Chapter 46

3.4K 241 85
                                        

Dulu Louis sering melihat Wilona melempar pisau ke arah lukisan Kate yang terpajang di dinding. Itu dulu. Sekarang berbeda. Wilona sama sekali tak menyentuh wanita itu, tapi lihat saja bagaimana menderitanya Kate saat ini.

"Dia harus hidup lebih lama, gue mau melihat dia sangat menderita," tekan Wilona, seringai menakutkan terukir di bibir indahnya.

"Lo sudah melakukan semuanya Eve. Dia tidak akan memiliki harta keluarga Allison. Karirnya juga sebentar lagi akan hancur. Lalu fisiknya? Lihat betapa gilanya wanita itu karena goresan di lehernya."

"Noah yang melakukanya. Bukan gue."

Awalnya Wilona hanya menjadikan Noah sebagai tangga pijakannya. Sayang sekali Noah itu lebih seperti eskalator yang senang berjalan sendiri. Melakukan apapun yang dia mau sesuka hati.

Tidak apa-apa. Noah justru membuatnya semakin mudah. Pria itu juga menurut untuk tidak membunuh Kate dengan mudah dan menyerahkan kepadanya saja.

"Berhentilah membunuh," Louis menatap Wilona lekat. "Gue pengen banget mengatakan ini sejak lama."

"Tangan gue udah bersih Louis. Udah gue bilang kan kalau Noah yang akan melakukan semuanya buat gue." Wilona tersenyum tipis.

Noah! Noah! Dan Noah!!

"Padahal gue juga bisa," Louis menghela napas, sesak. Kedua tangan pria itu mengepal erat di sisi tubuhnya.

"Yakin? Coba bunuh dia kalau lo bisa," Wilona mengendikan dagu ke depan, ke arah Noah yang berjalan tergesa menghampiri mereka.

"Apa balasannya?" Louis tidak bercanda. Dia juga tidak main-main dengan ucapannya.

"Nggak ada," Wilona mengubah rautnya menjadi datar kembali.

Padahal Louis berharap Wilona akan mengatakan hal yang sama seperti saat itu. Louis tidak keberatan menggantikan posisi Noah. Anak Wilona adalah anaknya juga.

Louis tidak masalah menjadi ayah dari anak-anak itu. Selagi Wilona tidak membenci bayinya maka Louis juga bisa menerimanya dengan senang hati. Sungguh, Louis ingin Wilona mengatakan itu padanya.

"Sayang!"

Wilona kesal. Kesempatanya berbicara dengan Louis terganggu karena kedatangan Noah. Pria itu seharusnya berada di kantor. Heran Wilona melihat Noah di sini.

"Sayangku!"

Iyuh!

"Kemana Nina? Kamu harusnya pergi ke rumah sakit dengan dia. Bukan dengan bajingan ini!" Noah meneliti penampilan Wilona dari atas kepala hingga kaki. Dia mendesah lega, tak menemukan sesuatu yang aneh di tubuh istrinya.

"Kau sedang mengatai dirimu sendiri bung ?" sinis Louis.

Noah tak menggubris perkataan Louis. "Tahu gitu aku sendiri yang nganter kamu ke dokter. Ayo masuk, kenapa malah berdiri di sini?"

"Anak lo ngidam ngelihat mantan tunangan lo menderita," begitu dingin Wilona berkata. Noah ikut menatap lurus ke depan.

Benar juga! Noah sampai tidak sadar jika kini mereka berdiri di depan ruang rawat inap pasien. Dan pasien di dalam sana adalah Kate. Wanita itu masih dalam masa perawatan.

Astaga, Noah bahkan tidak melukai sedalam itu. Lalu kenapa Kate masih saja berada di sini setelah satu minggu berlalu?

Apa wanita itu tidak ingin keluar karena malu dengan bekas luka melintang di lehernya itu? Tahu begitu dia seharusnya dia membuat leher Kate terputus sekalian.

"Sayang jangan bercanda. Bayi-bayi nggak boleh punya jiwa psikopat sejak dini."

"Ck!" Louis berdecak. Geli mendengar Noah berkata seolah dirinya adalah manusia paling normal di dunia ini. "Eve, mau gue temenin atau enggak? Gue pengen lihat anak-anak lo."

Obsession Series 1; Love and RevengeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang