warning: terdapat adegan kekerasan yang cukup intens. silakan di-skip apabila kalian merasa tidak nyaman.
Suasana mencekam yang disertai nyala lampu temaram menyambut setiap langkah Sai ke dalam ruang bawah tanah mansion Uchiha. Bau amis darah dan keringat yang menyengat hidung tidak membuatnya merasa jijik ataupun mual sebab hal-hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari baginya.
Ditangannya terdapat sebuah folder berwarna merah berisi berkas-berkas penting yang telah dicarinya sejak beberapa hari lalu.
Sai mendekat kepada Sasuke yang tengah berdiri tegap di tengah ruangan dengan sebuah pisau bernoda darah di genggaman tangannya. Pria Uchiha itu menatap dingin dua orang anggota Senju-kai yang berhasil mereka tangkap secara hidup-hidup ketika ledakan di Cloud9 Bar terjadi.
Wajah keduanya kini tak lagi berbentuk. Tubuh mereka sudah dipenuhi oleh lebam dan sayatan pisau, beberapa sudah terlihat mengering, ada juga yang mulai mengalami infeksi. Tidak sedikit pula gigi mereka yang rontok akibat tinju mentah para anggota Uchiha-gumi.
Keadaan mereka bisa dikatakan sangat mengenaskan, sampai-sampai Sai merasa cukup takjub keduanya masih bisa bernapas. Meskipun kali ini ia merasa tidak yakin mereka berdua bisa melihat hari esok, sebab kali ini sang iblis sesungguhnyalah yang akan mengantarkan mereka langsung ke depan pintu gerbang neraka.
"Saya sudah mendapatkan semua yang ada minta, Tuan," Sai memberikan folder merah itu pada Sasuke.
Pemimpin Uchiha-gumi itupun membaca setiap kata demi kata yang tertulis di lembaran dokumen tersebut. Kemudian sebuah seringai bengis terbit di wajah tampannya.
"Tidakkah kalian penasaran dengan apa yang tertulis di sini?" tanyanya main-main.
Hanya geraman samar yang menjadi respon dari perkataan Sasuke, hingga ia pun kembali melanjutkan perkataannya, "Aku kira kalian sangat peduli terhadap nyawa orang-orang terkasih kalian ini, tapi sepertinya tidak, ya ...."
Lalu Sasuke kembali menambahkan, "Oh, aku baru tahu kalau putri bungsumu akan berulang tahun di bulan depan, Akemi."
Kuga Akemi membelalakkan mata kaget, "T-t-tidak, jangan sakiti keluargaku ...!" ia berujar cepat namun artikulasinya tidak begitu jelas karena beberapa giginya sudah hilang.
Sasuke membanting folder yang digenggamannya ke lantai, kemudian dengan cepat menerjang Akemi dan menancapkan pisau kecil yang sedari tadi dipegangnya ke telapak tangan pria manyedihkan itu. "Kalau begitu berhenti membuang waktuku dan katakan semuanya!" sentak Sasuke sambil terus menekan pisaunya semakin dalam.
Akami membalas lemah di tengah erangan kesakitannya, "Aku s-sudah mengatakan semua yang k-kutahu."
Sasuke mendengus.
"Belum. Aku belum mendapatkan informasi yang paling pentingnya."
Sang Uchiha pun akhirnya menjauh, membiarkan pisau kecilnya tenggelam di tangan Akami.
"Ambil pisau lagi untukku, masih ada satu tikus menyedihkan yang harus aku urus," titah Sasuke pada Sai. Yang kemudian ditanggapi dengan cepat oleh bawahannya itu.
"Ini, Tuan."
Sasuke mengambil benda tajam tersebut, lalu berjalan mendekati seorang pria yang menduduki kursi tawanan di samping Kuga Akami. Ia mencondongkan kepalanya ke dekat telinga lelaki itu, "Bukankah istrimu sedang hamil, Jiro?" bisiknya pelan. Kemudian Sasuke kembali berdiri tegap, memandang remeh tawanan di hadapannya.
Pria yang bernama Jiro itu mendecih, iris kecokelatannya memandang tepat kedua mata Sasuke yang berpendar merah. "Aku tidak peduli dengan apa yang akan kaulakukan ataupun segala ancamanmu itu," geramnya marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Serenade
FanfictionDia terkutuk. Sesuai dengan apa yang diucapkan oleh wanita itu, bayi laki-lakinya terkutuk. Fugaku tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan pada bayi laki-laki tersebut. Haruskah ia membunuhnya? Tapi, ramalan berkata bahwa bayi ini akan membawa kes...
