Chapter 17

55 28 4
                                        

Di balik kulit putih Natalie, seulas warna keunguan yang pekat terpampang jelas.

"It's okay, Nat, tenang aja," sahut Kiera menenangkan, membuyarkan fokus Anya.

Gadis itu menerima uluran tisu dari Natalie dengan senyuman maklum. "Cuma sedikit kok, tinggal ditutul-tul pake tisu basah juga ilang. Untung nggak kena sejambret."

"Aduh, sori banget ya, Kier," cicit Natalie dengan wajah bersalah.

Anya menarik napas pendek lalu mendengus remeh. "Makanya, Nat, mending tangan lo disakuin aja sekarang sebelum lo beneran ngerubuhin stan kantin ini," ucapnya sembari buru-buru menarik kembali lengan seragam Natalie ke bawah hingga menutupi pergelangan tangannya.

Gerakan sengaja yang penuh proteksi itu membuat Natalie tersentak pelan. Sembari mengunci mulutnya rapat-rapat, Natalie menatap Anya dengan sorot mata penuh terima kasih yang tersamarkan.

Mika terbahak mendengar gerutu Anya. "Galak amat lo, Nya. Nggak apa-apa, Nat, selow sama kita mah."

Sementara itu, Nabila bergerak mendekat, membantu menyeka sisa saos di rok Kiera dengan tisu basah hingga noda merah itu perlahan memudar.

Setelah kehebohan kecil itu mereda, mereka kembali melanjutkan makan siang diiringi obrolan ringan. Natalie mulai merasa nyaman sesekali menanggapi candaan Mika dan Salwa, meski kali ini ia menjadi jauh lebih berhati-hati dalam menggerakkan tangannya.

Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi dan seluruh murid kembali ke kelas. Jam pelajaran terakhir berjalan seperti biasa, diisi penjelasan guru yang panjang dan suara spidol yang sesekali berdecit di papan tulis.

Di sela-sela pelajaran, Anya sempat beberapa kali melirik Natalie yang tampak asyik mencatat, memastikan gadis itu baik-baik saja dan rahasianya tetap aman.

Tanpa terasa, waktu terus bergulir hingga matahari mulai condong ke barat. Bel panjang tiga kali akhirnya berdentang nyaring, memecah suasana kelas dan disambut sorak lega para siswa yang tak sabar menyambut waktu pulang.

Mereka segera membereskan tas dan berbaur dengan arus murid yang mulai memenuhi koridor menuju lobi depan.

Keramaian koridor masih dipenuhi suara tawa dan obrolan murid-murid yang berlalu-lalang. Mika sibuk memperlihatkan video lucu di ponselnya hingga membuat Salwa dan Kiera berkali-kali tertawa, sementara Natalie sesekali ikut menimpali dengan komentar recehnya, membuat Nabila ikut tersenyum geli melihat tingkah mereka.

Tanpa disadari siapa pun, langkah Anya perlahan tertinggal beberapa meter di belakang mereka.

Tepat saat itulah pandangannya tanpa sengaja bergeser ke arah ruang tata usaha.

Seorang pria berdiri di depan meja administrasi, berbincang pelan dengan salah satu staf sekolah. Lengan kemejanya tergulung rapi hingga siku. Posturnya masih sama. Bahunya tetap tegap seperti yang selalu terekam di dalam ingatan Anya. Bahkan suara berat yang samar terdengar di sela riuh koridor itu... tak sedikit pun berubah.

Langkahnya seketika berhenti. Jantungnya... seperti lupa cara berdetak.

Tepat ketika pria itu memutar tubuh, sepasang manik mata mereka bertemu, dalam sekejap, seluruh riuh di koridor menghilang begitu saja. Tawa teman-temannya, langkah kaki murid yang berlalu-lalang, bahkan derit pintu kelas seolah ditelan oleh kehampaan yang sunyi. Pandangan Anya menyempit, mengaburkan sekelilingnya.

Identitas Tersembunyi Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang