Chance

1.1K 57 0
                                        

Saat masuk kerumah dengan keadaan seperti ini dan Harry yang pingsan Mom,Niall dan Lottie yang tadinya sedang bercengkerama pun terkejut melihat kami. "Astaga apa yang terjadi?" Ucap Mom,"nanti akan aku jelaskan setelah kami berganti baju mom" Ucap Louis,Niall yang melihat pun membantu Louis untuk mengangkat Harry. Mom dan Lottie menghampiri ku,dengan tatapan penuh tanda Tanya,aku yang kuasa menahan tangis pun langsung memeluk mom. "Ssshhh what Happen dear?" Tanya Mom tapi aku masih menangis. "Mom do i kill him?" Ucapku dalam isakan,aku sungguh jahat membiarkannya diluar kehujanan dan kedinginan,bagaimana jika benar dia akan pergi?,i'm so mean. "Mom i'm afraid mom,how if he will has a serious injurie?" Ucapku lagi,mom hanya mengusap kepalaku. "Listen kid,i'm sure that he will be fine,now take a bath with hot water first okay" Ucap mom akupun mengangguk dan ke kamarku untuk mandi. Selesai mandi pun aku mengganti bajuku dengan baju dan celana lengan panjang. Aku berjalan kesana dan kemari di kamarku,memikirkan apa yang harus aku lakukan. The first will mom Anne get mad at me? Second,could him be fine? And many more,shit i just like a very depressed person,but this problem make me be like this. Pintu kamarku terbuka memunculkan sosok Niall yang muncul, "you don't wanna see him?" Ucap Niall dan akupun menggeleng,seeing him just make me more stress. "Kita sudah panggil dokter,mungkin kau mau tahu keadannya" ucap Niall lagi dan ya aku menggelengkan kepalaku berat."i don't care of his condition" Ucapku penuh penekanan,Tapi Niall yang mendengarnya hanya menggeleng geleng. Shit how can i didn't care of his condition? I care of course!,hanya ego ku terlalu tinggi untuk mengakuinya. "Huh aku tahu kau peduli,bahkan sangat peduli,pergilah ka kamar Louis dan lihat keadaannya,Go" ucap Niall lagi,iya dia benar aku peduli bahkan sangat peduli,tapi aku gengsi. Aku masih diam di tempat menimbang nimbang aku akan melihatnya atau tidak? Kalau tidak artinya kau pengecut,arghh hatiku berbicara,aku bukan pengecut dan jangan sebut aku pengecut. "Fine fine fine i'll see him" ucapku lalu beranjak dari kamarku. Hanya perlu 3 atau 4 langkah dari kamarku,karena kamar Lou tepat di sebelah kamarku. Aku membuka Knop Pintu Louis,aku melihat ada dokter dan Louis yang sedang melihat keadaan Harry akupun masuk dan menutup pintunya kembali. Aku duduk di sisi kasur Lou dan melihat keadaan Harry,dia sangat pucat,mukanya datar,jelas saja dia sedang pingsan Jessica. "Mmh dia terkena hipotermia dan ashtma nya kambuh,tapi tenang saja dia baik baik saja mungkin sebentar lagi dia akan sadar" Ucap Dokter,terkena Hipotermia dan ashtma nya kambuh tapi dia bilang Harry baik baik saja dia ini bagaimana sih jadi dokter?. "Ini obatnya" ucap Dokter sambil memberikan Obatnya padaku lalu ia keluar dari kamar ini diikuti Louis,aku mendekatinya yang sedang tertidur. "Kau sangat pucat,kau bodoh! Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk pulang? Tapi kau tak mendengarnya" ucapku ya sebut aku gila karena berbicara pada orang yang sedang pingsan. "Aku bingung haruskah aku memaafkanmu atau tidak? Aku masih sakit hati karena perbuatanmu tapi melihat kau berkorban untuk minta maaf padaku buat ku bingung? Harry! Kau maunya bagaimana?" Ucapku lagi,diam masih tidak ada tanggapan,jelaslah Jessica bodoh kau berbicara dengan orang yang sedang tak sadarkan diri. Aku diam.duduk di sebalah Harry yang tertidur,seriously aku masih bingung memaafkan Harry atau tidak mengingat pengorbanannya hingga seperti ini tapi aku juga masih sakit hati dengan perbuatannya kemarin. Aku mendengar pintu terbuka,dan disana memunculkan Mom Anne dan Louis. "Mom,i'm sorry" ucapku saat mom Anne mendekati kasur Harry. "No need to say sorry,sweetheart ini karena kesalahan sendiri,dia harus tanggung" Ucap Mom Anne sambil mengelus kepalaku,akupun mengangguk,tapi aku tetap masih bingung haruskah aku memaafkannya. Dulu saja Zayn selama 6 tahun pacaran denganku tidak pernah buat kesalahan atau bermain perempuan lain tapi saat ketahuan sekali aku langsung memutuskannya,tanpa pikir panjang. Namun kenapa kali ini sangat susah dan aku harus memutar mutar pikiranku untuk memaafkan Harry atau tidak. Saat sedang sibuk dengan pikiranku sendiri aku merasakan ada tangan yang menyentuh tanganku,akupun sontak membalik,ternyata tangan Harry. "Jess? Please forgive me" ucapnya masih sambil menutup mata dan mengenggam tanganku lebih erat lagi,dia seperti ini jadi membuatku semakin ingin memaafkannya. "Harry?" Ucapku pelan,"Jessica" ucapnya,lalu dia membuka matanya,tidak tahu kenapa sudut bibirku tertarik keatas membentuk sebuah senyuman. Aku senang karena dia sudah sadar,tapi bukannya dia melepaskan genggamannya tapi dia makin mengeratkannya,aku masih tersenyum dan ia pun ikut tersenyum. Tidak ada yang membuka pembicaraan diantara kami,biasanya kami tak pernah mengalami akward moment. "Aku senang kau sudah sadar" ucapku,senyumannya tambah merekah. "Aku senang kau tersenyum padaku" balasnya,aku terkekeh,aku ingin mengucapkan 'aku memaafkan mu Harry' tapi gengsi ini mengalahkan itu. "Kau lapar tidak? Mau aku bawakan makanan?" Tanyaku,"aku tak lapar,tapi aku mau kau di sini" jawabnya. "Aku tak bisa mengenyangkanmu Harry,kecuali jika kau memakan ku" ucapku sambil tertawa. "Haha itu terdengar ambigu Jessica" Ucap Harry,dan aku menyadarkan apa yang baru saja aku katakan. Aku pikir,aku harus memaafkannya dan memberinya kesempatan ini bukan semua kesalahan Harry. "Harry aku mau bicara" ucapku serius iapun menatapku serius juga,dan tatapannya menunjukan bahwa dia takut. "Harry aku memaafkan mu,tapi janji jangan mengulangnya lagi" ucapku,tatapan takut dari ia pun hilang menjadi tatapan 'kau serius' "kau bukan mau memutuskan ku?" Ucap Harry,aku menggeleng. "Aku mau memberimu kesempatan" ucapku dan ia pun bangun lalu memeluku aku memeluknya balik. "Aku tak bisa marah lama lama denganmu" ucapku,iapun tertawa. "Jess aku lapar tau dari tadi" ucapnya,sontak akupun melepaskan pelukannya. "Tadi kau bilang tidak lapar,tapi sekarang kau bilang lapar" ucapku lalu keluar dari kamar untuk mengambil makanan untuk Harry. Saat aku sampai di ruang makan mereka semua sedang makan lalu melihat ku,lalu mom berbicara kepadaku. "Jess apakah Harry sudah sadar?" Ucap Mom dan akupun mengangguk. "Yeah mom,and mow everything is alright" ucapku,mom pun yang mengerti ucapan ku hanya mengangguk,aku mengambil bahan untuk membuat bubur untuk Harry. "Jess" panggil seseorang akupun menengok,"jess i know what you mean" ucap Lou "kenapa kau memaafkannya semudah itu?" Ucap Lou,akupun membalas pertanyaan Lou sambil memasak. "Semua orang butuh kesempatan,lou. Sekarang apakah kau tidak pernah berbuat kesalahan pada Clarissa? Pernah kan? Lebih dari satu kali malah dan Clarissa memaafkan mu" Jawabku,Louis pun hanya mengangguk angguk. Karena buburnua sudah matang akupun mengangkatnya dari kompor lalu membawanya ke kamar Louis. Saat aku membuka pintunya kulihat Harry masih di posisi yang sama dan terdiam. "Ga bosen apa diam mulu?" Tanyaku dan memberikan buburnya dia terkekeh dan menerima buburnya, "hmm pasti ini enak,buatan mom jay" Ucap Harry sambil meniup buburnya,sial dia mengira itu buatan Mom itukan buatan ku tau. "Enak saja itu buatan ku tahu" Ucapku ketus,diapun hanya tertawa ringan "Enak kok,memang istri idaman ya" Ucap Harry akupun terkekeh,Harry kau buat perasaan cintaku padamu tumbuh setiap Harinya. Aku membiarkan Harry memakan buburnya dulu. Yatuhan sebentar lagi kami pisah. Rasanya aku tak mau ceoat pisah dari Harry.

Harry Pov
Aku melihat Jessica yang sedang melamun,aku tidak tahu dia memikirkan yang jelas raut wajahnya tidak menunjukan dia sedang memikirkan hal yang bagus. "Jessica?" Ucapku berusaha membangunkan Jessica dari lamunannya,tidak ada sahutan aku takut dia memikirkan bahwa dia menyesal telah memaafkan ku. "Hey sweetheart apa yang kau pikirkan?" Ucapku sambil menepuk bahunya,"astaga" Ucapnya terlonjak,aku tersenyum melihatnya "kau membuat ku kaget tau ga sih" Ucapnya sambil melihatku sinis "lagian kau melamun" Ucapku,iapun menatap ku bingung "oh did i?" Tanyanya akupun mengangguk. "Harry apakah kalau kita pisah kita akan tetap saling mencintai tidak?" Tanyanya,aku pun yang mendengar langsung menggenggam kedua tangannya erat erat dan menatap matanya dalam lalu tersenyum dan aku dekatkan wajahku ke wajahnya,akupun langsung mencium bibirnya. Akupun melepaskannya "apakah tadi sudah menjawab?" Tanyaku,ia hanya menunduk aku yakin ia sedamg menyembunyikan pipinya yang kemerahan. "Isshh aku hanya bertanya" ucapnya sembari memukul bahuku,lumayan sakit. "Kan aku sudah menjawab" Ucapku sembari tertawa kecil,"ya bisa aja diluar sana kau melakukan ini kepada orang lain" Ucapnya meledek ku. "Yaa pastilah paling aku melakukan itu dengan kakak tersayang mu" Jawabku meledeknya lagi,seketika matanya pun membesar "oh my God jadi selama ini Larry itu benarr? Yatuhan aku tak sudi bila kakak ku gay ditambah lagi pasangannya adalah kamu" ucapnya ketus dan memalingkan wajahnya dariku,akupun tertawa mendengar jawabannya. Saat aku sedang asik tertawa pun pintu kamar Louis terbuka dan memunculkan sosok yang punya kamar sambil membawa nampan yang aku tak tau isinya. "Uhhh my baby tarzan sudah bangun,ini aku bawakan hot chocolate dan pudding untukmu" Ucapnya lalu mendekatiku. "Pacar mu tidak membawakan ini sih,jadi aku yang turun pacarmu tidak perhatian ya" ucap Lou dan aku tahi membuat Jessica sebal "thank you my Boobear" ucapku dan mendekatkan bibirku ke pipinya "Stahp!! Don't do that in front of my Face!" Teriak Jessica,dan sontak membuat kami yang mendengarnya tertawa,"kau cemburu dengab Kaka mu sendiri?" Ucap Louis sambil tertawa,"bukan itu bodoh! Aku hanya tidak mau melihat hal itu,ya berciuman antara sesama Jenis" Ucap Jessica sembari memutar bola matanya. Cup,Lou mencium pipiku "maksudmu seperti tadi?" Ucap Louis menyeringai "are you fucking serious Lou?" Ucapku dan Jessica bersamaan,mata Jessica sudah terbuka Lebar jika kalian ingin tahu,"why did you kissed me for real Lou?!" Tanyaku Dan yang ditanya hanya terkekeh,aku melihat Jessica yang masih mencubit-cubit pipinya memastikan ini hanya mimpi atau bukan. "Astaga! Apa yang baru saja aku lihat adalah sungguhan?" Ucapnya,dan kami pun tertawa. "I just try to teasing you" Ucap Louis,Jessica memutar matanya. Saat aku lihat keluar ternyata hari sudah malam aku harus segera pulang. "Mmh hari sudah malam sebaiknya aku pulang dulu" Ucapku,tapi tangan ku ditahan oleh Jessica "nahh kau disini saja besok kan sudah libur" Ucap Jessica,dan diikuti anggukan dari Lou "iya kau masih sakit,sudahla tidur sini saja" Tambah Lou. Awalnya aku menolak tapi karena berbagai paksaan dan rayuan dari si kembar ini aku pun akan menginap disini. Kamipun bercanda ria hingga larut malam,aku sudah mengantuk dan kurasa si kembar juga merasakan Hal yang sama dan kulihat Jessica sudah tertidur duluan di kasur Lou,mungkin dia lelah. Lou pun sudah mulai menguap dan ia merebahkan diri di sebelah Jessica,ya memang kasur Louis sangat luas mungkin bisa cukup 5 orang. Hmm ngomong ngomong tentang kesempatan tidak semua orang memiliki dan akan memberikan kesempatan kedua jadi jika diberi hal itu harus di jaga,kalian harus menjaganya,aku Harus menjaga kesempatan itu. Tapi semua orang berhak mendapat kesempatan.

one direction high schoolTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang