Hal pertama yang Wilona lihat saat bangun tidur adalah langit-langit kamar yang sangat berbeda dengan kamarnya. Itu jelas karena Wilona ingat semalam dia tertidur di kamar Noah tanpa punya tenaga berlebih untuk kembali ke kamarnya.
Melirik ke sisi ranjang, dahi Wilona menyeryit tak melihat pria itu tertidur di sana. Tidak peduli seberapa acuhnya dia pada Noah, Wilona tahu benar pria itu benci tidur selain di ranjangnya— kecuali terpaksa Noah tak akan pernah menggorbankan punggungnya untuk tidur di sofa ataupun di lantai.
Berbalik, Wilona dikejutkan dengan sosok yang diam-diam dia cari ternyata tertidur pulas di single sofa dengan posisi duduk. Tak lagi mengenakan bathrobe seperti semalam. Noah sudah berganti dengan kaos hitam dan celana panjang senada.
Wilona perlahan menegakan tubuhnya untuk duduk bersandar pada kepala ranjang. Tubuhnya masih telanjang bulat, bagian bawahnya juga masih terasa aneh. Namun satu hal, tak ada jejak kissmark yang dia temukan di setiap bagian tubuhnya. Artinya semalam Noah memang tak menyentuhnya.
Pria itu... benar-benar sudah berubah ya?
Sial. Wilona benci perasaan bersalah yang menggerogoti hatinya ini. Semalam dia memanfaatkan Noah untuk memenuhi nafsunya sendiri.
Mendengar suara yang berasal dari gerakan Wilona membuat Noah terbangun. Rasa sakit langsung mendera punggung Noah saat dia berusaha berdiri.
Menjadi sosok pekerja keras sejak usia yang terbilang muda membuat Noah sangat amat menjaga tidurnya. Setidaknya jika dia tidak bisa memperbaiki jadwal tidurnya dia bisa mengubahnya dengan tidur di tempat yang nyaman.
"Sayangku sudah bangun?" Noah tersenyum, tak mempedulikan rasa sakit di punggungnya akibat tidur dengan posisi yang salah.
"Semalam anggap aja nggak ada yang terjadi." Wilona membungkus tubuhnya dengan selimut tebal saat Noah melangkah mendekatinya. "Gue pasti udah gila."
Noah meraih dagu Wilona agar mendongak menatapnya. Tak suka melihat raut penyesalan di wajah istrinya.
Semalam Noah sama sekali tak menyesalinya. Dia justru senang, setidaknya dia bisa berguna untuk istrinya.
Meski tersiksa, Noah sudah cukup bahagia melihat Wilona merasa puas karena dirinya.
"Lain kali biarin aku yang muasin kamu... dan kamarku ini selalu terbuka kapanpun kamu mau datang, sayang."
Wilona menatap wajah Noah lama. Ekspresi pria itu tampak hangat seperti biasanya. Padahal Wilona berharap melihat kemarahan di wajah Noah agar dia tak terlalu merasa bersalah karena kejadian semalam.
Meraih tangan Noah yang bertengger di dagunya atensi Wilona langsung jatuh pada jari manis pria itu. Wilona tak pernah sekalipun melihat Noah melepas benda ini.
Berbeda dengan Noah, Wilona tidak pernah sekalipun memakai cincin yang pria itu berikan.
"Ah ini? Kenapa dengan cincinnya sayang?"
Cincin indah yang Noah beli seharga milyaran itu tak pernah dia melihatnya melingkar di jari manis Wilona.
Bohong kalau Noah mengatakan dirinya tidak sedih. Satu-satunya yang membawa cincin itu dan menjaganya seperti benda berharga hanya dirinya. Noah tak pernah melepas cincin itu sejak mengikrarkan janji pernikahan mereka.
"Gue boleh mandi di sini?" tak menjawab pertanyaan Noah, Wilona justru mengajukan pertanyaan lain.
Noah terkejut, terbukti dari respon tubuhnya yang menegang kaget. Tak urung pria itu semakin melebarkan senyumnya.
"Sure baby. Mana mungkin aku melarangmu. Aku ambilin baju kamu di kamar sebelah."
Wilona mengangguk pelan. Melepaskan tangan Noah yang tak sadar sejak tadi dia genggam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession Series 1; Love and Revenge
Romansa𝗗𝗮𝗿𝗸 𝗥𝗼𝗺𝗮𝗻𝗰𝗲‼️ Wilona Gabriela Allison, gadis berusia 17 tahun yang dikenal cantik, polos, dan lugu. Itu sebelum dia mendapat penghianatan dari keluarga dan juga kekasihnya tepat di malam ulang tahunnya. Satu malam yang merubah kepribadi...
