Bab 20

112 6 0
                                        

Malam ini, Denira sedang melakukan video call bersama kedua sahabatnya yang tak lain adalah Kalina dan Salwa. Mereka sedang membicarakan informasi terbaru tentang penelitian mereka.

Sampai detik ini Denira memang belum mengabari kedua sahabatnya tentang pernikahannya dengan Wildan. Entahlah rasanya Ia belum siap untuk membeberkan statusnya walaupun hanya kepada sahabatnya.

"Informasi terbarunya kata Kak Sila ustadzah Rahma itu dulunya Kakak kelasnya Kak Sila. Tapi sayangnya Kak Sila gak tau tentang sangkut pautnya ustadzah Rahma di kasus itu tapi... Kata Kak Sila ustadzah Rahma itu dulunya sahabatan sama santriwati yang bunuh diri itu. Apa ustadz Akhtar nunjuk dia karena itu?"

"Bisa jadi si Lin. Ustadz Akhtar kan punya petunjuk tentang itu"

Denira menghela nafas gusar. Entah kenapa lidahnya terasa kaku saat ingin mengucapkan nama Akhtar. Rasa sakit itu kembali terasa di dadanya.

"Kakak kamu gimana Ra? Dia mau bantu?"
"Nanti ya gue tanya sama dia. Semoga aja dia mau bantu penyelidikan kita" Kalina dan Salwa mengangguk-angguk sambil mengaminkan.

Tanpa Denira sadari, seorang laki-laki menyembul dari belakangnya dan dengan isengnya menampakkan diri pada kamera video Denira membuat Salwa dan Kalina yang menyadari itu langsung melotot.
"Itu kaya Wildan. Dia ngapain di kamar lo?" Celetuk Kalina.

Denira langsung menoleh ke belakang dan benar saja sudah ada Wildan di belakangnya yang kini sedang cengengesan tanpa dosa. Refleks Denira langsung menutup laptopnya dengan panik.

"Ih! Lo bisa gak si gak tiba-tiba nongol gitu? Kalo temen-temen gue curiga gimana? Lo mau tanggung masalahnya hah?"
Wildan mengedikkan bahunya seraya duduk di tepi ranjang dengan santai.

"Lo ngapain masuk-masuk kamar gue? Gak ngucap salam lagi"

"Loh, ini kamar gue juga, kan?"

"Dih enak aja. Enggak-enggak apaan si, tidur sono di kamar tamu!" usirnya.

"Tapi gue izin dulu ya sama Mamah Papah soalnya kata Mamah Papah kalo suami istri gak tidur sekamar itu dosa" Denira terdiam menyadari ancaman tertutup dari lelaki itu. Jika Wildan sampai memberitahu kedua orangtuanya bisa habis dia.

"Okeh lo boleh tidur di kamar gue tapi, tidur di bawah!"

"Eh? Kok gitu?"

"Mau tidur di kamar gue gak?" Wildan memejamkan matanya sejenak dan akhirnya mengangguk pasrah.

Denira kembali membuka laptopnya dan fokus dengan kedua sahabatnya kembali. Nampak raut menyeramkan tercetak dari wajah keduanya.

"Ra lo belum jawab loh. Ngapain Wildan di kamar lo?" tanya Kalina lagi.

"Wildan itu...." Denira terdiam cukup lama menimang-nimang.

"Wildan itu apa? Jangan-jangan lo__"

"Enggak jangan seudzon dulu. Wildan itu... Suami gue" tutur Denira akhirnya.

"Hah?" Kompak keduanya dengan mata melotot.

"Besok gue jelasin ya. Sekarang gue matiin dulu panggilannya. Assalamu'alaikum" tanpa menunggu jawaban dari kedua sahabatnya Denira pun langsung mematikan sambungan video call nya.

Denira menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi. "Aduh mati gue"

Denira pun mematikan laptopnya seraya beranjak dari duduknya dengan gelisah.

"Lo si ah" Denira merenggut ke arah Wildan.

"Iya maaf deh" Denira memutar bola matanya malas.

"Kamar lo panas banget si gak ada AC atau kipas gitu minimalnya?" Protesnya sambil memperhatikan sudut-sudut tembok kamar Denira.

"Gak ada. Gue alergi dingin makanya gak pake alat pendingin. Kalo lo panas mending tidur di kamar tamu aja disana ada kipasnya" perintah Denira.

"Enggak deh gue lepas baju aja" secara tiba-tiba Wildan melepas kaos hitamnya tanpa menyisakan sehelai kain pun di badannya.

"Astagfirullah. Lo bisa gak si gak sembarangan gitu" Denira langsung memalingkan wajahnya shock.

"Emang kenapa? Biasanya juga gue jarang tidur pake baju"

"Terserah lo deh ya. Yang penting lo tidur di bawah dan jangan ganggu gue" Denira merebahkan dirinya ke atas kasur seraya menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.

Wildan mengatupkan bibirnya pasrah. Ia pun menggelar sebuah karpet dan mulai berbaring di atasnya.

****

Denira geleng-geleng kepala melihat Wildan yang kini masih tertidur pulas. Ia sudah mandi, wudhu bahkan selesai sholat subuh tapi laki-laki itu masih belum terusik juga dari tidurnya.

"Wil bangun Wil sholat subuh" Denira memanggilnya masih santai.

Ia mengepal tangannya geram karena tidak ada respon sama sekali dari laki-laki itu.
"Wildan!" Teriaknya.

"Hmm..." Wildan hanya membalas dengan racauan saja.

Denira pun akhirnya memutuskan untuk turun tangan. Ia berjongkok untuk membangunkan suami malasnya itu lebih ekstrak lagi.

"Wil. Astagfirullah" Denira terkejut melihat darah yang mengalir dari hidung Wildan.

"Wil bangun Wil" dengan cepat Denira mengambil tisu di atas nakas.

Wildan pun mengerjapkan matanya sebelum akhirnya kedua mata itu terbuka walaupun masih sayu.

"Bangun dulu. Hidung lo mimisan" mata Wildan melebar terkejut. Ia hampir ingin memegang hidungnya namun di tahan oleh Denira.

Wildan pun akhirnya terbangun dari posisi tidurannya. Denira sedikit mendekat untuk membersihkan darah di bawah hidung laki-laki itu. Raut wajahnya nampak khawatir dan gerakannya penuh dengan ke hati-hatian.

"Lo sakit? Kok lo gak bilang si?" Omelnya.

"Enggak kok cuma mimisan biasa doang. Gue udah sering, kali" santainya tanpa menunjukkan ekspresi panik.

"Tetep aja gak bisa di biarin. Lo harus ke dokter kalo udah parah"

Wildan tersenyum simpul merasa cukup baper dengan perhatian yang Denira berikan untuknya. "Makasih. Tapi gak usah, ada lo di samping gue juga udah bikin penyakit gue sembuh" Wildan terkekeh pelan.

"Apaan si. Udah sana sholat, udah hampir jam enam juga" Wildan tersenyum tipis seraya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.

Setelah mengambil wudhu, Wildan pun mulai melaksanakan sholat subuhnya dengan khusyuk.

"Assalamu'alaikum warahmatullah" Wildan menoleh ke kanan kiri.

Ia mengangkat telapak tangannya untuk berdoa.

"Tanpa henti-hentinya hamba mengucapkan terima kasih kepada engkau yang telah mengizinkan hamba untuk bergabung di dalam keluarga yang baik ini. Hamba mohon berilah hamba waktu untuk berbuat baik kepada keluarga ini. aamiin" Wildan mengusap wajahnya selesai berdo'a.

Clek...

"Wil" Denira memasuki kamar untuk menjemput Wildan.

"Udah sholatnya? Yuk ke bawah sarapan dulu" ajaknya.

Wildan menatap Denira dengan tatapan yang sulit di artikan. "Ra, gue boleh minta tolong sama lo?" Tanya Wildan dengan ragu.

"Minta tolong apa?" Bingungnya.

"Dampingin gue ya supaya gue gak tersesat lagi. Tolong ingetin gue ketika iman gue lagi down" Denira mengatupkan bibirnya dan mengangguk.

"Insyaallah Wil. Tapi, lo jangan terlalu berharap berlebihan, gue juga manusia yang kadang bisa aja melakukan kesalahan" Wildan tersenyum simpul dan mengangguk.

"Udah ayo ke bawah Mamah Papah udah nungguin" Wildan mengangguk seraya melepas sarung dan pecinya. Setelahnya Ia pun berjalan keluar kamar mengikuti Denira ke ruang makan.

****

Dengan langkah santai, Denira berjalan menelusuri lorong sekolahnya yang kini sudah cukup ramai dengan siswa yang berlalu lalang di sekitar jalan. Ia tidak berangkat sekolah berbarengan dengan Wildan karena Ia takut satu sekolah akan curiga.

Wildan awalnya keukeh meminta Denira untuk ke sekolah naik motornya saja namun, Denira pun sama keukehnya menolak. Al hasil terpaksa Wildan lah yang mengalah karena Ia takut Denira akan kelewat kesal dan akhirnya mengacuhkannya.

"Denira" Denira menoleh mendengar suara seseorang memanggilnya.

"Bayu" Denira tersenyum tipis.

"Nanti ikut kajian bareng anak rohis, kan?" Tanyanya.

"Insyaallah Bay bakalan gue usahain" Bayu tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Gue pikir lo udah gak mau temenan sama gue lagi. Udah lama loh lo gak negur gue" Bayu menggaruk tengkuknya malu.

"Maaf Ra. Aku cuma pengen nenangin diri aja" Denira hanya ber-oh dan mengangguk memahami.

Mata Denira memicing saat tak sengaja mendengar suara riuh dari ujung lorong sana. Ia geleng-geleng kepala saat melihat Wildan dengan seragam basketnya berjalan melintasi lorong.

Sontak saja dengan penampilannya yang kece badai serta wajah good looking nya yang mendukung itu membuat gadis-gadis di sekitaran jalan lorong itu menjadi kesemsem dengannya.

Ia lupa jika lelaki itu most wanted SMA yang konon katanya gantengnya bak dewa Yunani pret! Denira memutar bola matanya malas. Enak sekali ya cuci mata dengan suami orang.

"Lo gak ikut basket sama si Wildan?" Tanya Denira menatap Bayu.

"Aku udah berhenti Ra. Aku mau fokus memperbaiki agama ku dulu. Dan bentar lagikan kita ada ujian sekolah jadi aku pengen fokus belajar dulu untuk mempersiapkan diri"

"Iya si. Yaudah deh gue mah dukung aja apapun yang lo pilih" Bayu tersenyum simpul dan mengangguk.

"Makasih Ra"

Dari kejauhan seorang laki-laki berseragam basket memperhatikan interaksi mereka dengan ekspresi tidak suka. Ia mengepal tangannya dan berjalan mendekati mereka berdua.

"Ra, ikut gue" Wildan tiba-tiba menarik pergelangan tangan Denira dan membawanya pergi.

Bayu hampir ingin maju untuk menolong Denira namun, Denira langsung memberinya kode untuk menahan laki-laki itu bertindak. Bayu pun akhirnya urung dan membiarkan Denira di bawa pergi oleh Wildan.

Wildan menghentikan langkahnya setelah keduanya berada di koridor dekat lapangan basket. "Apa?" tanya Denira dengan malas.

"Pakein" Wildan menyodorkan ikat kepalanya ke arah Denira.

"Lo, kan punya tangan kenapa harus gue?" kesalnya berkacak pinggang.

"Kan lo istri gue"

"Iya tapi gue bukan babu lo"

"Ssst..." Wildan meletakkan jari telunjuknya ke bibir Denira agar gadis itu berhenti protes.

"Iih..." Denira menyingkirkan tangan Wildan dengan kasar.

"Pasangin atau gue ribut sama Bayu" ancamnya dingin.

"Ck, ngancem!" Denira akhirnya mengambil ikat kepala yang Wildan pegang dengan cepat.

Lelaki itupun sedikit berjongkok agar Denira tidak kesusahan saat mengikatkan tali itu ke kepalanya. Denira pun mengikatkan ikat kepala itu dengan wajah tertekan.

"Udah!"

Denira memperhatikan penampilan Wildan dari atas sampai bawah. "Lo bilang mau hijrah, kan? Itu lutut lo aurat jadi wajib di tutup kalo lo pengen berubah"

"Tapikan seragam basket emang gini. Terus gue mesti apa dong? Gak mungkin, kan gue main basket pake seragam putih abu? Yang ada kotor baju gue atau lebih sialnya lagi bisa sobek celana gue nanti" cerocos Wildan.

Denira berdecak kesal sebelum akhirnya melepas tas ransel yang di gendongnya seraya membuka resleting dan mengambil sebuah kaos tangan dari dalam.

"Pake ini dulu"

"Makasih istri ku" Denira mengerutkan hidungnya menatap Wildan ilfil.

"Apaan si!" Wildan hanya terkekeh tanpa dosa.

"Buset!!!" Denira terkejut mendengar suara cempreng Kalina.

Ia menoleh ke kanan dimana suara itu berasal. Matanya langsung melotot melihat sosok Akhtar yang kini ikut datang bersama kedua sahabatnya.

"U__ustadz" gagunya. Panik attack mulai menyerangnya. Ia tak tau apa yang akan terjadi satu detik kedepan.

Akhtar menatapnya datar. Datar di wajah namun, penuh ekspresi menyakitkan di hatinya.

"Saya permisi" Akhtar pun berjalan pergi begitu saja tanpa berkata apapun. Bahkan, sepertinya Ia lupa mengucap salam.

Denira memperhatikan kepergian Akhtar dengan raut sendunya. Ia benar-benar merasa sesak melihat laki-laki yang dicintainya ternyata tak dapat tergapai olehnya.

"Gue latihan dulu" Wildan mengelus puncak kepala Denira sekilas sebelum akhirnya pergi ke tengah lapangan untuk bergabung bersama anggota tim lainnya yang kini sudah berkumpul.

"Aaaa.... Enak banget si jadi lo bisa dapetin most wanted boy SMA. Jadi ceritanya dari sekian banyaknya cewek yang suka sama si Wildan, lo nih pemenangnya?" Kalina mencebikan bibirnya dengan mata mengedip-ngedip menggoda Denira.

"Lebay lo ah" Denira berdecak dengan raut sebal.

"Ye... Elu" Kalina memukul pelan lengan Denira.

"Kok kalian bisa bareng sama Ustadz Akhtar si?"

"Itu tadi, Ustadz Akhtar katanya pengen bantuin kita buat mecahin kasus"

"Serius?" Denira menatap Kalina dan Salwa bergantian.

"Iya serius" balas Kalina sambil mengangguk-angguk meyakinkan Denira.

"Yaudah ayo ke kelas udah hampir bel" Denira mengeling pergi meninggalkan kedua sahabatnya.

"Eh, woy lo masih utang cerita sama kita" Kalina dan Salwa pun mengejar langkah Denira.

****

Sepanjang hari Denira selalu mengkhawatirkan kejadian siang tadi di sekolahnya. Kini Akhtar sudah tau tentang statusnya dengan Wildan, apakah ustadznya itu memutuskan untuk memberitahu kepala sekolah juga?

Sehabis dzuhur tadi Ia sempat mengikuti kajian bersama anak-anak rohis yang lain dan di situ Ia dapat melihat bagaimana sinisnya Akhtar saat melihatnya.

"Duuuh... Gimana nih" Denira memegangi kepalanya frustasi. Ia menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Mana hari ini ada pengajian lagi di masjid. Gue gak berani buat ketemu sama Ustadz Akhtar sekarang. Rasanya malu dan... Sakit gitu loh. Hufh... Emang gue si yang salah, kenapa juga gue harus nempatin rasa cinta gue sama dia" gerutunya.

Tok...
Tok...

"Masuk" sahutnya ketika pintunya di ketuk oleh seseorang.

"Ada yang mau Kakak omongin sama kamu" Denira menepuk sisi kasurnya yang kosong meminta Dean untuk duduk.

Dean pun mendekat dan duduk di samping Denira. "Santriwati yang meninggal itu namanya Felia. Dia gebetan kakak waktu SMA. Dia meninggal bukan karena bunuh diri melainkan karena di kambing hitamkan oleh sahabatnya sendiri yang diam-diam sekongkol dengan pengusaha culas"

Denira menatap kakaknya tidak percaya. "Tapi, kenapa polisi cuma mengclaimnya hanya kasus bunuh diri dan tidak di tindak lanjuti lagi?"

"Mereka mainnya rapih. Rahma membuat___"

"Rahma? Maksudnya ustadzah Rahma?" Kagetnya.

"Ustadzah kamu bilang?" Dean nampak membentuk ekspresi jijik mendengar itu.

"Menurut info dari sepupunya Kalina ustadzah Rahma yang merupakan guru aku di sekolah. Dia alumni Bani Hakim sekaligus sahabat dari orang yang bunuh diri itu"

"Iya itu bener Rahma emang sahabat dekatnya Felia. Rahma lah yang membuat kesaksian palsu yang mengatasnamakan ustadz Rizal. Dia memfitnah Ustadz Rizal telah memperkosa Felia padahal, ustadz Rizal tidak pernah melakukan itu.

Al hasil karena berita heboh itu warga sekitar demo dan meminta untuk membubarkan Boarding School. Almarhum Kyai Hakim akhirnya memutuskan untuk mengalah dan setuju memulangkan semua santrinya.

Tak lama setelah itu ada seorang pengusaha yang datang dan bernego ingin membeli lahan Boarding School itu. Entah bagaimana, akhirnya Almarhum Kyai Hakim pun memberikan lahan itu kepada si pengusaha. Tak lama kemudian terjadilah penggusuran besar-besaran dan tak sampai satu tahun hotel megah pun berdiri di lahan bekas Boarding School tersebut" Denira dengan serius mendengarkan cerita dari sang Kakak.

"Jadi bener hotel itu yang dulunya bekas bangunan Boarding School?" Dean mengangguk.

"Kakak, kan tau cerita yang sebenarnya kenapa gak ngebela?"

"Gak semudah itu Ra. Kakak awalnya sudah meretas data CCTV rooftop yang mana menjadi satu-satunya bukti terkuat untuk menjebloskan Rahma dan pengusaha culas itu ke penjara. Tapi, secara tiba-tiba rekaman itu hilang entah kemana"

"Terus ustadz yang terfitnah itu gimana?" Dean menunduk sedih mengingat kejadian itu.

"Sampai sekarang masih di penjara atas tindakan yang tak pernah beliau lakukan. Jujur, sebenarnya Kakak pengen banget bebasin ustadz Rizal. Kakak gak tega ngeliat beliau di perlakukan gak adil kaya gini
Tapi, Kakak bukannya berusaha buat menolong beliau Kakak malah memutuskan buat pindah sekolah yang alhasil bikin pergaulan Kakak menjadi semakin buruk" Denira menatap sang Kakak dengan sedih.

"Kakak mau ikut aku nyari bukti?"

"Kamu yakin bisa berhasil?" Dean nampak ragu.

"Insyaallah Kak, selama kita yakin Allah pasti akan mempermudah"

"Kakak punya rencana" Dean mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Denira.


_


_



_

Takdir Sang CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang