Hazel menghampiri Anya yang tengah duduk di kursi panjang teras rumah. "Sorry ya An. Malah kamu yang jadi tumbal uncle Jo."
Anya terkekeh mendengar perkataan Hazel. "Santai! Ini tuh salah satu persiapan gue!"
"Persiapan?" Ia pun duduk disebelah Anya.
"Kalau gue nanti udah jadi atlet terkenal disegala belahan dunia, gue bakal beli mobil! Jadi, gue nggak perlu kepanasan lagi pas diluar!"
Hazel tertawa dengan kehaluan Anya. Anya Chelzea, suka membayangkan kehidupan enak orang kaya. Sebenarnya tak salah sih, ia anak yatim piatu yang sangat tidak beruntung dibanding anak yatim piatu yang lain.
Walau lebay, Hazel hanya bisa tertawa dan mengiyakan kehaluan sahabatnya itu.
"Iya deh! Nanti kalau udah cukup umur, kita bisa tes mengemudi bersama."
Anya kaget. "Lo udah bisa nyetir?"
"Orang Zarka wajib bisa nyetir sih. Kalau enggak, jadi bahan ejekan orang sini. Ya kaya elo lah, orang Itya tapi nggak bisa renang."
"Iya deh! Iya!"
Seperti seperti sebuah keharusan. Orang Zerka harus bisa menyetir dan orang Itya harus bisa berenang. Memang tak ada aturan resmi. Seperti sebuah tren, kalau tak bisa mengikuti bakal dianggap aneh.
"Emang kayaknya gue bukan orang Itya deh."
"Terus, elo orang mana?"
"Gue ini anak negri kayangan yang satu bangsa dengan bidadari. Mangkanya gue nggak bisa renang."
Wajah Hazel menjadi datar. "Sejauh ini, ini yang paling jauh. Kehaluan lo yang ini udah tahap menghawatirkan. Mau gue anter ke rumah sakit jiwa?"
"Woi! Mulut lo ini ya!" Anya pun mencubit bibir Hazel.
Hazel segera menarik tangan Anya. Demi apapun! Cubitan Anya sangat sakit!
.
.
.
.
.
"Jangan sampai nabrak ternak warga ya An!" Sembari tertawa, Hazel menutup pintu mobil.
Anya hanya melirik sinis Hazel yang ada diluar mobil. Ia menurunkan kaca mobil agar Hazel dan Kelly bisa melihat wajahnya. "Kurang ngajar lo Zel!"
Jo yang tengah duduk disamping Anya tertawa. "Tenang saja! Rute yang uncle pilih sepi dan aman!"
"Ya sudah. Hati-hati ya kalian berdua! Semangat!" Ucap Kelly lalu menggiring Hazel untuk pulang ke rumah.
Kini tinggal Anya dan Jo yang tersisa. Bukan karena mau menyetir, tapi berdua dengan Jo dalam satu mobil membuat gugup. Tubuh Anya menjadi dingin seketika.
"Kau baik-baik saja kan Anya? Kau takut?" Tanya Jo khawatir.
Anya menggeleng cepat. "Tidak apa-apa! Saya hanya ... gugup, ya! Gugup! Pertama kali saya menyetir mobil."
Sebenarnya Jo tak percaya dengan alibi Anya. Apalagi gelagatnya bukan seperti orang gugup pada umumnya. Tapi ia percaya saja dengan gadis itu dan mungkin saja dia memang gugup karena hendak menyetir.
"Langsung mulai ya Anya. Yang ada dihadapan mu itu ada stir mobil, fungsi nya untuk mengendalikan arah laju mobil."
Berusaha tenang. Anya memegang stir mobil lalu memutarnya ke kiri dan ke kanan secara perlahan. Menghirup napas panjang lalu membuangnya secara perlahan, berusaha membuang beban yang ada dipikirannya.
Jo pun menjelaskan tentang rem, kopling, tuas gigi, spidometer dan lain-lain. Penjelasan nya detail, hanya saja itu seperti masuk dari kuping kanan lalu keluar dari kuping kiri bagi Anya. Padahal Jo sudah menjelaskan secara ringkas dan mudah dipahami.
"Mengerti kan Anya?"
Anya mengangguk bohong. "Iya. Jadi, pertama kita putar tuas gigi nya kan?"
Jo menghela napas berat. "Bukan Anya, putar kunci mobilnya."
Gadis itupun memutar kunci mobil dan menyalakan mesin. "Sudah bunyi!"
"Bagus. Sekarang, pijak kopling secara penuh lalu putar tuas gigi. Jangan banyak-banyak, satu saja."
Anya sudah menginjak pedal kopling secara penuh, tapi kebingungan saat memasukan gigi. "Ini cara muternya gimana uncle? Maju apa mundur?"
Jo tersenyum terpaksa. Seperti nya Jo sadar kalau Anya ini tak paham penjelasannya tadi. "Kedepan Anya, kan kita mau maju." Jadilah ia yang memutar tuas nya.
Guru mengemudi itu menyuruh untuk menekan gas dan melepaskan pijakan di kopling. Dengan ragu-ragu dan sedikit drama Anya, akhir nya mobil tersebut dapat berjalan.
"Pantes Spongepop nggak lulus-lulus pas belajar mengemudi. Emang sesusah ini!" Batin Anya menangis.
"Mudah kan Anya! Asal tidak tegang, mobilnya akan lebih mudah dikendalikan," Ucap Jo sembari tertawa.
"Gampang pala lu! Ini tangan gua udah membeku!" Umpat Anya dalam hati.
Mobil yang ditunggangi Anya dan Jo berjalan secara perlahan di jalanan sepi. Ini adalah jalan hendak ke sungai. Orang Zerka pergi ke sungai saat pagi dan sore hari, tidak di siang bolong seperti saat ini.
Walaupun tengah hari, kali ini cuaca sedikit mendung. Jadi, matahari tak begitu nampak dan menyilaukan pandangan Anya ketika menyetir.
Semuanya nampak lancar. Anya sekarang lebih tenang dalam menyetir walaupun tubuh nya masih terasa sangat dingin. Jo juga jadi lebih santai lalu mengeluarkan ponselnya karena berdering panggilan masuk.
Baru saja sepuluh menit berjalan. Seorang gadis tiba-tiba melintas didepan mobil. Anya terkejut lalu refleks menginjak pedal rem. Terlambat, gadis yang melintas itu tertabrak dan jatuh didepan mobil.
"Kenapa kau berhenti Anya? Uncle sedang telpon ini!" Protes Jo.
Mata Anya melotot dengan tubuh bergetar. "Uncle tidak lihat? Tadi ada gadis melintas! Anya nabrak dia!"
Jo seketika panik. Setelah mematikan mesin mobil, keduanya keluar lalu mengecek kedepan mobil. Benar, ada gadis yang tergolek lemah di jalan aspal.
"Gimana ini uncle! Aku nggak mau dipenjara!" Anya pun menangis.
Walau sebenarnya Jo juga takut, ia berusaha berpikir tenang. "Ini salah uncle. Seharusnya tidak main ponsel tadi."
"Terus ini gimana!"
"Kita bawa dia ke rumah sakit. Semuanya biar uncle yang urus. Kamu jangan risau ok!"
Habislah!
Belum juga genap tujuh belas tahun, Anya sudah menabrak orang. Kalau komite Asrama Atlet Melawa tahu, ia bisa dikeluarkan. Masa depan Anya dipertaruhkan saat ini.
"Mending gue mati aja kalau nggak bisa jadi atlet gara-gara ini. Gue nggak mau balik ke panti sialan itu!"
.
.
.
.
.
.
Anya nabrak orang tuh.
Gimana nasibnya ya? Kayaknya dikeluarkan dari list Atlet bulutangkis:(
Sebelum lanjut, follow akun ini biar kamu nggak ketinggalan kisah Anya.
See you on next chapter.
Golden and Blue
Story by assitami
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Golden and Blue
Teen FictionJadi Atlet itu menyenangkan, tapi tidak lebih menyenangkan dari menjadi orang kaya. Itulah yang Anya pikirkan. Setiap hari berhayal bisa menjadi orang kaya dan hidup enak. Hingga suatu hari ia menabrak Angel menggunakan mobil. Sebagai ganti rugi, A...
