"Huh ..."
Entah sudah keberapa kalinya Noah menghembuskan napas lelah di hadapan karyawan kantornya.
Rapat pagi yang dipimpin oleh salah satu kepala tim pemasaran itu berjalan lancar tanpa halangan-ya kecuali satu hal.
Sikap Presdir Noah sendiri yang menjadi masalahnya. Pria yang dikenal perfeksionis dalam pekerjaan itu kini terlihat melamun sambil beberapa kali menghela napas jengah.
Seperti ingin rapat penting ini segera usai. Atau memang rapat penting kali ini terlihat membosankan dimatanya. Tatapannya memang tertuju ke layar monitor tapi pikirannya tidak.
Noah kembali memikirkan tindakannya, menyekap Wilona, memainkan Wilona, dan memintanya untuk menetap di sisinya.
Apa semua itu salah?
Tidak biasanya Noah merasakan perasaan merepotkan seperti ini. Wilona, hanya Wilona yang bisa melakukannya.
Membuat pikirannya kacau dan memecah konsentrasi tingkat tingginya. Noah memikirkan kemungkinan apa yang sedang Wilona lakukan di kamar mereka.
Akhir-akhir ini Noah kembali harus mengikat kedua tangan dan kaki Wilona agar dia tak melakukan hal yang nekat. Noah cukup pusing Wilona terus-terusan ingin melukai dirinya sendiri.
Bunuh diri lebih tepatnya. Selain menyingkirkan semua benda tajam yang ada di kamarnya. Noah juga memasang kamera pengawas di setiap sudut kamar.
"Arg sial! Wanita itu!"
Semua orang menaruh atensinya pada suara keras presdir Noah barusan. Mereka kebingungan, presentasi pemasaran tidak membahas tentang gender.
Tapi kenapa presdir sendiri malah bergumam soal wanita?
"Bapak tidak apa-apa?" Jaerson bertanya, sedikit sensi melihat Noah yang tampak kebingungan.
Dasar!
Bisa-bisanya Noah kehilangan konsetrasi saat rapat penting seperti ini. Jaerson tahu otak Noah tak akan jauh-jauh dari wanita, namun Noah tak pernah seperti ini sebelumnya.
Berdeham pelan, Noah menjawab sambil melebarkan senyumnya. "Aku baik-baik saja. Teruskan, lanjutkan presentasinya."
Tiga puluh menit berlalu, Noah keluar ruangan rapat sambil melonggarkan dasinya yang terasa mencekik.
"Dimana ponselku?"
Jaerson memberikan benda itu kepada Noah. Sialan memang harusnya dia memegang ponselnya sejak tadi. Noah ingin segera membubarkan rapat hanya untuk melihat kondisi wanitanya saat ini.
"Pergilah, aku akan beristirahat sebentar di ruanganku."
"Baik," Jaerson undur diri.
Noah melangkahkan kaki panjangnya ke dalam ruangannya. Tepat di lantai tertinggi gedung 80 lantai itu.
Bahkan dari sini dia bisa melihat penthouse miliknya di seberang sana. Ah, Noah tak lagi tinggal di sana sayang sekali.
Jadi pemikiran untuk membawa Wilona ke sana tidak akan mungkin terjadi. Apalagi pintu yang biasa dijaga dua bodyguard itu sering kali kebobolan oleh ibu dan tunangannya.
Menyebalkan!
Mengotak-atik ponselnya, Noah segera membuka aplikasi yang menghubungkan dirinya dengan kamera di kamar lantai tiga miliknya. Noah membayar mahal pada Nina untuk hal yang satu ini.
"Apa yang dia lakukan?" guman Noah.
Terlihat di layar Wilona sedang mondar-mandir ke segala arah. Seperti sedang mencari sebuah celah untuk melarikan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession Series 1; Love and Revenge
Romance𝗗𝗮𝗿𝗸 𝗥𝗼𝗺𝗮𝗻𝗰𝗲‼️ Wilona Gabriela Allison, gadis berusia 17 tahun yang dikenal cantik, polos, dan lugu. Itu sebelum dia mendapat penghianatan dari keluarga dan juga kekasihnya tepat di malam ulang tahunnya. Satu malam yang merubah kepribadi...
