Chapter 16

68 28 2
                                        

Setelah selesai mengobrol di bawah tribun, Anya, Natalie, dan Leo berjalan beriringan menuju kantin utama. Begitu masuk ke area kantin yang riuh dan dipenuhi aroma makanan, mata Anya langsung menangkap lambaian tangan Mika dari sebuah meja panjang di sudut ruangan. Di sana, Kiera, Salwa, dan Nabila juga sudah duduk menunggu.

"Lama banget nyusulnya, Nya. Eh... kok bisa barengan?" tanya Kiera heran, matanya bergantian menatap Leo dan Natalie yang berdiri di belakang Anya.

Anya menyahut santai sambil menarik kursi, "Iya, tadi pas jalan ke sini gak sengaja papasan di koridor. Karena searah, ya udah bareng aja."

"Oh, pantesan," sahut Kiera sambil mengangguk paham.

Nabila yang sejak tadi diam bersedekap, perlahan menggeser botol saos dan mangkuk kosong ke tengah meja dengan gerakan anggun. Ia menatap Anya dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Untung kamu cepet dateng, Nya. Tadi Kiera udah hampir pingsan kelaparan, gara-gara jamnya Pak Reza yang bikin emosi."

"Heh, mana ada!" protes Kiera tertawa, menyenggol bahu Nabila yang dibalas dengan kekehan pelan dari gadis itu.

Mika tiba-tiba berdiri dari kursinya sambil mengacungkan kartu debit black card dengan heboh. "Guys! Pokoknya hari ini kalian semua bebas pesen apa aja, gue yang traktir!"

"Serius lo, Mik? Wah, kesambet ape nih?" celetuk Salwa matanya langsung berbinar.

"Bokap baru transfer bonus karena konten vlog gue kemarin tembus satu juta views, jadi dompet gue lagi gemes banget hari ini!" seru Mika tertawa lebar, tampak sangat ceria dan bersemangat.

"Aseek! Pesen bakso sultan ah! Yuk, Nab, temenin gue pesen," ajak Salwa kegirangan, langsung menarik lengan Nabila. Sebelum berdiri, Nabila sempat melirik sekilas ke arah Anya dan meletakkan selembar tisu di depan tempat duduk Anya dengan perhatian yang terasa sunyi, lalu berjalan mengekor di belakang Salwa.

Anya menatap punggung kedua temannya itu yang mulai menjauh menuju deretan stan makanan. Ia tersenyum tipis melihat kehebohan mereka.

Namun, saat pandangannya beralih kembali ke ujung meja, ia sempat menangkap kilat mata Mika yang mendadak kosong selama beberapa detik saat menyebut kata "Bokap", sebelum gadis ceria itu kembali sibuk tertawa menanggapi celetukan Salwa dari kejauhan.

Kini, di ujung meja panjang yang agak lengang, Anya, Natalie, dan Leo sengaja duduk merapat. Begitu suasana di sekitar mereka dirasa cukup bising untuk menyamarkan obrolan, Natalie menyenggol lengan Anya dengan sikutnya.

"Nya," bisiknya pelan, nyaris tenggelam di antara riuhnya kantin. "Udah ada progres soal itu?"

Anya menggeleng tipis, matanya fokus menatap permukaan meja. "Belum ada yang valid. Semuanya masih abu-abu."

"Coba cek IG base sekolah," saran Natalie dengan volume suara yang sangat rendah. "Biasanya gosip atau info terselubung bermuaranya ke sana."

Anya mendesah pendek, ikut berbisik. "Udah kepikiran, tapi susah. IG base sekolah ini private banget. Apalagi buat murid baru kayak kita, bakal langsung dicurigain kalau tiba-tiba minta follow. Gue denger, kalau ada murid lama yang ketahuan bocorin akun itu ke anak baru, orangnya langsung di-blacklist dari pengikut."

