viii. déjà vu

789 142 17
                                        

          Dor!

Sakura menjerit sekuatnya saat melihat Sasuke tiba-tiba menembak pelayan wanita yang tengah menyajikan makanan. Wanita itu berada tepat di samping kanannya, berdiri di antara mereka berdua. Jarak mereka begitu dekat sampai-sampai darah dari pelayan wanita itu mengenai dirinya.

Sakura berdiri, bergerak menjauh dari jasad si pelayan.

Gaun putih susu yang Sakura kenakan kini bercorak merah di beberapa bagian, begitu pun sisi kanan wajahnya. Diusapnya darah yang menodai pipi dan pelipisnya. Sakura menatap dengan horor telapak tangannya sendiri.

"Apa yang baru saja kaulakukan?!" Sakura tak dapat mengontrol suaranya sendiri saat berbicara. Dengan rasa takut dan ngeri yang masih kentara, ditatapnya Sasuke yang kini mendekati jasad yang kepalanya sudah hancur.

Sakura merasa napasnya berderu kencang. Perutnya bergejolak. Sekuat tenaga ia menahan rasa mual yang berusaha mendorong keluar.

"Kau sudah membunuhnya ...." suaranya bergetar.

Sasuke berjongkok, tangannya terulur, mengambil sebuah senjata api yang tersembunyi di saku pelayan itu, "Asal kau tahu, Sakura," kemudian dia bangkit dan berjalan mendekat.

Perempuan berambut merah muda itu melangkah mundur menjauhi Sasuke. Kejadian di kamar beberapa saat lalu kembali terulang di kepalanya. "A-apa?" Sakura lagi-lagi berada dalam posisi terjepit.

Sasuke melangkah semakin dekat. Tiap langkahnya bagai menarik setiap embusan napas Sakura, apalagi dengan pistol yang berada digenggamannya. Ia tak berdaya.

Sakura tercekat saat punggungnya bersentuhan dengan dinginnya dinding. Sasuke menyunggingkan senyum miring, mengunci mata tajamnya pada perempuan itu. Sakura menahan napas ketika tubuhnya terjebak di antara kedua tangan Sasuke.

Ia membatu.

"Kau tidak tahu pria seperti apa aku, atau apa yang dapat kulakukan untuk mewujudkan semua keinginanku," Sasuke mencondongkan badan lebih dekat hingga hidungnya hampir bersentuhan dengan milik Sakura.

Jantung Sakura berdetak semakin kencang. Sampai dia merasa bahwa Sasuke bisa mendengar seberapa kencang debarannya, karena sekarang kekehan pria itu menguar indah. Napas hangatnya mengusap halus permukaan wajah Sakura.

Sasuke mendekatkan bibirnya pada telinga perempuan di depannya, "Kecuali jika kau ingin membangunkan monster itu, kusarankan kau untuk menyimpan segala pertanyaan dan rencana cerdasnya bagi dirimu sendiri. Karena aku akan dengan senang hati menghukummu, dengan tanganku sendiri," bisiknya. Membuat bulu-bulu halus di sekitar tengkuk Sakura berdiri.

Ia sekarang mengerti maksud Ino, dan Sasuke baru saja memberi contoh nyata di depan matanya.

Tangan Sasuke yang dipenuhi noda darah terangkat, membelai pelan pipi Sakura. Lelaki itu menjauhkan wajahnya dari telinga perempuan itu. Pandangannya kini terarah pada bibir merah muda Sakura.

"Aku dapat memikirkan banyak cara untuk menghukum mulut pintarmu itu. Banyak, banyak sekali. Jangan berpikir aku tidak akan berani melakukannya," kemudian bibir tipis Sasuke bersentuhan dengan bibir Sakura, mengecupnya dengan lembut.

"Karena aku bisa melakukannya, dengan sangat baik."

Lalu, Sasuke mundur. Memerhatikan Sakura yang nampaknya masih tidak percaya dengan hal yang baru saja terjadi.

Dia--Uchiha Sasuke baru saja menciumnya?

Sakura menatap Sasuke tepat di matanya. Tatapannya seolah berkata bahwa hal yang baru saja terjadi tidaklah nyata. Tanpa sadar tangan Sakura terangkat, memegang bibirnya yang sudah mendapatkan pengalaman pertamanya. Sweet.

Red SerenadeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang