Chapter 50

3.4K 240 28
                                        

"Apa kita dikutuk?" pertanyaan spontan yang terucap dari bibir Yoriko membuat Devgan dengan cepat menggeleng.

"Kenapa setiap kali kita mengadakan pesta pasti selalu berakhir menjadi tragedi?"

"Jangan melebih-lebihkan, tidak ada yang terluka hari ini."

"Lalu kau berharap seseorang mati begitu hah?!"

"Bukan begitu sayang... maksudnya," ah Devgan sendiri kesusahan untuk menjelaskan pada istrinya yang sedang emosi ini.

Ucapan Yoriko memang tidak sepenuhnya salah. Pertama, pernikahan Noah dan Kate dulu yang gagal karena tragedi penembakan. Kedua, pesta pernikahan Noah dan Wilona yang diselimuti drama kakak adik.

Lalu kali ini, pesta perusahaan Xander yang berakhir annoying karena Kate yang bertingkah aneh dan histeris. Tak ada satu orang pun yang merasa nyaman karena melihat kejadian itu.

Kecuali satu orang. Wilona.

Pemandangan indah itu, Wilona tak melewatkanya barang sedetikpun. Sangat seru melihat jiwa Kate terguncang, ketakutan, dan histeris karena kenangan masa lalu.

Wilona ingin mengabadikan kejadian ini otaknya, selalu. Sayang sekali pria sinting bin tidak waras bernama Noah Xander itu lebih dulu membawanya pergi. Kembali ke rumah di tengah hutan meninggalkan hingar bingar pesta.

Sialan!

Wilona marah tapi di sisi lain dia juga bahagia. Sangat bahagia. Kenapa bermain-main seperti ini terasa lebih menyenangkan dari pada membunuh?

Sekarang justru Noah yang kebingungan. Bagaimana dia harus menghukum Wilona saat melihat wajah wanita itu akhirnya berseri-seri setelah sekian lama.

Kapan terakhir kali Wilona menampilkan ekspresi ini di hadapannya? Enam tahun yang lalu?

"Sayang?"

"Hmm?" Wilona bergumam lirih menatap Noah dengan mata bulatnya yang bersinar.

Ditatap seperti itu membuat pipi Noah berangsur-angsur panas dan memerah. Barusan itu Wilona bersikap imut atau apa? Noah tak mengerti. Dia mengusap wajahnya berusaha meredakan rasa panas itu.

"Apa?" ulang Wilona.

Noah tak juga menjawab. Dia pergi dari hadapan Wilona untuk mengambil sesuatu. Wilona mengerutkan dahi melihat kelakuan pria itu yang menurutnya sangat aneh.

Noah kembali membawa sesuatu. Itu pemutar piringan Vinyl yang dulu sering digunakan kakeknya. Noah tidak tau apakah alat itu masih bisa berfungsi atau tidak karena sudah lama sekali tersimpan di sini.

"Lo mau ngapain sih?"

"Untung saja masih bisa dipakai," Noah mendesah lega, ada suara yang keluar dari sana. "Sekarang mari bicarakan hukumanmu, sayangku."

"Hukuman apa?!" Wilona pura-pura lupa.

"Kamu membuang jas milikku kan?"

"Nggak gue buang!" Wilona tidak terima. "Gue kasih ke orang yang membutuhkan."

"Sama saja," Noah menarik pinggang Wilona dengan sebelah tangannya, membawanya lebih dekat hingga merapat ke tubuhnya. "Hukumanya nggak berat. Aku ingin berdansa dengan istriku ini."

Cup!

Noah mengecup punggung tangan Wilona dengan mesra. Dia tersenyum manis membuat wajah Wilona kian datar dibuatnya.

"Lo kurang kerjaan ya? Minggir! Gue mau bersih-bersih terus tidur!"

"Hukuman ya hukuman, sayang. Lagipula kamu sendiri kan yang bilang pergi ke pesta karena ingin berdansa? Kita nggak sempat melakukanya di sana, jadi ayo berdansa di sini saja."

Obsession Series 1; Love and RevengeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang