9

179 6 0
                                    


Naruto duduk tepat di depan Sasuke yang sedang melamun. Suasana hingar bingar depot teh tidak bisa mengalihkan perhatian Sasuke dari lamunan. Apalagi kehadiran Naruto. Hal itu membuat Naruto jengah.

Sudah menuju bulan ke enam mereka di Ame. Kondisi negeri itu sudah mereka ketahui. Negeri itu dikuasai oleh seorang Raja Wanita bernama Konan. Dan memang benar perkataan Kakashi. Negeri itu penuh misteri. Butuh satu bulan perjalanan dari Konoha ke Ame. Melewati pintu air terjun, membuat perjalanan begitu lambat.

"Hah... Aku tahu kenapa Ayahanda tidak bisa menaklukan negeri ini. Pintu masuk saja penuh jebakan begitu."

Sasuke tetap melamun. Naruto merasa seperti orang bodoh karena diabaikan.

"Sas... Bisakah kau sadar?" Naruto melambai-lambaikan tangannya di depan mata Sasuke.

Sasuke jadi tergagap. "Apa kau bilang tadi?"

"Aku bilang... aku tahu kenapa Ayahanda tidak bisa menaklukkan negeri ini."

"Apa? Karena pintu masuknya ajaib sehingga bisa langsung ketahuan jika membawa pasukan?"

Naruto mengangguk,"Itu salah satunya. Ada hal lain lagi."

"Apa?"

Naruto tersenyum geli. "Karena penguasa negeri ini adalah perempuan. Sebenarnya... itu akan lebih mudah jika Ayah bukanlah pangeran permaisuri... tapi... yah..." Naruto mengangkat bahu.

"Apa maksudmu? Maksudmu, ayahmu tidak bisa menawarkan pernikahan untuk penyatuan politik?"

"Ya, begitulah."

Sasuke murung sebentar. Dia semakin memikirkan nasib ibunya. Ibunya sedang mengandung anak Minato saat ini. Pernikahan politik saja tidak bisa, apalagi pernikahan Minato dengan ibunya yang notabene janda dari seorang pemberontak.

"Naruto... Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa ayahmu mungkin memiliki wanita lain?"

Naruto langsung terkekeh mendengar itu. "Ayah langsung akan diturunkan dari posisi pangeran permaisuri. Hanya pewaris negeri yang bisa punya pasangan lebih dari satu. Dan itu adalah ibuku."

"Apakah kau tidak merasa bahwa itu tidak adil untuk Ayahmu? Maksudku... Ibumu berpolyandri dan ayahmu.... sebagai laki-laki... pernahkah kau tanyakan perasaannya?"

"Ayah adalah seorang pria yang bertanggung-jawab. Apa pun itu, dia akan tetap menjalankan tanggungjawab sebagai pangeran permaisuri. Lagipula... aku dengar Neji Hyuga makar. Ayah dan Ibu bersatu lagi." Naruto tersenyum miring."Neji Hyuga sangat konyol.... tapi.... idenya boleh juga... pernikahan untuk aliansi."

"Amegakure tidak mungkin takluk dengan penyerangan karena sistem pertahanan di pintu air. Konan, penguasa negeri ini masih single. Ayahmu juga tidak mungkin menikahi Konan karena aturan itu. Lalu, apa rencanamu?"

"Menyelundupkan pasukan secara bertahap."

"Itu terlalu lama. Apakah kau ada saudara yang bisa disodorkan untuk menikahi Konan?"

Naruto menggeleng. Sasuke tersenyum penuh teka-teki. Naruto jadi jengkel."Jangan bilang kalau aku yang harus menikahi perawan tua itu!" Dia menggebrak meja.

Sasuke terkekeh.

"Jadi kau benar-benar berpikir seperti itu?" Naruto benar-benar tak habis pikir.

"Kau bilang tadi bahwa ide Neji Hyuga boleh juga."

"Aku tidak akan menggunakan cara sepicik itu."

"Kau sendiri yang bilang bahwa pernikahan..."

"Ah, sudahlah... kau ngaco. Aku akan tetap menyelundupkan pasukan."

Desire Of KingdomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang