Bab 25

93 6 0
                                        

5 Tahun berlalu begitu cepat, tentunya sudah waktunya bagi Denira untuk kembali ke tanah airnya karena kini, Ia telah menyelesaikan study S1-nya di Al-Azhar Kairo Mesir.

"Alhamdulillah ya Allah" Denira mengusap wajahnya ketika kakinya telah terpijak ke daratan setelah dirinya berada di dalam pesawat kurang lebih 10 jam.

Denira pun menggeret kopernya bergegas keluar dari bandara. Tentunya sebelum Ia keluar, terlebih harus melewati petugas keamanan yang berjaga. Setelah pengecekan di nyatakan aman, Denira pun kembali melangkah dengan tenang.

"Aku kangen banget sama Mamah, Papah, Kak Dean dan Kalina. Pasti mereka seneng banget pas ngeliat aku pulang" Denira tersenyum membayangkan bagaimana raut terkejut dari wajah keluarganya.

Ia pun duduk di salah satu bangku panjang penungguan yang di sediakan, menunggu taksi online yang sedang di pesannya datang. Sambil menunggu, Ia pun memutuskan untuk bermain handphone sebagai penghilang rasa bosannya.

Seorang laki-laki berhoodie hitam duduk di samping Denira sambil memangku anak kecil di pahanya. Laki-laki itu menghela nafas dan sesekali celingukan entah mencari apa.

"Ck, mana si taksinya lama banget" decak Denira seraya menatap ke jalanan sekitar.
Saat Ia menoleh ke samping, atensinya tak sengaja mendapati seorang laki-laki yang sangat familiar di matanya.

Denira pun mengamati sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menyapa.

"Maaf"

laki-laki itu pun menoleh dengan tatapan bingungnya. "Iya ada yang bisa saya bantu Mba?" Balas laki-laki itu.

Deg...

Denira langsung terdiam cengo melihat wajahnya. Laki-laki itu benar-benar Akhtar dan yang Ia dapati setelah lama tidak berjumpa, wajah dan tubuh laki-laki itu masih sama bentuknya seperti 5 tahun lalu tidak ada yang berubah sama sekali malahan, dia semakin tampan saja.

"Ustadz Akhtar?" Tanyanya hati-hati karena takut salah orang.

"Iya? Kamu mahasiswa saya kah?"

"Saya Denira Ustadz, murid Ustadz di SMAIT Bani Hakim dulu" kata Denira.

Mata Akhtar melebar sempurna mendengar itu. Ia pikir Ia tidak akan pernah bertemu dengan Denira lagi untuk selamanya tapi ternyata, hari ini takdir mempertemukan mereka kembali secara tiba-tiba.

"Oh Denira, iya-iya saya ingat. Maaf kamu banyak berubah sekarang, makanya saya lupa. Dulu, kamu pendek, sekarang sudah lumayan tinggi" kekeh Akhtar.

"Ustadz bisa aja" Denira menunduk malu.

"Kamu habis dari mana? Sendirian aja? Wildan mana?" Denira menghela nafas dengan ekspresi sedihnya mendengar pertanyaan yang Akhtar lontarkan.

"Saya baru saja menyelesaikan kuliah saya di Al-Azhar Mesir Ustadz. Wildan sudah meninggal lima tahun lalu akibat kanker darah yang di deritanya. Sejak Wildan meninggal, saya memilih untuk fokus mengejar cita-cita saya. Saya tidak mau mengecewakan dia karena dialah yang telah membekali materi untuk saya, sampai akhirnya saya bisa lulus S1 seperti ini" cerita Denira yang sukses membuat Akhtar shock.

"Inalillahiwainnailaihiraji'un. Saya turut berdukacita ya" Denira tersenyum tipis dan mengangguk.

"Terimakasih Ustadz"

"Ngomong-ngomong, anak Ustadz lucu juga. Ibunya kemana?" Tanya Denira karena Ia melihat jika Akhtar sedari tadi sendirian saja padahal dia kini sedang menggendong anak kecil yang tertidur.

"Ini?" Akhtar menunjuk anak kecil yang tertidur di pangkuannya tersebut. Denira pun mengangguk sambil bermain dengan pipi anak kecil itu.

"Ini anaknya Kak Afkar. Saya belum menikah" Refleks mulut Denira terbuka mendengar itu. Apa katanya? Belum menikah? Yang benar saja?

Takdir Sang CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang