Chapter 21

26 15 15
                                        

Tepat pukul dua belas malam, seluruh lampu utama kamar akhirnya telah dimatikan. Hanya ada pendar redup dari lampu tidur di sudut ruangan yang menumpahkan cahaya remang kekuningan.

Demi kebersamaan, mereka berenam sepakat untuk tidak memakai kasur utama yang tinggi. Kasur lantai tambahan berukuran besar digelar di atas karpet bulu, lalu mereka rebahan berjejer, berdempetan memenuhi tengah ruangan.

Anya, Nabila, Natalie, Salwa, Kiera, dan Mika berbaring di bawah selimut tebal yang sama. Suasana yang tadinya bising oleh tawa kini perlahan berubah menjadi sunyi dan syahdu. Obrolan-obrolan receh lambat laun surut, digantikan oleh keheningan malam yang memancing sisi emosional mereka keluar.

"Gue kadang mikir..." suara Salwa terdengar lirih memecah keheningan, matanya menatap langit-langit kamar yang gelap. "Seru ya kalo kita bisa kayak gini terus. Gak usah mikirin ujian, gak usah mikirin ekspektasi orang tua di rumah yang bikin pusing."

"Bener," timpal Natalie dengan nada suara yang terikat kelelahan mendalam. "Cuma pas bareng kalian gini gue ngerasa bisa napas bebas."

Kiera memiringkan tubuhnya, menopang kepalanya dengan tangan sambil melirik teman-temannya yang berbaring berjejer. "Makanya, kita harus tetep bareng-bareng kayak gini. Jangan ada yang berubah."

Nabila tersenyum tipis di dalam kegelapan. "Honestly, I'm so blessed to have you guys in my life."

Perlahan, obrolan hangat itu mereda. Satu per satu dari mereka mulai memejamkan mata, membiarkan kantuk menyapu kamar yang hening.

Sekitar pukul setengah lima pagi, langit di luar masih biru pekat. Udara dingin merembes masuk lewat celah ventilasi, membawa rasa lembap yang menusuk kulit.

Nabila tersentak bangun lebih dulu dengan tenggorokan kering. Tanpa membangunkan yang lain, ia menyibakkan selimut perlahan, lalu berjingkat keluar kamar menuruni tangga untuk mengambil air minum.

Namun, baru beberapa langkah melewati lorong kaca menuju dapur, gerakannya mendadak terhenti.

Dari balik pintu kaca yang berbatasan dengan halaman belakang, kolam renang itu tampak tidak wajar. Tidak ada pantulan air biru jernih seperti biasa. Permukaannya gelap... kelam... dan pekat.

Nabila mengernyit pelan. "Itu...?" gumamnya lirih.

Ia melangkah semakin mendekat ke pintu kaca. Begitu jaraknya makin tipis, aroma amis samar yang menguar menembus celah bawah pintu langsung menusuk hidungnya. Matanya membulat sempurna. Air kolam itu... berubah menjadi merah kehitaman.

Untuk beberapa detik dirinya hanya terpaku. Otaknya seolah menolak memproses apa yang sedang dilihatnya.

"AAAAAAAAAKKKK!"

Jeritan histeris itu memecah keheningan rumah, bergema nyaring dan bergetar di sepanjang lorong.

Di lantai atas, suara panik Nabila sukses menculik kesadaran empat gadis yang masih bergulat dengan kantuk.

"Apasih... masih pagi juga..." omel Salwa serak. Tanpa membuka mata, ia malah makin membenamkan wajahnya ke dalam bantal, berusaha mengabaikan kegaduhan.

"Suara Nabila bukan sih, itu?" gumam Mika pelan. Dengan mata setengah terpejam, ia menguap lebar-lebar sambil mengucek matanya yang kaku.

Natalie yang menyadari ada yang tak beres langsung terduduk tegak. "Ada apa, anjir?!" serunya kaget, matanya mengedip cepat menembus remang ruangan.

Sementara itu, Kiera masih terbaring kaku. "Astaga..." Pandangannya terkunci pada langit-langit kamar dengan napas yang mendadak memburu, berusaha mencerna situasi sebelum akhirnya menyibak selimut dengan kasar.

Sambil merapikan ikatan rambutnya yang berantakan, Kiera bergegas menuruni tangga. Natalie menyusul cepat tepat di belakangnya, diikuti Mika dan Salwa yang berjalan kleyengan menyeret langkah.

Anya melangkah di barisan paling belakang. Setiap pijakan kakinya terasa berat, disertai rasa berdesir aneh di tengkuk yang membuat dadanya sesak secara mendadak.

Mereka pun tiba di halaman belakang. Udara dingin fajar langsung menyengat kulit, namun aroma kental di sekitar kolam jauh lebih menohok, bau tembaga dan amis kental yang menusuk hidung, memicu mual seketika.

"...itu cat?" bisik Salwa ragu. Raut kesalnya menguap tuntas, berganti tatapan horor.

"Kayaknya bukan..." Natalie menimpali pelan. Pandangannya terkunci pada pusaran air di sudut kolam yang memutih berbusa. "Coba lihat di dekat sirkulasinya..."

Nabila melangkah mundur dua tapak, menutupi mulutnya rapat-rapat demi menahan gejolak mual di tenggorokan. Di sampingnya, Kiera berdiri diam sambil mengepalkan tangan erat-erat dengan kaki yang bergetar.

Anya menyipitkan mata. Pandangannya refleks tertuju pada skimmer box-titik tempat air merah itu tersedot paling deras. Tanpa mengulur waktu, tangannya menyambar tongkat serokan bertangkai panjang yang bersandar di dinding batu.

Dengan napas tertahan, ia menjulurkan jaring itu ke arah pusaran air, mengait sesuatu yang tersangkut di sana, lalu menariknya perlahan ke permukaan.

Benda itu terasa berat dan tersangkut. Begitu Anya mengangkatnya sedikit lebih tinggi dari permukaan air, jeritan kaget spontan pecah dari mulut Salwa dan Kiera.

Bukan cuma satu.

Ada dua ekor kelinci berbulu putih yang tubuhnya saling terikat erat menggunakan tali benang nilon hitam. Kondisinya teramat mengenaskan. Bulu putih kedua hewan itu sudah basah kuyup dan ternoda merah pekat, dengan luka sayatan lebar yang seragam membelah bagian leher masing-masing. Darah yang membasahi bulu-bulu mereka perlahan larut ke dalam air, ikut tersedot sistem sirkulasi hingga mengubah seluruh kolam menjadi merah pekat.

Tangan Anya gemetar hebat hingga tongkat serokan itu terlepas dari genggamannya. Benda itu jatuh berdenting keras di atas lantai batu. Ia refleks melangkah mundur. Napasnya memburu.

Pikirannya mendadak kosong. Dua kelinci itu jelas bukan sekadar bangkai hewan yang dibuang sembarangan. Semua ini terasa... terlalu disengaja.

Di tengah keheningan itu, Mika tiba-tiba melangkah ke arah taman rumput di dekat pilar.

"Eh..." celetuknya halus.

Semua mata otomatis menoleh. Di atas rumput hijau yang basah oleh embun, tergeletak sebuah mainan berbentuk robot seukuran telapak tangan. Benda itu terbaring miring di atas rumput, warnanya kusam terkelupas, satu mata kacanya bolong melubang, dan lengan kanannya putus menyisakan serat kabel yang mencuat kaku.

Mika sedikit membungkukkan badan, seolah ingin melihat benda itu lebih jelas, tetapi urung menyentuhnya.

"Ini... punya siapa?" tanyanya pelan.

Pertanyaan berbisik dari Mika menggantung kaku di udara. Keheningan yang menyusul setelahnya terasa tambah jauh lebih mencekam.

"Robot...?" gumam Natalie, suaranya tercekat. Matanya berganti-ganti menatap dua kelinci mati di dekat kolam, lalu ke benda logam kusam di atas rumput.

Salwa merapat kaku ke lengan Nabila, jemarinya meremas kain baju temannya itu hingga kusut. Wajahnya pucat pasi. "Gue nggak paham... ini bercandaan jenis apa sih?!"

Nabila tidak menjawab. Wajahnya semakin pucat. Jemarinya yang sejak tadi menutupi mulut perlahan turun, tetapi tubuhnya tetap membeku di tempat, seolah belum benar-benar mencerna apa yang baru saja mereka lihat.

"Gue mau panggil Pak RT... atau polisi... kita harus telepon siapapun sekarang," cicit Kiera dengan bibir gemetar hebat. Tangannya yang dingin meraba-raba saku celananya secara refleks, memburu ponsel yang tertinggal di atas.

Di antara kegaduhan kecil dan histeria yang mulai membakar teman-temannya, Anya justru berdiri mematung paling belakang.

Tatapannya tak beranjak sedikit pun. Bukan karena robot itu terlihat menyeramkan. Melainkan karena, untuk alasan yang tak mampu ia jelaskan...

****************

Identitas Tersembunyi Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang