target putus pertama

23 4 2
                                        

"Kau sudah hapal dengan semua ruangannya bukan?"

Anya tersenyum lebar. "Mungkin besok aku ingat!"

Sebenarnya gadis itu hanya ingat sedikit tentang rumah ini. Tadi, Lona mengajaknya mengitari rumah 3 lantai itu. Di lantai satu, ada ruang tamu, meja makan, dapur serta kamar Angel. Di lantai dua ada kamar tamu dan juga kamar orang tua Angel. Kalau di lantai tiga ada beberapa fasilitas khusus seperti alat fitness, bioskop pribadi dan beberapa yang Anya tak paham.

Luar biasa besar!

Anya butuh waktu untuk menghapal nya. Kalau Lona berbaik hati menunjukannya lagi.

"Jangan bilang kau tidak ingat!" Lona menghela napas berat.

"Rumah ini itu sangat besar! Aku menghapal tempat Asrama Atlet Melawa saja butuh 2 minggu penuh! Wajar aku tak hapal!" alibi Anya.

Tak mau memperpanjang masalah, Lona mempersilahkan Anya untuk duduk. "Kau tunggulah disana! Aku akan memasakan sesuatu untuk mu."

Anya hanya mengangguk lalu duduk di tempat yang Lona tunjuk. Setelah Lona benar-benar pergi, Anya memperhatikan sekitar. Ruang makan besar dengan meja kayu jati besar bisa menampung 16 orang, 7 orang disisi kiri dan 7 orang disisi kanan serta 1 disetiap ujung sisi.

Gadis itu duduk di salah satu ujung meja. Tak berhenti terkesima dengan suasana mewah ruang makan ini. Apalagi dengan kursinya, benar-benar empuk dan nyaman, tidak seperti kursi yang ada di panti asuhannya dulu.

Dibalik kemewahan rumah ini, satu hal yang sangat terasa, sepi. Rumah ini terlalu sepi walaupun ada belasan penjaga rumah, belasan asisten rumah tangga dan belasan pekerja yang lain.

"Apa Angel anak tunggal? Angel tak berkata apapun tentang keluarga nya," gumam Anya.

Sudah 15 menit berlalu, Anya masih anteng duduk menunggu Lona. Akhirnya, sosok yang ditunggu itu pun muncul. Sepiring mie yang Anya tak tahu apa namanya, tersaji diatas meja. Baunya cukup menggiurkan.

"Wah, apa ini? Baunya enak sekali!" kata Anya berbinar.

"Ini namanya spaghetti. Orang miskin seperti mu pasti baru pertama kali mencobanya." Lona pun duduk di kursi sebelah Anya. "Makanlah!"

Walaupun sedikit tersinggung, Anya menghiraukan nya. Ia memilih menggeser piring agar lebih dekat dengan nya lalu mulai menikmati spaghetti tersebut. Rasa gurih spaghetti benar-benar membuat Anya ingin menangis, apalagi ditambah udang sebagai toping, benar-benar perpaduan sempurna!

"Bagaimana? Enak bukan?" kata Lona puas.

"Enak sekali!" Anya begitu lahap memakan spaghetti tersebut.

Di sela-sela Anya makan, Lona teringat sesuatu. "Apa nona Angel memberi mu smartphone?"

Seketika itu juga Anya berhenti dan menatap Lona, ia menelan makanan nya terlebih dahulu sebelum menjawab. "Smartphone itu yang buat telpon bukan? Yang panjang dan tidak ada tombolnya?"

"Iya. Apa kau membawanya?"

Anya merogoh saku piyama yang ia kenakan lalu mengeluarkan sebuah smartphone mahal berwarna ungu cerah. Anya pun menyerahkannya ke Lona. "Apa itu punya Angel?"

Lona menerimanya. "Benar. Ponsel ini ter .... Eh! Ponselnya tidak terkunci!"

Asisten muda itu sangat terkejut ketika mendapati ponsel mahal milik Angel tidak ada kata sandi ketika masuk. Apa ini ulah Anya? Ia pun menatap Anya.

Gadis yang ditatap itu menjadi risih. "Kenapa melihat ku seperti itu? Aku tak melakukan apapun!"

Anya adalah gadis miskin. Tak mungkin dapat membeli ponsel mewah. Mungkin ini pertama kalinya Anya memegang ponsel layar sentuh seperti ini. Untuk pertama kalinya, Lona percaya kalau Anya tak melakukan apapun kepada ponsel Angel.

"Maafkan aku. Aku hanya terkejut ponsel nona Angel tidak ada sandi privasi. Ini seperti bukan dia," ucap Lona.

"Yasudahlah! Memangnya untuk apa benda itu?"

Lona pun mengotak-atik sebentar lalu menunjukan sebuah foto. "Kau lihat ini! Ini adalah foto Chiko, pacar pertama nona Anya."

Anya memperhatikan secara seksama foto orang yang bernama Chiko itu. Tampan sih, apalagi difoto tersebut ada Angel. Tapi yang menjadi perhatian, mengapa wajah Chiko ini sangat ceria sementara wajah Angel sangat suram?

"Tapi kenapa ekspresi Angel seperti itu? Apa dia sedang marah dengan Chiko?" tanya Anya penasaran.

Lona menghela napas lalu menarik ponsel dari hadapan Anya. "Karena memang nona Angel tak mencintai Chiko."

"Kalau tidak cinta, kenapa mau jadi pacar?"

"Panjang ceritanya."

"Ya pendekan dong! Aku penasaran!"

"Tidak ada waktu."

Anya menghela napas berat. Ia kepalang penasaran. Kalau tidak cinta kenapa bisa menjadi sepasang kekasih? Anya benar-benar tak mengerti jalan pikiran Angel.

"Yang kedua, Mateo. Dia lebih seperti jengah dengan nona Angel ketimbang mencintai nya." Lona menunjukkan sebuah foto candid laki-laki tengah bermain basket. Walaupun bukan atlet, Anya cukup terpesona dengan pose nya.

"Kalau dia kenapa bisa menjadi pacar Angel?"

"Nona Angel dan nona Rachel bersaing .... "

"Tunggu! Siapa itu Rachel?"

Lona menatap jengah Anya. "Bisa tidak jangan menyela?"

Anya hanya bisa cengegesan dan mempersilahkan Lona untuk kembali bercerita.

"Mereka bersaing untuk mendapatkan Mateo. Nona Angel dan nona Rachel adalah saudara sepupu yang tidak akur. Singkat nya, nona Angel bisa mendapatkan Mateo karena koneksi perusahaan," lanjut Lona.

"Koneksi perusahaan bagaimana? Terus kenapa si Chiko tidak marah?"

Lona menggeleng pelan. "Aku tak tahu detailnya. Si Chiko ini sangat bucin kepada nona Angel, apapun yang terjadi dia harus menjadi pacar nona Angel."

"Udah gila si Chiko ini."

"Memang. Dia sangat memuja nona Angel."

"Kalau sangat memuja berarti dia penurut dong! Jadi, target putus pertama ku adalah Chiko!"
.
.
.
.
.

Share cerita ini biar teman mu juga baca:)

Golden and Blue.
Story by assitami.

Tbc

Golden and BlueCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang