Chapter 36

4.2K 345 194
                                        

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun terakhir, Yoriko melihat Noah menitikan air mata di depannya. Itu benar, Noah hanya menangis ketika dia bayi dan saat beranjak dewasa, putra semata wayangnya itu tak banyak menampilkan ekspresi. Alih-alih mirip dengan ayahnya, Noah justru lebih banyak mirip dengan kakeknya.

Yoriko dan Devgan terlambat mengetahui jika Noah berbeda dengan anak-anak yang lain. Mereka dulunya orang tua yang gila kerja, sering kali meninggalkan Noah berdua dengan kakeknya. Noah anak yang cerdas, tidak sulit untuk mengaturnya. Mereka pikir meninggalkan Noah bersama Sergio adalah keputusan terbaik.

Namun itulah awal dari kesalahan besar mereka.

Yoriko melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Noah membunuh seekor kelinci tanpa rasa iba. Memainkannya seperti boneka, memotong tiap-tiap bagian tubuhnya dan membiarkan darah mengotori pakaiannya.

Yoriko pingsan di tempat persembunyiannya dan saat terbangun Noah sudah berada di sebelahnya. Tidak ada bau amis ataupun noda darah, putranya terlihat seperti anak-anak pada umumnya. Saat itu juga Yoriko menangis kencang sembari memeluk Noah.

Yoriko menjalani hari sembari terus berharap putranya itu berhenti bermain-main dengan nyawa binatang. Namun harapan hanyalah harapan karena pada akhirnya Noah berani bermain dengan nyawa manusia.

Lagi dan lagi Yoriko menjadi orang terakhir yang tahu tentang kelakuan buruk putranya. Steven dan Devgan sengaja menutupinya, entah berapa banyak nyawa melayang di tangan Noah—tak sekalipun Yoriko diberitahu.

Bagaimana hancurnya hati seorang ibu saat melihat putra yang dia lahirkan dan sayangi sepenuh hati ternyata adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Lalu saat usia remaja, Yoriko mulai menemukan jika putranya beralih senang memainkan wanita dan bergelut dengan dunia malam. Diam-diam Yoriko dan Devgan mengawasi segala tingkah laku Noah.

Tak ada lagi korban, tak ada lagi pembunuhan. Yang ada hanyalah kenakalan remaja pada umumnya.

Mereka percaya putranya itu berusaha menekan sifat predatornya karena sesuatu. Hanya ada Noah yang nakal,  remaja labil yang tak lagi berurusan dengan pisau.

Sampai Yoriko menemukan fakta, Noah melakukan semua itu karena dia sedang jatuh cinta.

Ya jatuh cinta, perasaan indah yang hinggap di hati setiap insan di dunia. Noah jatuh cinta. Noah pasti tak ingin terlihat buruk di mata gadis yang dicintainya.

Yoriko dan Devgan banyak menerka-nerka. Berusaha lebih untuk mengawasi putranya, melihat siapa saja gadis yang dekat dengan Noah, gadis yang diperlakukan spesial dan berbeda.

Tidak ada titik terang karena yang mereka dapatkan justru berbanding terbalik dengan keinginan mereka. Noah lebih banyak bermain dengan gadis random.

Hanya satu petunjuk yang mereka dapatkan. Itu pun berasal dari ucapan ngawur Sergio saat pria itu tengah kritis mendekati ajalnya.

Allison.

Hanya itu.

Devgan dan Yoriko menyimpulkan salah satu dari putri keluarga Allison adalah gadis yang dicintai oleh Noah. Dan tepat sekali, Noah mengakui sendiri di malam saat dua gadis di keluarga itu mengadakan ulang tahun.

Kate Steva Allison, Noah mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi gadis itu. Kepalang senang mereka sampai tidak tahu tindakan Noah bukanlah bentuk dari sebuah perlindungan ataupun pengorbanan.

Tindakan yang Noah lakukan ditujukan untuk memantik api amarah dari seseorang.

Devgan benar saat mengatakan Noah tidak serius menjalin hubungan dengan Kate. Yoriko selama ini menolak menerima pemikiran itu.

Obsession Series 1; Love and RevengeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang