Chapter 4

136 47 9
                                        

Suara burung yang saling bersahutan menyambut datangnya pagi, beriringan dengan cahaya matahari yang perlahan menyelinap masuk melalui celah gorden, menerangi kamar yang sejak semalam tak pernah benar-benar gelap.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.30 WIB. Di depan meja belajarnya, Anya masih duduk bergeming dengan rambut berantakan dan sepasang mata yang memerah akibat begadang.

Sejak semalam ia nyaris tak memejamkan mata. Tatapannya terus terpaku pada layar laptop yang dipenuhi halaman berita dan media sosial. Jemarinya bergerak cepat menekan tombol keyboard, membuka satu tautan demi satu tautan secara impulsif.

"Lho... kok nggak ada?" Matanya mebelalak tak percaya. Ia kembali mengetik kata kunci yang sama dengan gerakan terburu-buru.

Kecelakaan siswi SMA.
Tabrak lari semalam.
Luna.

Namun, hasilnya tetap nihil. Video amatir yang tadi malam sempat viral mendadak lenyap tanpa jejak.

Bibir Anya mengatup rapat, ada rasa dingin yang mendadak menjalar di tengkuknya. "Nggak mungkin..." Tangannya bergerak semakin cepat, me-refresh halaman yang sama berkali-kali, lalu berpindah dari satu platform ke platform lain.

Hasilnya tetap sama. Bersih. Seolah-olah tragedi berdarah semalam tidak pernah terjadi di dunia ini.

"Bangsat." Anya menyandarkan tubuh ke sandaran kursi dengan kasar, lalu mengacak rambutnya frustrasi. "Semalem jelas-jelas trending.... Sekarang malah hilang semua?"

Tatapannya kembali menajam, menguliti layar laptop yang memantulkan bayangan wajah lelahnya. "...Ada yang sengaja ngapus." Kalimat itu keluar hampir tanpa sadar. Bulu kuduknya perlahan meremang. Kalau memang benar ada pihak yang mampu melenyapkan semua jejak digital hanya dalam hitungan jam... berarti pelakunya bukan orang sembarangan.

Anya menggigit bibir bawahnya pelan. "Tunggu..." Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping laptop. "Apa gue telepon Luna aja?" Jempolnya berhenti tepat di atas nama kontak Luna.

"...Tapi kalau dia masih belum sadar?" Helaan nafas terdengar dari suaranya. "Ah... daripada cuma nebak-nebak."

Ia nekat menekan tombol panggil. Nada sambung mulai terdengar statis memenuhi keheningan kamar.

Tut...

Tut...

Tut...

Ia menggigit ujung kukunya tanpa sadar.

Satu kali... dua kali.... lima kali... sepuluh kali. Hingga panggilan itu terus berdering tanpa jawaban.

Anya kembali mencoba, tetapi hasilnya tetap sama. Tak ada jawaban.

Ia memejamkan mata sesaat untuk meredam kecemasan sebelum akhirnya mengakhiri panggilan sepihak.

Ruangan kembali sunyi senyap. Beberapa detik berlalu tanpa suara, sampai akhirnya sudut bibir Anya perlahan terangkat tipis. Sebuah ide mendadak melintas di kepalanya. "Bener juga..."

Ia kembali membuka laptop. Kali ini bukan mencari berita. Melainkan...

Sekolah Angkasa Raya.

Identitas Tersembunyi Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang