Chapter 18

53 28 5
                                        

Gelas berisi air putih itu nyaris kosong ketika Anya meneguk sisa isinya. Wajahnya masih pucat, napasnya sudah jauh lebih teratur. Ruang tamu rumah itu dipenuhi keheningan yang terasa canggung. Tak ada satu pun dari mereka yang tahu harus memulai dari mana.

Natalie yang sedari tadi duduk merapat di samping Anya akhirnya memecah diam. Jemarinya mengusap bahu Anya lembut. "Lo udah mendingan, Nya?"

Anya hanya mengangguk samar, matanya menatap kosong ke dasar gelas.

Dari sudut dekat jendela, Leo hanya memperhatikan dalam diam. Sejak mereka sampai, lelaki itu berdiri bersandar di sana sambil mengetuk pelan kusen kayu dengan jemarinya, seolah sedang menimbang kalimat yang pas sebelum akhirnya menggeser pandangan lurus ke arah Anya.

"Minum lagi aja dulu," ucap Leo, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. "Nggak usah maksain diri."

Anya mendecak pelan. "Lo mau nyuruh gue minum segalon?"

Mendengar itu, Natalie spontan mendengus geli, sementara Leo hanya memutar bola matanya malas. Ketegangan yang tadinya mencekik perlahan mengendur.

"Boleh, kalau lo mau kembung," sahut Leo datar, melipat kedua tangannya di dada. "Senggaknya mulut lo udah bisa ngajak ribut lagi. Berarti nyawa lo udah balik."

"Sialan lo," umpat Anya lirih, tapi ada segaris senyum tipis yang dipaksakan di sudut bibirnya.

Natalie terkekeh kecil sambil merebut gelas kosong dari tangan Anya. "Gue isiin lagi deh. Tapi tenang, nggak bakal gue bawain segalon."

Begitu Natalie melangkah pergi ke dapur, menyisakan Anya dan Leo berdua, ruang tamu itu kembali disergap sunyi yang berbeda. Bukan lagi sunyi yang menegangkan, melainkan sunyi yang dipenuhi oleh banyak hal yang tak terucapkan di antara mereka.

Anya mendongak, menatap lurus pada Leo yang masih bergeming di tempatnya. "Leo."

Leo berdehem pendek tanpa mengalihkan pandangan, menunggu kelanjutan kalimat gadis itu.

"Makasih," ucap Anya pelan, ada jeda berat sebelum ia melanjutkan, "Yang tadi di lorong... dan karena udah bawa gue pulang ke sini."

Leo menggeleng, lalu mengibaskan satu tangannya di udara. "Nggak usah makasih. Gua nolongin lo karena lo temen gua. Jangan dibiasain aja."

"Siapa juga orang yang mau kambuh," sahut Anya ketus sembari memutar bola matanya.

"Yaudah," timpal Leo tenang. Ia melipat kedua tangan di dada sebelum menambahkan, "Jangan kejadian lagi. Usahain."

Mendengar itu, Anya langsung menatapnya datar. "Emang gue bisa milih?"

Leo terdiam sesaat. Ia membuang napas pendek, lalu menyahut lempeng, "Ya enggak. Makanya gua bilang usahain."

"Usahain apa sih kalian? Ribut mulu."

Suara Natalie tiba-tiba menyahut dari arah dapur, memotong perdebatan kecil itu. Gadis itu berjalan kembali menghampiri sofa sambil membawa segelas air baru dan sewadah penuh potongan buah di tangan lainnya. Keningnya berkerut penuh rasa penasaran karena hanya sempat menangkap potongan akhir obrolan mereka. "Anya tuh baru bisa tenang, diem deh, Le. Suara lo ngerusak gendang telinga."

Ting.

Ponsel di atas meja bergetar pendek. Anya spontan meraih benda itu, menatap layar yang menyala menampilkan deretan gelembung pesan masuk dari Samuel.

 Anya spontan meraih benda itu, menatap layar yang menyala menampilkan deretan gelembung pesan masuk dari Samuel

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Anya mendongak, menatap Natalie dengan kening berkerut bingung. "Nat, El nitip sesuatu?"

"Oh, iya!" Natalie menepuk pelan dahinya, seolah baru teringat sesuatu. "Tadi si Samuel sempet nitip cokelat buat lo."

"Samuel?" ulang Leo pelan. Kepalanya menoleh ke arah Natalie

Natalie mengangguk yakin. "Katanya buat nenangin kepala lo, Nya. Tadi dia buru-buru banget, jadi langsung gue selipin aja di kantong jaket lo." Gadis itu meraih jaket Anya yang tersampir di sandaran sofa, lalu menyerahkannya.

Anya menerima jaket itu dengan sisa rasa heran yang menumpuk. Jemarinya merogoh saku jaket itu hingga menyentuh sebungkus cokelat.

"Cokelat..." Sudut bibir Anya nyaris terangkat tipis. Namun, saat menarik tangannya keluar, ujung jarinya menyenggol selembar kertas kecil yang terlipat rapi di dasar saku.

Garis halus muncul di kening Anya. Sambil membolak-balik lipatan kecil itu di sela jarinya, ia bergumam bingung, "Ini... apa?"

"Ha? Apaan?" Natalie ikut mencondongkan tubuh hingga bahu mereka bersentuhan, matanya menyipit penasaran.

Perlahan, Anya membuka lipatan kertas tersebut. Dua kata di dalamnya seketika membuat dadanya mencelos. Ditulis dengan guratan tinta hitam yang tebal dan berantakan.

TOLONG AKU.

Keheningan mendadak mencekik ruang tamu. Leo segera mengambil kertas itu dari tangan Anya, matanya menelusuri setiap guratan tinta hitam di atasnya.

Wajah Natalie mendadak pias, matanya membelalak menatap robekan kertas itu lalu beralih ke saku jaket Anya. "Loh... bentar. Perasaan tadi nggak ada kertas itu..."

"Lo yakin bukan dia yang ngasih?" Suara Anya bergetar, menatap Natalie lekat-lekat.

Natalie menggeleng panik, suaranya naik satu oktav. "Gue juga... Ah, nggak tahu! Sumpah, tadi gue nggak nerima kertas itu!"

Leo menatap lekat robekan kertas lusuh itu. Tepiannya koyak tak beraturan, seolah disobek tergesa-gesa dari sebuah buku.

Tak ada nama. Tak ada penjelasan.

Hanya dua kata yang membuat udara di ruang tamu itu mendadak terasa jauh lebih dingin.

**************

--See you on the next chapter! 🦢🤍--

Identitas Tersembunyi Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang