Langit pagi masih diselimuti semburat jingga ketika Anya menghentikan motor Ninja-nya tepat di depan gerbang Sekolah Angkasa Raya.
Untuk pertama kalinya, ia mengenakan seragam baru itu. Kemeja putih yang dipadukan dengan blazer biru tua melekat pas di tubuhnya, sementara jaket hitam dibiarkan menggantung santai di salah satu bahu. Rambut panjangnya sengaja digerai bebas, hanya sebagian kecil yang diselipkan ke belakang telinga.
Penampilannya benar-benar bertolak belakang dengan Luna yang selalu mengikat rapi rambutnya menjadi dua kuncir dan selalu tampil sederhana. Hari ini bukan sekadar hari pertama sekolah bagi Anya. Hari ini adalah awal misinya.
Begitu melangkah melewati gerbang, Anya berjalan santai menyusuri loby tanpa memedulikan pandangan orang-orang di sekitarnya. Sesekali beberapa siswa menoleh penasaran, tetapi Anya memilih tetap fokus mencari ruang guru.
Di sisi lain, tiga siswi yang sedang mengobrol mendadak menghentikan percakapan mereka begitu siluet Anya tertangkap mata.
"Eh..." Kayla menepuk lengan Gea pelan. "Itu anak baru, ya?"
Gea ikut menoleh, menatap jeli pada arah tersebut. "Nggak tahu. Perasaan kemarin nggak ada deh."
Kayla justru berbinar kagum, tanpa memperdulikan Shitnya yang berdiri di sebelahnya. "Buset... cakep banget anjir."
Kalimat polos Kayla sukses membuat wajah Shintya langsung berubah masam. "Cakep apanya?" decaknya sinis sambil melipat tangan di depan dada. "Paling juga anak pindahan yang modal tampang doang."
Menyadari situasi yang mendadak dingin karena ucapannya, Kayla terkekeh canggung. "Eh... bukan gitu maksud gue, Shin. Lo tetep nomor satu kok di Angkasa Raya."
Shintya mendecak pelan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung melangkah lebar memotong jalur berjalan Anya. Dan dua temannya tadi, Gea dan Kayla saling pandang sejenak sebelum berlari mengekor di belakangnya.
Saat jarak mereka tinggal dua langkah, Gadis itu membenturkan bahunya cukup keras ke bahu Anya.
"Mata lo taro mana sih?!" ketus Shintya duluan, sama sekali tanpa rasa bersalah.
Anya menghentikan langkahnya secara mendadak. Matanya membulat sempurna, menatap Shintya dengan ekspresi tak percaya yang dibuat-buat, sebelum tatapannya turun melirik bahunya yang barusan ditabrak.
Dengan gerakan super lebay, ia menepuk-nepuk bagian itu berkali-kali seolah-olah baru saja ketumpahan virus mematikan.
Anya berkacak pinggang, lalu mendengus geli. "Kurang ajar, katarak nih bocah," cibirnya tanpa beban. "Elo yang maju nabrak gue kayak banteng, malah gue yang disalahin. Waras lo?"
Tanpa memedulikan Shintya yang wajahnya sudah memerah padam menahan malu, Anya sengaja menyenggol balik lengan Shintya dengan gaya petantang-petenteng andalannya, lalu melenggang pergi menuju ruang guru.
Shintya mematung di tempatnya selama beberapa detik, syok berat karena baru pertama kali ada murid baru yang berani mengatainya katarak di depan umum.
Ketika kesadarannya kembali, ia langsung berbalik dengan napas memburu. "Heh, bangs-"
"Shin, udah, Shin! Malu dilihatin orang," bisik Gea panik sambil buru-buru menahan lengan Shintya yang sudah bersiap mengejar Anya.
Kayla ikut menelan ludah ngeri-ngeri sedap. "Gila... tuh anak baru nyalinya ditaro di mana, ya? Berani banget ngatain lo."
"Songong banget gaya tuh bocah!" desis Shintya tajam, suaranya bergetar menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.
Sementara itu, Anya melangkah santai meninggalkan area lobby utama dan mulai memasuki koridor kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Misteri / ThrillerSemua orang bilang itu hanya kecelakaan. Namun, Anya tak ingin mempercayainya. Setiap petunjuk yang ia temukan di sekolah ini, justru menggoyahkan semua hal yang selama ini ia yakini. Sebab, di balik wajah-wajah tanpa dosa, tersembunyi sesuatu yang...
