Chapter 19

36 17 1
                                        

Perlahan, Leo mengembuskan napas lalu menyodorkan kembali kertas itu kepada Anya. "Lo pernah lihat kertas kayak gini sebelumnya?"

"Gue pernah dapet," gumam Anya sambil memandangi robekan kertas lusuh di tangannya. Jemarinya mengusap pelan lipatan yang mulai kusut, seolah berharap benda itu dapat memberinya jawaban. "Cuma... isinya beda. Yang itu masih gue simpen di laci."

Natalie yang semula hanya memperhatikan langsung menoleh cepat. "Jangan bilang... yang ngirim orang yang sama?"

Leo tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali jatuh pada tulisan yang masih memenuhi pikirannya. Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajahnya dan menatap Anya dengan sorot mata yang jauh lebih serius.

"Kalo emang orang yang sama..." ucapnya pelan, "...berarti ada yang tahu siapa lo."

Keheningan seketika kembali merayap, menyisakan kecemasan yang perlahan menyelimuti mereka bertiga. Anya menunduk, menumpu dahi dengan ujung jemari yang mendadak dingin. Pikirannya mendadak semrawut, dipaksa mengurai benang kusut dari semua kemungkinan gila yang baru saja melintas.

Beberapa saat kemudian, ia mengembuskan napas panjang. "Oh iya," katanya, berusaha mengalihkan pikirannya dari surat misterius itu. "Soal akun base IG yang kemarin... ada nemu apa?"

Leo menggeleng pelan. "Belum ada pergerakan."

Belum sempat mereka mendalami obrolan tersebut, sebuah lengkingan cempreng dari arah teras tiba-tibs menembus keheningan rumah, membuyarkan spekulasi di kepala mereka.

"Anyaaa!"

Panggilan itu sukses melempar ketegangan baru ke tengah ruangan.

"Loh..." Anya spontan menegakkan tubuh, menatap daun pintu dengan dahi berkerut. "Itu... suara Salwa?"

Natalie menahan napas sejenak, menajamkan pendengarannya. "Kayaknya iya deh." Kerutan di dahinya kian dalam saat ia menoleh pada Anya. "Emang dia tahu rumah lo?"

Anya menggeleng, mulai disergap kepanikan. Ada debar ganjil yang mendadak memburu di dadanya. "Harusnya enggak. Gue nggak pernah ngasih alamat rumah ini ke anak Angkasa Raya... selain kalian."

"Yaudah, samperin aja dulu," usul Leo, berusaha tetap tenang meski gestur tubuhnya kini ikut tegap waspada.

Gadis itu mengatupkan bibir tipis sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan. "Biar gue cek."

Dengan langkah tertahan, ia berjalan mendekati pintu depan, sesekali melirik ke belakang untuk memastikan kedua sahabatnya tidak beranjak dari tempat mereka. Ia mencengkeram gagang pintu dengan erat, mencoba menekan debar jantungnya sebelum menarik daun pintu tersebut.

Dari ambang teras, pandangannya langsung tertuju pada area luar pagar rumahnya. Di balik celah jeruji gerbang besi yang terkunci, Kiera, Mika, Salwa, dan Nabila tampak sedang merapat sambil berbisik-bisik.

Anya memaksakan segaris senyum tipis di bibirnya seraya melangkah membelah halaman teras. Begitu sampai di ujung halaman, tangannya langsung bergerak membuka selot gerbang dari dalam dan menggeser besi besar itu.

"Eh? Kok kalian tahu alamat rumah gue?" tanyanya seraya membukakan jalan, berusaha keras menekan getaran di ujung suaranya.

Kiera tersenyum hangat, bertumpu pada pagar yang sudah terbuka. "Gue nyari sendiri," jawabnya santai.

Identitas Tersembunyi Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang