Dreet... Dreet...
Seorang laki-laki yang kini sedang tertidur pulas bersandar di meja kantornya, mulai terusik dari tidurnya saat mendengar suara dering yang berasal dari handphonenya.
Ia pun terbangun dari posisinya seraya mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Wa'alaikumsalam"
"Wil, lo hari ini gak pulang? Udah dua hari loh lo selalu nginep di kantor"
Wildan mengucek-ucek matanya dan menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya yang kini menunjukkan pukul 00:09.
"Maaf Ra, tugas gue di kantor pusat belum kelar. Besok pagi ya gue pulang"
"Udah sholat isya?"
"Udah kok"
"Yaudah jangan terlalu memaksakan ya, kalo lo udah capek lo harus tidur"
"Iya Ra"
Wildan meletakkan handphonenya ke atas meja. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.
"Hufh..." Wildan menyenderkan kepalanya ke senderan kursi.
Rasanya benar-benar stres harus mengurus dua kantor sekaligus.
Ia mengambil satu batang rokok di atas meja dan membakarnya. Ia pun memejamkan mata sambil menikmati hembusan rokoknya. Dahinya mengernyit saat teringat sesuatu.
"Astagfirullah, aku lupa kalo hari ini ada jadwal ketemu dokter"
****
Tok... Tok... Tok...
"Assalamu'alaikum" sahutan dari dalam pun terdengar dan perlahan pintu di depannya mukai terbuka.
"Wil, tidur di kantor lagi?"
"Iya Pah, sekarang Wildan sibuk karena harus ngurusin kantor pusat juga" Tirta menarik tangan Wildan dan membawanya masuk.
Tirta pun menyuruhnya untuk duduk di kursi ruang tamu begitupun dengan dirinya yang ikut duduk di samping Wildan.
"Papah sarankan, kamu jangan terlalu memaksakan diri. Tidak mungkin kamu mampu memimpin dua perusahaan sekaligus"
"Tapi..." Wildan menunduk bingung harus menjelaskan bagaimana.
"Arrgh..." Tiba-tiba Wildan mengerang karena merasakan sakit kepala yang sangat dahsyat. Darah segar menetes ke atas lantai dengan deras yang sumbernya berasal dari hidung laki-laki itu.
Sontak melihat itu membuat Tirta menjadi panik. "Astagfirullah hala'dzim. Papah antar ke rumah sakit" Tirta meraih kunci mobil yang Wildan geletakkan di atas meja dan Tirta pun memapah tubuh Wildan untuk berjalan keluar.
****
"Gimana keadaan Wildan Pah?" Tirta menoleh ketika mendengar suara sang Putri.
Ia mendapati Denira bersama Fira, Melani, dan Dean datang ke rumah sakit.
"Dokter masih memeriksanya di dalam" Denira menyenderkan tubuhnya ke tembok. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi Wildan di dalam sana.
Tak lama kemudian dokter yang memeriksa Wildan pun keluar. Semuanya langsung mendekati sang dokter untuk menanyakan kondisi pasien di dalam sana.
"Bagaimana kondisi suami saya dok?" Tanya Denira.
"Cukup buruk"
"Ha? Kok bisa dok? Memangnya suami saya sakit apa?" Dokter itu menatap Denira dengan heran.
"Suami anda pengidap leukimia mielositik yang di perkirakan statusnya sudah memasuki stadium empat. Sepertinya pasien sudah cukup lama mengidap penyakit ini. Setelah saya periksa lebih lanjut, saya mendapati jika pasien ini sudah pernah beberapa kali melakukan kemoterapi.
Alasan kenapa penyakit pasien kambuh, saya perkirakan penyebabnya adalah karena pasien telat menjalani jadwal kemonya" Denira melebarkan matanya tidak percaya. Kenapa selama ini Wildan tidak pernah memberitahunya jika sebenarnya laki-laki itu memilik penyakit yang sangat serius seperti ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Sang Cahaya
EspiritualPerannya bagaikan cahaya. Dia tercipta sebagai manusia biasa yang mempunyai dosa dan rentan dengan kesalahan manusiawi. Dia hanyalah seorang gadis sederhana yang terlahir dari keluarga sederhana juga. Namun, dalam kesederhanaannya dia mampu menghada...
