Bab 23

81 8 0
                                        

Kini Denira, Salwa, Kalina dan Akhtar sedang duduk di salah satu meja kantin sambil berdiskusi mengenai penelitian mereka. Akhtar nampak menghela nafas dan menatap ketiganya dengan perasaan berat hati.

"Saya berikan flashdisk ini kepada kalian sebagai bukti kejahatan yang telah Rahma perbuat" Akhtar meletakkan flashdisk berwarna hitam itu ke atas meja. Ia sebelumnya sempat menjelaskan bagaimana Ia bisa mendapatkan flashdisk itu.

"Maaf, saya sudah tidak bisa membantu kalian lagi karena mulai besok dan seterusnya Ustadzah Cindi sudah kembali mengajar disini lagi dan tentunya saya akan keluar sesuai perjanjian" mendengar itu membuat raut ketiga gadis itu berubah menjadi sedih. Terutama Denira yang langsung merasakan sesak yang begitu dalam.

"Jikalau Ustadz sudah tidak disini lantas Ustadz akan mengajar dimana?" Tanya Kalina.

"Saya akan melanjutkan S2 ke Yogyakarta"

"Terus tugas Ustadz di masjid bagaimana?" Tanya Salwa.

"Mas Dahlan yang akan menggantikan. Mas Dahlan itu suaminya Ustadzah Wardah beliau juga seorang Ustadz" Salwa mengangguk-angguk faham.

Berbeda dengan kedua sahabatnya yang bertanya-tanya terlihat, Denira hanya diam dengan wajah murungnya. Tak ada tanda-tanda Ia ingin melontarkan pertanyaan sama sekali.

Akhtar mengalihkan pandangannya ke arah Denira. Entah kenapa rasa sakit itu kembali Ia rasakan saat melihat wajah cantik gadis itu. Gadis yang Ia taruh rasa namun, tak bisa Ia miliki.

"Denira" Denira yang kini sedang menunduk pun menoleh.

"Iya Ustadz" balasnya berusaha menormalkan ekspresi wajahnya.

"Belajar yang rajin ya ingat cita-cita kamu" Denira tersenyum tipis dan mengangguk.

"Insyaallah Ustadz"

🍕🍕🍕

Denira geleng-geleng kepala melihat sosok laki-laki yang kini sedang duduk bersender di pagar rooftop sekolah sambil merokok dengan santainya. Ia pun mendekati laki-laki itu dan berdiri di belakangnya.

"Wil ayo pulang" mendengar suara Denira membuat Wildan menoleh.

Mereka tadi pagi memang berangkat satu motor karena seperti biasa, pasti ada saja sesekali kemogokan yang motor Denira alami.

Wildan menepuk tempat sampingnya yang kosong. "Temenin gue bentar disini" pintanya.

Denira menghela nafas. Ia pun akhirnya mau duduk di samping Wildan. "Lo kenapa si suka banget di sini. Dulu-dulu juga gue denger lo suka bolos kesini ya?" Wildan mengangguk dengan mata menatap langit.

"Gue dulu-dulu sering stres Ra. Sekarang juga masih si dikit-dikit"

"Kenapa?" Denira menatap Wildan dengan satu alis terangkat.

"Karena sering di omelin lo" Denira mendorong tubuh Wildan pelan.

"Yee elu" Wildan terkekeh pelan.

"Pas gue masih tinggal di rumah bokap gue, gue hidup di dalam ketakutan. Gue takut buat ngapa-ngapain karena kalo gue ngelakuin kesalahan sedikit aja Papah gue bakalan langsung marah. Dulu, gue nurut sama almarhum Mamah dan itu yang bikin Papah marah karena dia nganggep gue gak sayang sama dia.

Padahal mamah cuma nyuruh gue buat ngaji, sholat, dan belajar agama yang menurut gue lebih gampang dari pada perintah Papah yang nyuruh gue buat belajar cara mengolah perusahaan, cara menjadi orang yang kaya raya, dan selalu menjadi juara satu.

Awalnya si iya gue sering juara satu pas SD tapi, lama kelamaan karena tekanan Papah yang semakin keras bikin otak gue seolah ngeblank dan gelar juara itu tiap tahunnya menurun" Wildan menunduk menjeda ucapannya.

Takdir Sang CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang