Denira memasuki kamarnya dengan hati-hati takut menciptakan suara decitan. Ia melihat seorang laki-laki yang kini sudah tertidur pulas di atas kasur. Denira terdiam sejenak menimang-nimang akan tidur di samping Wildan atau tidur di bawah saja.
Denira menghela nafas dan akhirnya memilih untuk tidur di samping Wildan dengan menyelipkan guling di tengah-tengah mereka. Ia tak mungkin tidur di lantai karena Ia memiliki alergi dingin. Ia tak mau sampai sakit sedangkan ujian sekolah tinggal dua hari lagi.
"Udah selesai?" Denira menoleh ketika Wildan berbicara. Ternyata laki-laki itu mudah terbangun dari tidurnya.
"Udah" balasnya singkat seraya tidur membelakangi Wildan.
"Kalo ada apa-apa lo boleh kok minta tolong gue" saran Wildan.
"Hmm makasih" balas Denira seraya memejamkan matanya.
***
"Tar" Akhtar menoleh ketika kakaknya memanggil dan mendekatinya.
"Ini flashdisk apaan? Kok isinya cuma satu video deepdark gak jelas gitu. Awalnya Kakak pengen minta lagu buat di laptop kakak, pas Kakak liat filenya cuma satu video doang"
Akhtar menatap kakaknya dengan bingung. Maksudnya video deepdark apa ya?
"Coba aku liat Kak" Akhtar membolak-balik flashdisk itu dengan perasaan heran.
"Ini emang bener kok flashdisk aku yang isinya lagu sholawat dan beberapa lantunan ayat Al-Qur'an. Tapi aku udah lama gak buka-buka ini sejak terakhir waktu di ruang guru. Tunggu-tunggu... Flashdisk ini sempat ketinggalan di meja aku terus....."
"Ini, flashdisknya jatoh"
"Terimakasih Ustadzah"
"Sama-sama Ustadz. Kalo gitu saya duluan ya. Assalamu'alaikum"
Mata Akhtar melebar mengingat kejadian itu. Jangan-jangan flashdisk miliknya tertukar dengan flashdisk milik ustadzah Rahma.
"Pinjem laptopnya Kak" Akhtar merebut laptop yang sedang Afkar bawa dan memasang flashdisk itu untuk mengecek video apa yang ada di dalamnya.
"Astagfirullah hala'dzim" Akhtar benar-benar shock melihat isi video itu.
***
Penelitian kasus yang di lakukan oleh lima orang anggota, terhenti selama satu minggu ini berhubung Denira, Kalina, dan Salwa sedang melaksanakan ujian sekolah jadi, fokus ketiganya tidak boleh terbagi terlebih dahulu. Namun Akhtar dan Dean masih terus berkerja di belakang layar tanpa sepengetahuan tiga gadis itu.
Terlihat, pada malam hari Denira sedang duduk di karpet bawah kasurnya dengan buku yang berserakan di sekitarnya. Ia harus semangat demi ujian terakhirnya yang tiba pada besok.
"Semangat tinggal sehari lagi" gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Seorang laki-laki berkaos putih dan bercelana pendek hitam yang kini sedang berdiri di belakang Denira, tersenyum melihat ketekunan gadis itu. Ia pun mendekat sambil membawa sebuah bingkisan cemilan di tangannya.
"Tadi gue ke warung sekalian beliin lo ini" Wildan duduk di samping Denira dan memberikan bingkisan snack itu.
"Baik banget si lo" Denira tersenyum seraya menerimanya.
"Mau belajar bareng lagi?" Wildan tersenyum dan mengangguk.
Denira pun mengambil salah satu buku paketnya untuk Ia ajarkan materi di dalamnya kepada suaminya itu. Denira pun membacakan beberapa paragraf dan menjeda untuk menjelaskan sedikit. Wildan memperhatikan wajah Denira yang kini sedang serius menjelaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Sang Cahaya
SpiritualPerannya bagaikan cahaya. Dia tercipta sebagai manusia biasa yang mempunyai dosa dan rentan dengan kesalahan manusiawi. Dia hanyalah seorang gadis sederhana yang terlahir dari keluarga sederhana juga. Namun, dalam kesederhanaannya dia mampu menghada...
