Chapter 22

4.7K 287 41
                                        

"Aku ingin menundanya Ma! Ma! Sampai pundakku sembuh dan kembali seperti semula tidak akan ada pernikahan antara aku dan Noah!" Ucap Kate tegas.

Empat orang di dalam ruangan itu hanya bisa menghela napas. Mau bagaimana lagi itulah keputusan calon mempelai wanitanya. Mereka tentu harus menghargai keputusan Kate. Memgingat kondisi wanita itu masih belum stabil sampai sekarang.

Satu minggu penuh Kate di rawat di rumah sakit, hari ini barulah dia bebas pulang ke rumah dan masih berada dalam pantauan dokter.

Hari ini juga Kate memutuskan untuk menunda pernikahannya yang gagal. Padahal dulu dia yang mendesak Noah, tapi justru kini Kate yang ingin mengundurnya dengan alasan pundaknya yang terluka.

Tidak ada yang lebih berharga dari pada tubuh dan wajahnya. Karena alasan itu juga Noah menyukainya. Kate tidak ingin mempertontonkan bekas luka jelek ini ke semua orang, dia begitu malu. Luka ini sama saja dengan kelemahannya.

"Kate, pertimbangkan untuk menikah di gereja. Kita tidak perlu membuat pernikahan yang mewah," ucap Yoriko.

Wanita anggun itu ingin segera menjadikan Karina sebagai menantunya.

Apa kata orang-orang jika pernikahan ini harus di tunda? Setelah insiden itu pasti banyak yang berpikir ada yang tidak beres dengan keluarga Xander.

Kematian Jeff sudah membuat banyak spekulasi dan gosip tak mendasar sekarang justru masalah penembakan di malam pernikahan. Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Jika tidak maka reputasi keluarga mereka yang akan menjadi taruhan. Xander dan Allison sudah cukup kuat sampai sekarang, masalah bertubi-tubi ini seharusnya bisa diatasi dengan mudah jika Kate dan Noah menggelar pernikahan kembali di gereja.

"Aku setuju dengan Kate," si tunggal tampan penerus keluarga Xander akhirnya muncul dari balik pintu.

"Mom Dad, Kate harus sembuh dulu sebelum kita menggelar pesta pernikahan. Benar begitu kan sayang?" goda Noah, ikut duduk di sisi Kate.

"Hm, aku ingin pesta pernikahan yang luar biasa mom. Menikah di gereja memang sakral tapi tidak selalu membekas."

Lagi, Noah ikut mengangguk setuju.

Yoriko memelototi putranya itu, bisa-bisanya dia malah setuju tanpa memikirkan alasannya. Suaminya juga, kenapa pasif sekali.

Ya Tuhan! Yoriko kesal sekali dengan para pria di keluarganya ini.

"Bagaimana menurut kalian pa ma?" Tanya Noah pada Inez dan Stevan.

"Keputusan ada di tangan kalian. Mereka sudah dewasa Yoriko, biarkan memutuskan apa yang terbaik untuk mereka. Juga aku ingin Kate fokus dulu dengan kesembuhannya."

"Yasudahlah kalau itu mau kalian. Mom tidak bisa berbuat apa-apa lagi." Yoriko akhirnya mengalah meski berat hati.

"Sekarang yang terpenting mencari dan menghukum pelaku penembakan itu. Noah kau sudah dapat informasinya? Kudengar dia berhasil lolos dari kejaran anak buahmu?"

"Uhuk uhuk ya Pa?"

Noah kaget saat Stevan tiba-tiba menanyakan perkembangan pencarian pelaku penembakan Kate. Ia tidak sempat berpikir ke sana. Karena sejak awal memang ia tidak serius dengan semua itu. Hanya akal-akalannya saja membuat anak buahnya berpencar jauh seolah memburu penjahat yang melukai Kate.

"Kamu kenapa sih?! Akhir-akhir ini susah sekali fokus! Nggak di rumah nggak di sini. Ada apa dengan kamu Noah!" ketus Yoriko.

"Bagaimana aku bisa fokus kalau calon istriku menderita seperti ini?" kata Noah sedih. "Setiap hari aku selalu memikirkan Kate, hatiku sakit sekali melihatnya terluka parah."

Obsession Series 1; Love and RevengeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang