Chapter 51

3K 230 56
                                        

"KELUARKAN AKU DARI SINI!"

"SIALAN! BIARKAN AKU KELUAR!"

"MAMA! PAPA! KATE ADA JADWAL PEMOTRETAN HARI INI!"

"JANGAN SAMPAI AKU DATANG TERLAMBAT!"

"WARTAWAN SUDAH MENUNGGUKU UNTUK INTERVIEW!"

"KALIAN TULI HAH?"

"KELUARKAN AKU DARI SINI!"

"Apa dia selalu seperti itu?" tanya Wilona pada dokter wanita itu.

Mereka berjalan di lorong ke arah kamar dimana Kate di rawat. Wilona bersisihan dengan sang dokter yang ditunjuk oleh Inez dan Steven untuk menangani Kate. Sementara Noah dan Louis berjalan di belakang mereka.

"Ya, terkadang kami harus bergantian menyuntikan obat penenang. Satu bulan yang lalu dia masih bisa datang untuk konsultasi, tapi akhir-akhir skizofrenia benar-benar parah."

"Tidak heran, dia mengalami masalah yang bertubi-tubi. Tapi aku tidak tahu kesehatan mental kakakku akan terguncang separah ini." ucap Wilona lirih. Ekspresi sedih di wajahnya mampu membuat siapa saja merasa ikut iba.

Dokter wanita itu tersenyum tipis. Putri kedua keluarga Allison memang sangat baik seperti yang selalu diberitakan. Cantik dan berhati malaikat.

Dokter itu tidak tahu, jauh di lubuk hatinya Wilona sedang tertawa riang. Rasanya dia ingin bersenandung sekarang juga.

"Aku minta maaf tapi kalian tidak diizinkan masuk ke dalam. Kamu juga sedang hamil, takut Kate bisa melukaimu."

"Aku mengerti. Oh iya, kapan terakhir kali Papa dan Mama datang ke sini?"

"Mereka datang dua minggu yang lalu. Minggu ini seharusnya mereka datang lagi tapi sampai sekarang masih belum ada janji."

Minggu lalu? Ah, kalau begitu apa mereka meninggalkan Kate?

Baik Steven maupun Inez pasti masih terguncang karena ini. Mereka tidak menyangka anak yang mereka besarkan seperti tuan putri akan berakhir gila dan mendekam di rumah sakit jiwa.

"Baiklah, terimakasih dokter."

Dokter itu mengangguk lalu pergi dari sana.

Pintu ruangan rumah sakit jiwa ini terbuat dari besi. Lalu ada jendela jeruji besi yang muat untuk meloloskan satu kepala. Meski tidak akan bisa karena ada empat besi yang terjajar rapi mencegah siapapun memasukan benda aneh dari luar ke dalam.

Setiap kali Louis datang ke sini pastilah dia teringat pada penjara tempat dia pernah ditahan.

Wilona melirik ke dalam kamar itu. Kosong. Matanya memindai ke setiap sisi. Dia tak juga menemukan keberadaan Kate.

"Sayang... kamu nggak akan tahan mendengar suara teriakan wanita itu. Sebaiknya kita pergi saja."

Noah benar. Sejak berjalan di lorong saja teriakan itu cukup keras terdengar. Apalagi sekarang mereka berada di depan pintu kamar wanita itu.

"Aku nggak denger apa-apa," jawab Wilona.

"Dia bersembunyi," kata Louis melihat gaun putih yang terjulur dari bawah ranjang.

Louis sedikit banyak tau tentang ruangan dan isi kamar itu karena Yara juga berada di tempat seperti ini. Meskipun itu di bangsal lain.

Louis mencoba menghentakkan kakinya, membuat suara seolah dia tengah berjalan ke arah kamar ini. Benar saja, Karina kembali menarik diri ke bawah ranjang.

"Dia sensitif dengan suara ketukan sepatu."

"Dia takut?" tanya Wilona. Louis mengangguk, dari reaksi Kate memang begitu.

Obsession Series 1; Love and RevengeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang