Tragedi

183 11 0
                                        

Mengingatkan kembali bahwa ini hanya cerita fiksi hasil karangan saya sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata dari setiap tokoh yang ada dalam cerita.

Jadilah pembaca yang bijak !!
Selamat Membaca♡










"Njun, hari ini harus ambil undangan yang udah jadi kan?"

"Oh iya, aduh tapi Njun gak bisa pulang cepet kayaknya."

"Tokonya gak bisa nunggu loh, cuma sampe jam dua siang "

Mata Renjun ngebola, dia natap ibunya seolah meminta bantuan.

"Ibu gak bisa bantu ambilin, ada yang harus ayah sama ibu urus secepetnya."

"Yahhh~" Seru Renjun lemas. "Njun paling cepet pulang jam empat sore, kak Shohei juga masih diluar kota."

Winwin natap anaknya iba, terus dia ngelirik satu anaknya lagi yang nampak tidak terganggu dengan obrolan dimeja makan itu.

"Adek, bisa kan tolong ibu?"

Gerakan Shotaro berhenti, dia natap manik lembut lelaki yang barusan bertanya.

"Kenapa?"

"Kenapa apa, sayang?" Bingung Winwin.

"Kenapa harus Taro? Kenapa semua hal diacaranya Njun harus ngelibatin Taro? Kenapa semua tentang Njun boleh dan Taro gak boleh? Kenapa..."

"Adek." Lirih Winwin.

"Kenapa Taro gak boleh ini itu? Kenapa Taro gak bisa jalanin apa yang Taro mau? Kenapa sikap kalian berbeda buat Taro sama Njun? Kenapa Njun selalu boleh dan Taro gak boleh? Kenapa? Kenapa? Apa kalo Taro ngelakuin keinginan sendiri, bakal cepet mati?"

"SHOTARO."

Renjun terkesiap, ini kali pertamanya dia melihat dan mendengar suara keras dari ayahnya. Belum lagi, raut marah yang sangat menyeramkan.

Trang

"Shotaro, selesai."

"Taro, nak." Winwin berusaha ngejar sang anak, sedangkan Renjun masih membatu dengan keadaan yang ada.

Semua kejadian tadi pagi, benar-benar masih terekam jelas diingatan si calon pengantin ini. Raut sedih dan semua pertanyaan kembarannya, benar-benar menghantui ingatan Renjun.

Sekarang dia jadi mempertanyakan banyak hal, apa iya kedua orangtuanya membeda-bedakan sikap pada mereka? Tapi kok, Renjun gak ngerasa yah?

Suasana kacau tadi pagi terjadi hanya karena harus ngambil undangan pernikahan dia doang, tapi efeknya sampai sekarang.

"Wohooo... Ada orang?" Renjun mengerjap, dia nepuk tangan YangYang didepan mukanya.

"Hish, nyebelin."

"Lagian ngelamun mulu, ngapa dah?" Bingung YangYang.

"Ada problem di persiapan lo?" Tanya Haechan.

"Halah, masalah cekcok soal persiapan mah udah biasa. Namanya juga mau nikah, makanya tuh orang suka ada yang bilang 'lancar yah sampe hari H' nah itu, harus diaminin !! Soalnya cobaan dan godaan menjelang pernikahan tuh beuhhh, mantab." Seru YangYang sebagai orang yang sudah melewati hal itu.

RUMAHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang