Terungkap

167 10 0
                                        

Mengingatkan kembali bahwa ini hanya cerita fiksi hasil karangan saya sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata dari setiap tokoh yang ada dalam cerita.

Jadilah pembaca yang bijak !!
Selamat Membaca♡







Yuta paniknya sampe mati rasa pas dapet telepon dari Sungchan, gak pake lama dia langsung ke RS yang dikasih tahu.

Walaupun baru banget pulang dari toko, tapi lelaki itu lebih memilih lupa pada rasa capek nya.

Dibelakang Yuta, Winwin juga udah gusar banget. Keduanya jalan kearah kamar yang ditanyakan tadi, soalnya emang belum dipindahin.

"Sungchan."

Orang yang dipanggil langsung noleh, terus sedikit ngebungkuk. "Malem om." Sapanya sopan.

Yuta ngangguk singkat, nafasnya masih memburu. "Gimana?"

"Tadi dokter nya udah keluar, cuma karena belum ada pihak keluarga jadinya belum dikasih tahu."

"Kenapa gak ke kamu aja?" Tanya Winwin.

Sungchan senyum tipis. "Saya kan orang asing om, istilah temen aja gak ada artinya di RS."

Yuta gak tahu ada maksud apa dari ucapan sosok itu, tapi yaudahlah. Sekarang dia masih gak tenang, dari tadi bibirnya dia gigit buat gak keliatan resah.

Gal lama, pintu UGD didepan mereka langsung kebuka dan membuat jantung Yuta makin gak tenang.

"Gimana kondisi anak saya Dok?" Tanya Yuta.

Sungchan cuma diem paling belakang, bukan gak khawatir tapi emang posisi dia orang asing, jadi yah gak ada hak lah.

Selagi memperhatikan, perlahan Sungchan mulai menceklis satu persatu dugaannya tadi. Ternyata memang benar, semua gejala yang dia lihat itu ternyata betul adanya.

"Apa pasien pernah seperti ini?"

Yuta ngangguk. "Waktu SD, dan saya gak pernah liat dia separah ini lagi." Dokter nya ngangguk.

"Sepertinya pasien tengah dibawah tekanan atau sedang dalam masa stress nya, mohon untuk selalu dipantau yah !!"

Yuta sama Winwin ngangguk, mereka lanjut ngobrol tentang hal lain sama Dokter itu sedangkan Sungchan perlahan duduk kembali.

Membuka ponselnya untuk menanyakan sesuatu pada sosok yang dia kenal, sesekali manik rusanya melirik pada percakapan yang masih berlangsung.

Bahasan tentang cara pengobatan yang tepat, obat yang bisa diberikan dan yang terakhir adalah soal lamanya masa perawatan. Semuanya Sungchan dengar jelas, dia hanya tidak ingin terlihat ikut campur.

"Sungchan."

Akhirnya dia mendongak, menatap sosok lembut yang memanggilnya barusan.

"Iya om?"

"Kamu tadi lagi bareng sama Taro pas kejadian?"

Sungchan ngegeleng. "Enggak om, hari ini jadwal kantor lagi senggang. Pas mau di ajak makan siang bareng, kak Taro bilang gak bisa dan saya ngiranya dia pulang." Jawab Sungchan.

RUMAHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang