Mata cantik itu terbuka perlahan menyesuaikan diri dengan cahaya lampu terang benderang. Ruangan serba putih dan aroma obat-obatan tercium samar di hidungnya. Kate seketika meringis saat merasakan sekujur tubuhnya yang lemah, terlebih di bagian bahunya yang berat.
"Kate sayang! Kamu sudah bangun!" Inez mendekat ke ranjang tempat Kate berbaring nyaman di susul Stevan yang begitu terkejut melihat putrinya terbangun.
"Mama? Papa?"
"Iya sayang ini mama dan papa?" Inez mengusap lembut rambut putrinya.
"Aku kenapa? Noah dimana? Kenapa dia nggak ada di sini?"
Inez dan Stevan saling bertatapan, seketika rasa cemas menjalari keduanya. Tidak disangka pertanyaan tentang Noah yang pertama kali keluar dari bibir putrinya.
Bagaimana menjawabnya? Noah tidak ada di sini sejak semalam.
"Kamu terkena tembakan sayang. Semalam oprasi pengangkatan peluru sudah berhasil dilakukan." Stevan berkata dengan suara lembut, tak ingin putrinya mendadak syok. Sengaja, dia juga tak menjawab pertanyaan tentang kehadiran Noah di sini.
"Aku tertembak?!" Kate berjengit, dia mencoba duduk namun tertahan karena bahunya lagi-lagi terasa sakit. Efek biusnya sudah habis sejak satu jam yang lalu.
"Argh! Sakit!"
"Kate!"
Mata Kate membola melihat pundaknya terbalut perban hingga ke bawah. "Ma! Pa! Pundak Kate! Pundak Kate nggak papa kan? Operasinya nggak berbekas kan?!"
Kate seorang model tentu saja dia benci saat ada luka yang menggores tubuh mulusnya. Terlebih kali ini di pundak, sedangkan pundaknya adalah aset yang teramat sangat berharga.
"Sayang? Operasinya lancar," Inez menenangkan, mengusap-usap rambut Kate agar tenang.
"JAHITANYA MA! KATE NGGAK MAU CACAT!" Teriak Kate frustasi, air matanya berjatuhan seketika.
Stevan dan Inez membisu, mereka tahu Kate pasti akan syok. Mereka hanya tidak menyangka kalau putrinya lebih mementingkan bekas luka dari pada nyawanya sendiri.
Peluru itu hampir mengenai jantungnya tapi bekas luka yang malah dia pedulikan seolah-olah itulah masalah utamanya. Stevan dan Inez hanya bisa terdiam membiarkan Kate menangis, jika dengan begitu Kate bisa tenang lagi maka mereka tidak akan melarangnya.
Hingga tak lama pintu terbuka dari luar, Devgan dan Yoriko tergesa menghampiri menantu mereka. Calon menantu lebih tepatnya karena pernikahan semalam benar-benar gagal total.
"Kate?"
"Mom! Hiks dimana Noah mom! Dimana dia?!" Kate memeluk erat wanita itu, dia menangis tersedu-sedu.
"Noah ada, dia di sini."
"Mana Mom! Apa dia tidak khawatir denganku?!"
Yoriko menoleh ke belakang, dia terkejut tak melihat Noah ada di sana. Pun dengan Devgan, mereka yakin Noah tadi mengikutinya sampai di sini.
Kemana perginya putra nakalnya itu!
Jawabannya adalah dokter kandungan. Melenceng jauh memang, tapi itulah kenyataanya. Satu-satunya hal yang Noah pikirkan saat pergi ke rumah sakit adalah pergi ke ruangan dokter kandungan.
Pria yang mengenakan celana jeans hitam dan kemeja hitam bergaris putih itu duduk manis di atas kursi. Berhadapan dengan dokter wanita bernama Mila, Noah sudah cukup sering datang kemari.
"Jadi apa tujuanmu datang kemari tuan Noah Xander?"
Mila duduk gelisah di tempatnya. Dia seorang dokter harus bersikap profesional meski beberapa kali menelan ludahnya sendiri melihat pria hot itu duduk di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession Series 1; Love and Revenge
Romance𝗗𝗮𝗿𝗸 𝗥𝗼𝗺𝗮𝗻𝗰𝗲‼️ Wilona Gabriela Allison, gadis berusia 17 tahun yang dikenal cantik, polos, dan lugu. Itu sebelum dia mendapat penghianatan dari keluarga dan juga kekasihnya tepat di malam ulang tahunnya. Satu malam yang merubah kepribadi...
