pada sekretarisnya. Tidak ada gunanya mempekerjakan orang yang tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik. Ingatkan Noah untuk memecat wanita itu nanti.

"Ada hal yang harus kubicarakan!"

"Memintaku untuk mengeluarkan Ibumu dari rumah sakit jiwa?"

Noah bisa menebaknya. Bukan hanya sekali dua kali Louis memintanya untuk mengeluarkan Yara. Setiap ada kesempatan Louis selalu saja memburunya. Noah hanya tidak menyangka kali ini Louis punya nyali untuk menerobos ke dalam perusahaanya.

"Kalau hanya tentang itu aku tidak akan terburu-buru datang ke sini! Dan mendobrak keamanan sialan itu!"

Noah menghembuskan napas kesal. Namun dia juga penasaran alasan Louis sampai sengotot ini. Karena itu Noah meminta sekretarisnya untuk keluar dan menutup pintu erat-erat. Ruangan besar itu kini hanya ada Noah dan Louis yang saling berhadapan. Atmosfernya sungguh buruk.

"Katakan? Aku tidak punya banyak waktu untuk mengurusi hal yang tidak berguna. Satu detik waktuku bernilai ribuan dollar."

Louis memutar bola matanya. Benar, Noah Xander brengsek ini memang sangat sombong. Meski harus Louis akui pria ini memang terlihat berbeda saat sedang duduk di balik meja kerjanya. Aura pemimpinnya sungguh tidak main-main.

"Aku datang karena Jaerson."

"Jaerson?" Alis Noah menukik tajam. Itu nama yang sudah lama tidak dia dengar.

"Mantan sekretarismu itu. Aku ingin tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati."

"Apa itu penting?"

"Jawab saja!"

Obsession Series 1; Love and RevengeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang