Denira menghela nafas gusar sambil memperhatikan jam bulat di atas dinding. Sudah menunjukkan pukul 12:00 am namun, Wildan tak kunjung pulang juga.
Dan ini sudah terjadi empat malam berturut-turut. Bukan apa, Ia hanya khawatir Wildan akan kembali pada kebiasaan lamanya yaitu pergi ke club untuk mabuk-mabukan dan bermain wanita di sana.
Denira mengambil handphonenya yang Ia letakkan di atas meja. Seperti malam-malam sebelumnya, Ia selalu memperhatikan kontak WhatsApp Wildan di handphonenya namun, Ia merasa gengsi untuk menelpon ataupun mengirim pesan.
"Selalu aja begini. Hufh... Tungguin aja deh nanti juga pulang sendiri" putusnya akhirnya dan meletakkan handphonenya kembali ke atas meja.
Clek...
"Assalamu'alaikum" Denira menoleh mendengar pintu rumah terbuka dan menampilkan sosok Wildan di ambang pintu.
"Wa'alaikumsalam" jawabnya dengan raut kesal.
"Wil, lo jangan boong deh. Lo pasti pergi ke club, kan?" Wildan menggeleng pelan.
"Enggak Ra. Gue habis dari kantor, kantor gak ada yang ngurus. Lo, kan tau Papah gue orangnya gak becus dan cuma gue satu-satunya anak tunggal yang bisa di andalkan" jelas Wildan.
Denira memejamkan matanya dan menghela nafas. "Bener?" Wildan mengangguk menatap Denira dengan mata sayunya.
Entah kenapa melihat Wildan yang nampak kelelahan membuat Denira tidak tega. "Ayo ke kamar istirahat" Denira berjalan duluan menuju kamarnya.
Wildan memperhatikan punggung Denira dengan senyuman simpul. Walaupun Denira sering kali marah-marah dan mengacuhkannya di depan namun, Wildan yakin jika sebenarnya gadis itu masih memiliki kepedulian di hatinya yang tidak dia tunjukan melalui ekspresi secara langsung. Buktinya, dia rela mengorbankan setengah jam tidurnya demi menunggu dirinya pulang.
"Maaf Ra udah ngerepotin lo" monolognya seraya berjalan mengikuti Denira yang sudah berjalan jauh.
****
Tuk...
"Astagfirullah hala'dzim" Akhtar mengejut saat sang Kakak tiba-tiba datang dan menepuk pundaknya.
"Kamu kenapa si Tar? Kakak liat beberapa hari ini galau terus, diem terus. Ada masalah apa?" Tanya Afkar nampak khawatir.
"Enggak papa kok Kak"
"Tuh kan! Kalo di tanya selalu jawabnya gak papa. Gak mungkin kamu gak kenapa-kenapa tapi galau begini" omel Afkar yang sudah geram dengan sang adik.
"Maaf Kak. Tapi, sejujurnya aku lagi patah hati" Afkar menatap Akhtar dengan mata melotot.
"Seriously? Kok bisa? Bukannya kamu suka sama murid kamu yang itu ya? Kenapa? Dia nolak kamu?" Akhtar menggeleng lesu.
"Dia diam-diam udah nikah. Aku sempet nanya sama temennya alasan dia nikah secepat ini dan kata temennya dia terpaksa menikah demi melunasi hutang-hutang keluarganya" Afkar merangkul pundak sang adik berusaha memberinya semangat.
"Kamu yang sabar ya, Kakak yakin selalu ada hikmah di balik ujian yang kamu alami sekarang" nasehat Afkar.
"Aku setiap malam selalu berdoa untuk mendapatkannya lewat jalur langit namun, aku tau Allah punya skenario lain untuk hidup aku yang mungkin lebih baik daripada sekenario yang aku ekspektasikan sendiri"
"Semangat ya, kamu harus fit dulu. Karena minggu depan kakak mau nikah jadi, Kakak gak mau kamu galau-galau" Akhtar melebarkan matanya terkejut.
"Ha? Kok Kakak baru ngasih tau aku sekarang? Kapan ngelamarnya?" Afkar hanya terkekeh geli melihat ekspresi terkejut sang adik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Sang Cahaya
EspiritualPerannya bagaikan cahaya. Dia tercipta sebagai manusia biasa yang mempunyai dosa dan rentan dengan kesalahan manusiawi. Dia hanyalah seorang gadis sederhana yang terlahir dari keluarga sederhana juga. Namun, dalam kesederhanaannya dia mampu menghada...
