Tidak ada yang berani kembali ke halaman belakang. Atas usul Anya, mereka semua sepakat mengunci rapat pintu kaca dan berkumpul di sofa utama. Suasana hening mendadak mengendap tebal. Udara AC terasa menyengat dingin, menyatu dengan sisa aroma tembaga samar yang terlanjur terbawa pakaian mereka.
Anya duduk di sudut sofa, memeluk kedua lututnya rapat-rapat. Jemarinya sengaja ia biarkan gemetar pelan, menunjukkan gestur remaja pada umumnya yang baru saja menyaksikan teror mengerikan di rumahnya sendiri.
Namun, di balik akting ketakutannya, otaknya bekerja pada kapasitas penuh.
Si pelaku tahu.
Kenyataan itu menghantam dadanya seperti pukulan telak. Robot mainan bermata satu dan berlengan putus di rumput tadi bukan sekadar rongsokan acak. Benda itu... mirip punya Luna semasa dulu.
Pelakunya tidak hanya meneror, tapi juga secara terang-terangan mengirim sinyal bahwa identitas asli Anya dan keberadaannya sudah terbongkar.
Anya harus tetap memegang kendali. Ia tidak boleh lepas kendali atau menunjukkan reaksi abnormal yang bisa memicu kecurigaan.
"Gue udah cek semua kunci pintu," ujar Natalie memecah keheningan, melangkah masuk dari arah lorong samping. Raut wajahnya tegang penuh pertimbangan. "Gak ada pintu luar yang jebol. Gerbang depan juga masih terkunci rapat dari dalam."
"Maksud lo...?" Salwa mendongak kaget dari balik lipatan tangannya, matanya yang sembap menatap Natalie tidak percaya.
"Maksud gue, orang luar bakal susah banget masuk tanpa bikin kegaduhan," lanjut Natalie pelan, menatap teman-temannya satu per satu. "Kecuali... dia udah punya akses dari awal."
Kalimat Natalie bagaikan menyulut api di dalam ruangan yang penuh gas.
Kiera, yang duduk bersedekap di sofa tunggal, mendadak menajamkan tatapannya. "Tunggu. Semalam pas kita semua tidur... ada yang keluar kamar gak?"
Pertanyaan menohok dari Kiera membuat atmosfer ruangan langsung turun beberapa derajat. Saling lempar tatapan curiga mulai terjadi secara liar.
"Maksud lo gimana, Kier?!" Salwa langsung memotong, suaranya meninggi karena refleks bertahan. "Lo mau nuduh salah satu dari kita yang ngelakuin hal gila itu?!"
"Gue gak nuduh siapa-siapa, Sal! Gue cuma nanya!" tembak Kiera tidak kalah tegas, walau nada suaranya bergetar menahan panik. "Kita berenam tidur di kamar yang sama. Pintu belakang dikunci dari dalam. Logikanya, gimana caranya itu dua bangkai kelinci sama robot tua bisa ada di sana kalau gak ada yang buka pintu?"
Suasana makin memanas. Di tengah keributan itu, Mika yang duduk di sebelah Nabila meremas pelan bantal di pangkuannya.
"Tapi..." suara Mika terdengar sangat pelan, nyaris berbisik dengan raut ragu. "Bukannya Nabila yang pertama kali di bawah, ya?"
Anya menatap Nabila dengan mata bulatnya yang lugu, seperti anak kecil yang cuma sekadar memvalidasi urutan kejadian. "Pas kita denger teriakan lo... lo emang baru banget sampe dapur, Bil?"
Semua mata seketika tertuju pada Nabila.
Pertanyaan polos darinya itu mendadak mengubah arah angin di ruangan. Nabila yang biasanya paling tenang dan dewasa di antara mereka mendadak membeku. Jemarinya bertautan kaku di atas pangkuan.
Wajah Nabila tampak pucat. Ia menatap Mika sejenak, lalu beralih menatap Anya dan Natalie yang mulai memandangnya dengan raut penuh selidik.
"Jangan ngasal deh, Guys! Ngotak dikit," sembur Salwa, langsung pasang badan membela Nabila. "Kalo dia pelakunya, ngapain coba dia pakai teriak histeris segala?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerSemua orang bilang itu hanya kecelakaan. Namun, Anya tak ingin mempercayainya. Setiap petunjuk yang ia temukan di sekolah ini, justru menggoyahkan semua hal yang selama ini ia yakini. Sebab, di balik wajah-wajah tanpa dosa, tersembunyi sesuatu yang...