Natalie mendengus remeh, tidak habis pikir. "Lebay banget aturan sekolah ini. Emang sepenting apa sih isi base-nya?"

"Lo mending jangan terlalu mencolok kalau mau cari info," timpal Anya memperingatkan lewat tatapan mata. "Mereka semua ini kayak puzzle. Kalau salah langkah sedikit, kita bisa dikucilin sebelum sempet nemu apa-apa."

Leo yang sedari tadi diam sambil menyesap es tehnya, tiba-tiba meletakkan ponselnya di atas meja. Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah akun Instagram dengan foto profil gelap, akun base yang baru saja mereka bicarakan.

Anya dan Natalie sontak menoleh, menatap layar ponsel itu dengan mata membelalak.
"Lo..." Anya menahan napas, menatap Leo dengan tatapan meminta penjelasan.

Leo hanya mengangkat bahu santai, wajahnya datar tanpa ekspresi berlebihan. "Gua cuma perlu waktu tiga menit buat cari celahnya. Account-nya emang di-private, tapi sistem keamanannya nggak seketat yang lo pikir."

Natalie menahan tawa, hampir tersedak minumannya sendiri. "Anjir, gercep banget lo."

"Jangan terlalu seneng dulu," potong Leo, menatap Anya serius. "Di dalam sini, lebih banyak sampah daripada informasi berguna."

"Dih, ada ordal lu, ye?" canda Natalie. Bibirnya tertarik lebar membentuk seringai jahil, sementara kedua alisnya naik-turun menggoda.

Tatapan Leo langsung beralih kepadanya. Lelaki itu menyipitkan mata tipis, lalu mendengus pelan. "Sembarangan."

Ia melirik sekilas ke arah jam dinding kantin sebelum mendorong kursinya ke belakang dan berdiri. Jemarinya merapikan lengan kemeja yang sedikit terlipat, lalu menyampirkan jaket seragam yang sejak tadi tergantung di sandaran kursi.

"Gua ke ruang seni dulu. Ada yang mau gua urus," ucapnya datar.

Anya mendecak pelan sambil melambaikan tangan asal. "Iya, iya. Sana, calon seniman."

Leo hanya menggeleng kecil, terlalu malas menanggapi celetukan itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik meninggalkan kantin dengan langkah tenang, membiarkan dua temannya tetap berada di meja.

Baru beberapa detik setelah sosok Leo menghilang di balik keramaian kantin, Kiera, Mika, Salwa, dan Nabila kembali ke meja dengan memegang nampan makanan. Meja panjang itu langsung dipenuhi suara obrolan yang saling bersahutan.

"Gila, antrean stan bakso sultan panjangnya kagak ngotak! Untung dompet Mika lagi tebel, jadi dimaafkan," seru Salwa heboh seraya meletakkan nampannya dengan hati-hati.

Mika tertawa lepas sambil mendudukkan diri. Ia mengibas-ngibaskan kartu debit hitamnya dengan dramatis. "Santai, mumpung bonus dari bokap masih anget. Habisin aja!"

Natalie yang berniat ikut berbaur dalam obrolan segera memajukan tubuhnya. Namun, gerakan lengannya yang kurang perhitungan justru menyenggol botol saus kaca di dekatnya. Botol itu sedikit bergeser dan menumpahkan sedikit cairan merah pekat, mengenai ujung rok putih Kiera.

"Eh, ya ampun! Kiera, sori! Sumpah, gue nggak sengaja!" seru Natalie panik. Berniat meredam kekacauan, jemarinya yang mendadak gemetar bergerak cepat menarik lembaran tisu di tengah meja.

Namun, akibat gerakan panik itu, lengan seragam Natalie sedikit tersingkap ke atas. Anya yang berada tepat di sampingnya langsung terpaku. Detik itu juga, pandangan Anya terkunci pada pergelangan tangan Natalie.

**************

--See you on the next chapter! 🦢🤍--

Identitas Tersembunyi Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang