Bab 19

87 6 0
                                        

Tiba hari dimana akan di langsungkan nya pernikahan antara Denira dan Wildan. Di kamarnya, kini Denira sedang di make up oleh seorang MUA yang telah Wildan sewakan khusus untuknya.

Dandanan make up nya terlihat sudah hampir sempurna tinggal memakai hijab saja yang belum. Denira membuka matanya setelah sang MUA selesai memakaikan eyelashes di matanya.

Ia menatap pantulan wajahnya di cermin dengan sendu. Harusnya hari ini menjadi hari yang membahagiakan bagi seorang pengantin namun, kenapa hatinya malah merasa sakit.

Mbak MUA mulai memasangkan hijab di kepalanya. Denira menoleh menatap sang MUA untuk request sesuatu.

"Mbak, hijabnya yang nutup dada ya" requestnya.

"Tapi Kak, nantinya kalo nutup dada variasi depan pada bajunya tidak terlihat"

"Tidak masalah Mbak. Saya rela menutupi keindahan pada baju saya demi tetap mengikuti ajaran Rasulullah" Mbak MUA itu nampak berekspresi aneh dan akhirnya manggut saja menuruti.

****

"Bu, Wildan minta tolong ya untuk merahasiakan ini dulu dari Denira" Wildan menatap Ibu tirinya lirih.

Kini keduanya sedang di dalam mobil dengan arah tujuan ke rumah Denira karena hari ini Wildan akan mempersunting gadis itu menjadi istrinya.

Melani-Ibu tiri Wildan tersenyum dengan wajah sendunya. "Jika itu mau kamu Ibu akan merahasiakan nya untuk kamu"

"Makasih Bu" Melani mengangguk sambil mengelus pundak putranya.

"Nyonya, Tuan muda. Sudah sampai" kata pak supir di depan.

Wildan pun menatap keluar jendela dan ternyata benar mereka telah sampai. Wildan dan Melani pun turun dari dalam mobil dan berjalan memasuki rumah Denira.

Merekapun di sambut baik oleh beberapa kerabat Denira. Wildan serta Ibu nya di persilahkan untuk duduk di tempat yang telah di sediakan.

Setelah acara awalan selesai, baru ke acara utama yaitu pengucapan ijab qobul. Semua orang nampak tegang dan seketika suasana menjadi hening karena semua mata terfokus pada mempelai pria yang akan mengucapkan kalimat janji sehidup semati tersebut.

"Saudara Wildan Erlangga Galih Putra bin Bapak Galih Erlangga saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Putri saya Denira Tiana Meisya dengan Mas Kawin emas dua lima gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai"

"Saya terima nikah dan kawinnya Denira Tiana Meisya binti Bapak Tirta Hendrawan dengan Mas Kawin tersebut di bayar tunai"

****

Prang...

"Astagfirullah hala'dzim" Akhtar berjongkok untuk membersihkan pecahan piring di lantai yang tanpa sengaja Ia jatuhkan tadi.

"Ya Allah Tar, kok bisa pecah gitu?" Akhtar menoleh ketika mendengar suara kakaknya.

"Maaf kak tadi tiba-tiba kesenggol " Afkar geleng-geleng kepala menatap adiknya yang ceroboh itu.

"Yaudah bersihkan dulu pecahannya nanti kamu bawa kopinya ke depan" Akhtar hanya membalas dengan anggukan dan lanjut memunguti kepingan piring keramik itu.

Akhtar memegangi dadanya yang terasa berdebar-debar tanpa sebab. Apakah Ia panik karena piringnya pecah? Tapi, masa si? Perasaan bukan kali ini saja Ia memecahkan barang namun, kenapa kali ini rasanya panik begini.

Akhtar menggeleng dan cepat-cepat membuang pecahan itu kedalam tong sampah. Ia pun mengambil nampan dan meletakkan tiga gelas kopi seraya membawanya ke ruang tamu.

Di ruang tamu nampak ada seorang laki-laki yang sedang duduk mengobrol dengan kakaknya. Laki-laki tersebut tak lain adalah Tio yang kini sedang berkunjung ke rumah Akhtar sehabis dirinya vakum satu minggu lebih tak bertemu Akhtar setelah dia menikah beberapa hari lalu.

Takdir Sang CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang