Sisa ketegangan semalam masih terasa jelas di tengkuk Anya yang kini berdenyut nyeri. Meskipun semalam rumahnya diobrak-abrik, pagi ini Anya menolak untuk absen sekolah.
Lamunannya buyar ketika pintu kelas mendadak diketuk dari luar.
"Pagi, anak-anak," sapa Pak Reza ramah. Senyumnya yang tenang langsung mencairkan suasana kelas yang tadi sempat riuh.
Sapaan itu langsung dibalas dengan kompak oleh seisi kelas. Sebagai wali kelas yang dikenal santai dan dekat dengan murid-muridnya, kehadiran Pak Reza di jam pertama selalu berhasil membawa energi positif ke dalam ruangan.
Setelah suasana menjadi lebih tenang, Pak Reza menatap siswa-siswinya dengan senyum penuh arti. "Nah, hari ini kita kedatangan dua murid pindahan baru yang akan bergabung di kelas kita. Mari kita sambut mereka dengan baik."
Deg.
Pintu kelas bergeser terbuka. Dua sosok melangkah masuk dengan aura yang langsung menyedot perhatian seisi ruangan. Natalie berjalan di depan dengan dagu terangkat dan cengiran lebar, sebelah tangannya melambai santai ke arah deretan bangku bak seorang selebriti di atas red carpet.
Sementara di belakangnya, Leo berjalan dengan langkah tegap yang tenang. Pandangannya lurus ke depan dengan ekspresi datar yang tidak terbaca, memancarkan kepercayaan diri penuh tanpa perlu banyak bertingkah.
"Silakan perkenalkan diri kalian," pinta Pak Reza.
Keduanya saling melirik sekilas. Natalie langsung mengambil inisiatif maju satu langkah ke depan kelas.
"Hai semua! Kenalin, nama gue Natalie Karenina. Panggil aja Nata," sapanya dengan nada suara yang nyaring dan ekspresif. Ia mengibaskan rambut panjangnya dengan gerakan dramatis yang penuh energi.
Setelah Nata mundur dengan senyum yang masih mengembang, giliran lelaki di sampingnya yang maju. Leo merapikan letak dasinya dengan sekali gerakan kasual, lalu menatap seisi kelas dengan santai.
"Gua Leo Danendra. Salam kenal," ucapnya singkat dan bernada rendah, ditutup dengan anggukan kepala yang tegas.
Di bangkunya, Anya mematung. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih kencang. Ia sampai mengucek matanya berulang kali, memastikan indra penglihatannya tidak sedang eror akibat kurang tidur semalam.
Tapi tidak, sosok di depan kelas itu benar-benar mereka. Dua manusia yang paling ia kenal dari sekolah lamanya. Anya membeku di tempat, dengan bibir yang sedikit terbuka tanpa bisa mengeluarkan kata. Gila. Ngapain mereka berdua bisa nyasar ke sini?
Tak jauh dari bangku Anya, Samuel yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik gadis itu langsung menyipitkan mata. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan, mendadak merasa terusik melihat bagaimana fokus Anya langsung tersita penuh oleh kehadiran murid baru tersebut.
Di sisi lain kelas, efek pembawaan Leo langsung bekerja. Bisikan-bisikan tertahan mulai ramai terdengar di barisan siswi perempuan.
"Ya ampun, karismatik banget cowoknya..." bisik Kayla dengan mata berbinar. Leo yang sayup-sayup mendengar pujian itu hanya melirik datar ke arah jendela, mencoba menyembunyikan semburat merah tipis yang mendadak muncul di ujung telinganya.
"Oh ya, Bapak lupa," sela Pak Reza, menepuk jidatnya pelan. "Kalian berdua ini pindahan dari sekolah mana, ya? Biar teman-temannya tahu."
Seketika, Natalie dan Leo membeku bersamaan. Mereka sama sekali belum sempat menyamakan suara untuk menyembunyikan identitas asli sekolah mereka, Hanseong International Institute.
Di bangkunya, Anya langsung menegakkan punggung, menahan napas. Mampus... batinnya panik, mendadak punya firasat buruk.
"Kami dari SMA..." Natalie dan Leo angkat bicara secara berbarengan, lalu sedetik kemudian kata-kata selanjutnya keluar tanpa aba-aba.
"Handayani!" seru Natalie mantap.
"Hanoman!" sahut Leo tegas.
Suasana kelas mendadak hening seketika. Pak Reza berkedip bingung, sementara murid-murid lain saling pandang dengan kening berkerut.
"Hah? SMA Han... apa tadi?" tanya Pak Reza memastikan, garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Sadar kalau mereka baru saja melakukan kebodohan massal, Natalie langsung tertawa kaku untuk menutupi kepanikan, sementara Leo reflek memijat pangkal hidungnya, pura-pura batuk demi menyembunyikan rasa malu yang luar biasa. Harus banget ya gua sebut Hanoman? rutuk Leo dalam hati, menyesali kebodohannya sendiri.
"Maksudnya... SMA Handayani Hanoman, Pak! Itu... sekolah swasta gabungan, yayasannya emang agak unik namanya," dusta Natalie asal-asalan dengan senyum yang dipaksakan selebar mungkin.
Anya di tempatnya langsung menenggelamkan wajah ke meja, pura-pura pingsan saking malunya melihat kelakuan ajaib dua temannya itu. Bibirnya gemetar menahan geli karena Leo yang sok kalem itu secara sukarela mendaftarkan dirinya jadi murid pindahan dari sarang monyet purba.
Bukan cuma Anya, beberapa anak di barisan belakang yang menangkap kejanggalan itu juga mulai tertawa cekikikan. Suara tawa yang tertahan dari penjuru kelas itu sukses membuat telinga Leo semakin memerah menahan malu.
Pak Reza terkekeh pelan, mengangguk-angguk saja meski agak sangsi dengan nama sekolah sekte mana yang barusan disebutkan. "Oh, begitu... Unik sekali ya. Baiklah, terima kasih Natalie, Leo. Silakan kalian menempati kursi kosong yang ada di belakang."
"Terima kasih, Pak," sahut Natalie riang.
Setelah dipersilakan duduk, Natalie langsung melangkah cepat-cepat ke barisan belakang sambil menahan malu, disusul Leo yang berjalan kaku dengan pandangan lurus ke depan, pura-pura tidak mendengar tawa seisi kelas.
Begitu melewati meja Anya, Natalie sengaja melambatkan langkahnya. Ia mencondongkan tubuh, lalu berbisik dengan nada menyindir yang tertahan. "Puas lu ketawa?"
Leo yang mengekor di belakangnya mendengus jengah, mencoba mengembalikan sisa-sisa harga dirinya yang sudah tercecer di lantai. "Buruan jalan, nggak usah banyak tingkah lagi," bisik Leo dengan suara rendah, matanya melirik tajam ke arah Anya yang masih asyik meledeknya lewat tatapan mata.
Natalie mendengus kesal tanpa menoleh ke belakang. "Yeu, urusin dulu noh Hanoman lu!" ketusnya pelan, sebelum akhirnya menghempaskan tas ranselnya ke atas kursi kosong di baris belakang.
Di seberang meja, ada lengan yang terjulur menyenggol siku Anya pelan. Kening Salwa tampak berkerut penuh rasa penasaran, matanya berkedip-kedip memberi kode.
"Anya," bisik cewek itu setengah berdesis, mencondongkan tubuhnya ke depan agar suaranya tidak kedengaran Pak Reza. "Lo... kenal sama... mereka?"
Anya menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh ke arah Salwa dengan senyuman kecut yang dipaksakan. "Iya, mereka berdua... temen masa kecil gue."
"Ooh, pantesan," sahut Salwa, matanya melirik ke baris belakang di mana Natalie dan Leo masih sibuk adu argumen lewat tatapan mata.
**************
--See you on the next chapter! 🦢🤍--
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Misteri / ThrillerSemua orang bilang itu hanya kecelakaan. Namun, Anya tak ingin mempercayainya. Setiap petunjuk yang ia temukan di sekolah ini, justru menggoyahkan semua hal yang selama ini ia yakini. Sebab, di balik wajah-wajah tanpa dosa, tersembunyi sesuatu yang...
