Bab 26

302 7 1
                                        

Seorang gadis berhijab putih nampak sedang duduk bersila di pinggir sebuah makam bernisan putih sambil mulutnya komat-kamit membaca do’a. Ia mengusap wajahnya setelah do'a yang di lafadzkannya selesai. Bibirnya membentuk lengkungan kecil sambil tangannya mengelus batu nisan putih itu.

“Gue tinggal dulu ya Wil. Assalamu’alaikum” Denira beranjak dari posisinya seraya berjalan pergi.

Ia mengedarkan pandangannya menatap ke sekitar dengan sendu. Sejujurnya Ia sudah merasa kesepian di umurnya yang sudah bukan anak remaja lagi ini.

Teman-temannya yang lain banyak yang sudah berkeluarga, sedangkan Ia? Masih saja setia di status jandanya.

“Ya Allah aku memang masih muda tapi, aku tidak tau apakah engkau menjodohkan ku dengan maut ku terlebih dahulu ataukah dengan seorang Ikhwan yang engkau takdirkan” monolognya sambil terus berjalan keluar dari area makam.

Bruk...

Denira terkejut saat tiba-tiba ada seorang anak yang terjatuh di hadapannya. Posisinya sekarang, Ia sudah keluar sepenuhnya dari area TPU dan berada di jalanan sekitarnya saja.

“Astagfirullah hala’dzim” Denira langsung mendekati anak itu dan membantunya bangun.

“Kamu gak papa?” Tanya Denira menatap wajah anak itu.

“Enggak papa Kak, Rasha Cuma kesandung doang” balas anak laki-laki yang kira-kira berumur sepuluh tahun itu.

“Rasha? Nama kamu Rasha?” Denira memperhatikan wajah anak laki-laki itu dengan seksama. Jika di lihat-lihat memang mirip sekali dengan anak kecil yang pernah akrab dengannya lima tahun lalu.

“Kamu ngapain di sini sendirian? Orang tua kamu mana?” Denira celingukan mencari seseorang yang mungkin saja ikut bersama anak laki-laki itu.

“Abi sama Umi lagi ziarah Kak, Rasha bosen nungguin Abi do’a lama banget. Jadi, Rasha diem-diem pergi kesini deh” keluh anak kecil itu.

“Kalo boleh tau siapa nama Abi Umi kamu?”

“Abi Dahlan sama Umi Wardah Kak” Denira mengerjap terkejut mendengar itu. Jadi benar anak laki-laki di depannya ini adalah Rasha kecil yang pernah akrab dengannya lima tahun lalu.

“Masyaallah. Kamu sudah besar” Denira berjongkok dan membelai lembut rambut anak laki-laki itu.

“Kakak kenal sama Rasha?” Rasha menunjuk dirinya sendiri. Denira membalas dengan senyuman dan anggukan.

“Ini Kak Rara. Kamu lupa sama Kak Rara?”

“Kak Rara?” Rasha menggaruk pipinya mengingat-ingat.

“Kak Rara pacarnya Kak Akhtar itu ya?” Rasha menatap Denira dengan antusias saat otak anak itu berhasil mengingat memori masa lalunya.

Denira mengerjapkan matanya terkejut mendengar itu. Jadi sampai sekarang pun Rasha masih mengira jika Ia dan Akhtar pacaran? Lucu sekali anak ini.

“Iya Kak Rara yang kamu bilang pacarnya Kak Akhtar itu” Rasha ber-oh dan mengangguk-angguk.

“Oh gitu” tubuh Denira langsung mengejut saat tiba-tiba suara Akhtar terdengar dari belakangnya.

“Astagfirullah” Akhtar tersenyum tipis seraya mendekati Rasha.

“Maaf Ustadz, maksud saya bukan seperti itu. Karena Rasha sedari dulu mengira saya pacarnya Ustadz jadi, saya mencoba mengingatkannya dengan mengatakan itu” jelasnya kikuk.

Akhtar melipat kedua tangannya dan mengangguk-angguk. Denira pun memilih untuk menundukkan pandangannya lantaran merasa canggung dan malu sekali!!!

“Ra...” Denira pun melirik sekilas ketika Akhtar memanggilnya.

“Iya Ustadz” balasnya tanpa menatap.

“Rumah kamu masih di komplek Adibakti, kan?” Tanya Akhtar entah apa tujuannya menanyakan hal itu.

“I__iya Ustadz” balas Denira sedikit gagu.

“Boleh saya main ke rumah kamu besok malam?” Dahi Denira mengernyit mendengar itu. Ia pun mengangkat wajahnya dan menatap wajah Akhtar sepenuhnya.

“Ya... Boleh. Tapi, kalo boleh tau ada perlu apa Ustadz tiba-tiba ingin ke rumah saya?” Akhtar mengalihkan pandangannya dan tersenyum sebelum menjawab.

“Sepertinya tidak perlu saya beritahupun harusnya kamu sudah faham” Denira menunduk dengan raut tegangnya. Tidak mungkin Akhtar ingin....

“Saya duluan Ustadz, Mamah saya sudah menyuruh pulang” Denira berpura-pura melihat layar handphonenya sebagai alasan agar Ia dapat pergi dari situasi canggung ini.

“Assalamu’alaikum” ucapnya sebelum pergi.

“Wa’alaikumsalam” jawab Akhtar tanpa menatap Denira karena jujur, Ia sendiri merasa grogi karena perkataannya tadi.

“Cieee... Pak dosen CLBK sama gebetan lamanya nih” Akhtar terkejut saat tiba-tiba Afkar, Tasya, ustadzah Wardah dan ustadz Dahlan menghampirinya setelah Denira pergi.

“Mas dukung kalo kamu memang mau serius sama Denira. Mas tau dia perempuan berakhlak baik dan fibesnya religius. Setelah Mas mendengar bahwa dia lulusan dari Al-Azhar, Mas langsung memintanya untuk mengajar pengajian di masjid menggantikan Mas yang sering kali tidak masuk karena kebanyakan job ceramah di luar, dan alhamdulilah sudah empat hari berjalan dia mampu melaksanakan amanat yang Mas embankan dengan baik.

Mas salut sama keunggulan publik speakingnya. Dia dapat menempatkan porsi dakwahannya sesuai dengan umur para jamaah yang di ajarkannya jadi, para jama’ah pun tidak merasa bosan untuk mendengarkan materi dakwah yang di sampaikannya” Dahlan merangkul pundak keponakannya itu.

“Kakak juga Tar. Udah, besok malem Kakak sama Mas Dahlan ikut anterin kamu lamaran” keukeh Afkar. Akhtar tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya malu.

****

“Jadi, tujuan saya dan kedua kakak saya kemari saya berniat untuk meminang putri Bapak yang bernama Denira Tiana Meisya untuk menjadi istri saya” Akhtar mengatakan itu di depan Tirta dengan begitu tenang.

Seperti yang dia katakannya kemarin siang, malam ini tanpa babibu lagi Akhtar langsung berkunjung ke rumah Denira untuk menyampaikan niatnya. Namun, sayangnya saat Ia datang ternyata Denira sedang tidak ada di rumah karena kini perempuan itu sedang berada di masjid untuk memimpin pengajian para ibu-ibu.

Clek...

“Assalamu’alaikum” semua mata langsung tertuju ke arah perempuan berhijab pink yang kini baru masuk. Akhtar pun tersenyum melihat Denira pulang.

“Wa’alaikumsalam” jawab semua orang.
Melihat ada tamu, Denira pun mendekati para tamu tersebut seraya menangkup tangan ke arah para tamu laki-laki itu sebagai tanda menghargainya.

“Rara, ayo duduk dulu” Fira meraih tangan Denira dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.

“Denira” panggil Tirta lembut.

“Iya Pah?”

“Kamu pastinya sudah mengenal nak Akhtar, kan?” Denira tersenyum dan mengangguk membalas pertanyaan sang Papah.

“Nak Akhtar kemari karena ingin menyampaikan niat baiknya terhadap kamu, yaitu Nak Akhtar ingin meminang kamu untuk menjadi istrinya. Bagaimana? Apakah kamu sudah siap untuk berumah tangga kembali?” Denira menghela nafas dan menunduk.

“Pastinya Ustadz Akhtar sudah tau keadaan saya sekarang. Status saya sudah bukan seorang gadis lagi karena sebelumnya saya sudah pernah menikah. Jika memang Ustadz bersedia dan ikhlas menerima saya apa adanya dengan status saya ini, silahkan lanjutkan niat baik Ustadz” jawabnya seolah menerima dengan kalimat tidak langsung.

“Jadi, kamu menerima saya?” Denira tersenyum sekilas di bawah tundukkannya sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Alhamdulillahirobbilalamin” ucap semua orang merasa bahagia.







_

_


_



Jangan lupa voment ❤️

Takdir Sang CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang