Begitu ruang kelas mulai sepi dan tersisa beberapa anak yang sibuk dengan urusan masing-masing, Anya langsung berdiri. Ia melangkah tegap menghampiri meja paling belakang, lalu mengetuk permukaan meja kayu itu dengan buku jarinya.
"Ikut gue sekarang. Jangan banyak nanya," desis Anya mutlak, tidak menerima bantahan.
Natalie yang sedang merapikan poni langsung mendongak, sementara Leo hanya menaikkan sebelah alisnya. Tanpa bersuara, keduanya bangkit mengekor di belakang Anya. Mereka berjalan memutar menjauhi keramaian kantin utama, menyelinap masuk ke dalam gedung olahraga lalu menuju sisi bawah tribun lapangan basket indoor yang gelap dan sepi.
Tempat itu tertutup bayang-bayang struktur tribun, menjadikannya lokasi paling aman agar obrolan mereka tidak terendus murid lain.
Begitu sampai di area sepi itu, Anya langsung berbalik dan bersedekap dada. Ia menatap kedua orang di depannya dengan pandangan mengintimidasi.
"Jelasin ke gue. Ngapain kalian berdua nekat pindah ke sini? Mana nggak ada omongan sama sekali lagi," tembak Anya langsung pada intinya.
Leo memasukkan kedua tangannya ke saku celana, bersandar pada salah satu tiang besi penyangga tribun dengan gaya santai andalannya, mencoba membangun kembali sisa harga dirinya yang sempat luluh karena tadi pagi. "Ya... suka-suka kita dong. Lagian sekolah ini nggak ada larangan buat nampung murid ganteng kayak gua."
"Gue serius, Leo. Jangan becanda," potong Anya, tidak mempan dengan tampangnya. "Lo berdua nggak perlu sejauh ini sampai ikut nyasar ke sini. Pasti ada alasan lain, kan?"
Natalie tiba-tiba menyenggol lengan Anya sambil melirik Leo dengan senyum jahil. "Halah, Nya, kagak usah dengerin si gengsi ini. Bilang aja lo nggak bisa tenang kalau Anya jauh-jauh dari lo, kan? Pas lo mutusin pindah ke sini, dia yang paling uring-uringan ngajak gue buru-buru ikutan pindah."
"Mulut lo, Nat. Ngarang," potong Leo cepat, membuang muka demi menyembunyikan rona tipis di telinganya yang kembali muncul.
Cengiran di wajah Natalie perlahan luntur saat ia kembali menatap Anya. Raut wajahnya mendadak berubah serius, pancaran matanya memperlihatkan rasa cemas yang nyata di balik temaramnya kolong tribun. "Tapi gue serius, Nya. Gue takut lo berakhir kayak... Luna."
Suasana di bawah tribun itu mendadak hening seketika. Nama yang baru saja diucapkan Natalie seolah membawa beban berat yang tak kasat mata.
"Kita udah bareng bertahun-tahun. Lo pikir kita bakal bisa tenang aja di sana sementara lo di sini sendirian?" lanjut Natalie, suaranya sedikit bergetar namun penuh penekanan. "Nggak mungkin kita lepas tangan gitu aja. Kita di sini karena mau bantu lo cari tahu semuanya sampai tuntas."
Leo yang sejak tadi bersandar santai di tiang akhirnya berdiri tegak. Ia menatap Anya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan. "Makin banyak yang nyari, makin cepet selesai." Setelah jeda singkat, ia mendengus pelan lalu menambahkan, "Lo pinter... tapi jangan sok jadi Superman."
Anya terdiam. Lidahnya mendadak kelu untuk membalas ucapan mereka. Keraguan yang sempat membentengi hatinya perlahan runtuh, digantikan oleh rasa hangat yang merayap di dadanya. Mereka benar. Menghadapi misteri ini sendirian memang berat, dan kehadiran dua orang ini setidaknya bisa menjadi tameng tambahan.
Anya mengembuskan napas panjang, mencoba menyingkirkan sisa-sisa gengsinya. "Iya deh, iya. Tapi tetep aja, cara masuk kalian tadi pagi bener-bener merusak reputasi."
"Heh! Itu gara-gara si Hanoman ini!" tuding Natalie langsung menyenggol lengan Leo dengan kesal.
"Ya mana gua tahu lo bakal sebut Handayani," gerutu Leo, wajahnya kembali menekuk masam mengingat kejadian di kelas.
Anya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat mereka yang kembali adu mulut. Setidaknya, di balik konyolnya kelakuan Natalie dan Leo, Anya tahu mereka adalah orang-orang yang bisa ia percayai di tengah sekolah baru yang penuh teka-teki ini.
Namun, Anya juga harus tetap waspada. Di tempat yang baru ini, bahaya sesungguhnya mungkin sedang mengintai mereka dari balik bayang-bayang.
**************
--See you on the next chapter! 🦢🤍--
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerSemua orang bilang itu hanya kecelakaan. Namun, Anya tak ingin mempercayainya. Setiap petunjuk yang ia temukan di sekolah ini, justru menggoyahkan semua hal yang selama ini ia yakini. Sebab, di balik wajah-wajah tanpa dosa, tersembunyi sesuatu yang...
