Kicauan jangkrik terdengar samar di kejauhan, langit malam dihiasi bintang-pintang yang berkelap-kelip. Udara malam terasa segar dan sejuk.
Suara mesin mobil disusul suara motor mulai memasuki gerbang rumah Anya.
Pukul tujuh malam. Bunyi pintu yang terbuka memecah kesunyian, teman-temannya kembali dengan koper-koper berisi baju tidur dan seragam sekolah, membawa energi yang menambah keceriaan malam yang cerah berbintang.
Sosok pertama yang menyembul dari balik pintu adalah Mika dengan cengiran lebarnya yang khas. "Permisiiii! Pasukan pengacau dateng!" seru Mika heboh, tangan kanannya sudah siap menggenggam sebuah tripod lipat.
Plak!
Salwa yang berjalan tepat di belakangnya langsung menyolek gemas bagian belakang kepala Mika. "Malu-maluin banget sih."
Natalie yang menyusul di belakang mereka langsung tertawa lepas, tangannya sibuk menjinjing tas kain besar berisi camilan. "Masuk dulu woy! Jangan berantem di ambang pintu, tetangga Anya ntar ngira kita mau demo."
Berbeda dengan trio heboh di depan, Nabila melangkah masuk dengan sangat tenang. Ia langsung melepas sandalnya dengan rapi di dekat rak. "Sepatunya ditaruh yang rapi ya, Guys. Rumah orang ini."
Kiera yang berjalan paling belakang sambil memeluk laptop di dadanya hanya bisa mengembus napas lelah, matanya langsung menilai tata letak ruangan. "Bil... kita baru juga masuk, lo udah mode ibu kos aja. Dan ini barang-barang taruh di mana, Nya?"
Anya yang berdiri di dekat tangga hanya bisa tersenyum tipis melihat pemandangan itu. Rumahnya yang biasa sedingin es batu mendadak terasa hangat dan penuh warna dalam hitungan detik. "Ayo langsung ke kamar gue aja di atas."
Begitu mereka berenam sampai di kamar tidur Anya yang luas, ritual wajib girls night langsung dimulai, pertama membuka koper. Anya hanya bisa berdiri termangu di dekat pintu, memperhatikan isi bawaan teman-temannya yang mulai berserakan di atas karpet bulu.
"Bentar... ini kalian mau nginep semalem apa mau pindahan rumah?" tanya Anya heran, dahinya berkerut menatap tumpukan barang di depannya.
Bagaimana tidak? Salwa mengeluarkan satu tas khusus yang isinya murni skincare dari berbagai merek terkenal. Nabila mengeluarkan dua piyama sutra bermotif lucu yang terlipat sangat rapi beserta sisir dan charger yang digulung estetis. Kiera dengan serius meletakkan laptopnya di atas meja belajar Anya, siap mengorganisir jadwal malam ini. Sementara Natalie sibuk mengeluarkan tumpukan camilan asin dan manis dari tas kainnya.
Mika sendiri sibuk merakit tripod dan mengeluarkan sebuah kamera mirrorless saku hitam yang desainnya tampak sangat mewah dan mahal.
"Guys, kita room tour dulu gak sih? Say hi dulu ke kamera gue!" seru Mika, langsung mengangkat kameranya tinggi-tinggi, lalu memutarnya perlahan untuk merekam sekeliling kamar tidur Anya.
Jantung Anya mendadak mencelos. Tatapannya bergerak cepat mengikuti arah lensa kamera Mika yang bergerak menyapu dinding kamar. Kamera itu sempat berhenti selama dua detik tepat di hadapan deretan panel kayu dekoratif yang menempel di dinding sudut ruangan.
Anya menahan napasnya dalam-dalam. Di balik panel kayu yang tampak estetis dan biasa saja itu, ada sebuah pintu rahasia menuju ruang investigasinya, yang lubang kuncinya tersembunyi sangat rapat di celah tipis antar-panel. Beruntung, desain panelnya benar-benar presisi, menyatu sempurna dengan dinding kamar tanpa menyisakan celah sekecil pun. Benar-benar tidak ada yang notice kalau di balik itu ada pintu lagi.
Salwa refleks menepis pelan lensa kamera Mika yang mulai mendekat ke arahnya. "Matiin kamera lu, Mik. Muka gue kucel banget baru nyampe."
Anya diam-diam mengembusan napas lega yang tertahan di tenggorokan, melangkah sedikit menjauh dari area dinding tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Misteri / ThrillerSemua orang bilang itu hanya kecelakaan. Namun, Anya tak ingin mempercayainya. Setiap petunjuk yang ia temukan di sekolah ini, justru menggoyahkan semua hal yang selama ini ia yakini. Sebab, di balik wajah-wajah tanpa dosa, tersembunyi sesuatu yang...
