enjoy this life

19 4 0
                                        

"Kenapa tidak ada hukuman padahal Angel sudah tidak masuk selama 2 minggu?"

"Itu karena aku sudah mengajukan izin kepada wali kelas 1B. Jangan tanya bagaimana caranya, panjang ceritanya."

Anya menghela napas lega. Ia pun menoleh ke kanan dan ke kiri. Sepi karena ini adalah lorong  menuju gudang. Siapa juga yang mau ke gudang?

Tiba-tiba saja Lona menelpon untuk memastikan keadaan Anya. Setidaknya Lona tidak benar-benar melepas Anya.

"Baguslah. Tadi aku bertemu dengan Gio dan Mateo."

"Benarkah? Gimana sikap mereka? Mereka tidak curiga bukan?"

"Sepertinya tidak. Tapi mereka kayak benci banget. Kenapa sih?"

"Aku juga tidak tahu. Mungkin besok aku ke tempat nona Angel. Tapi untuk sekarang aku akan ke tempat nyonya Bianca, ada pekerjaan disana."

"Bianca siapa?"

"Ibu nona Angel. Nanti kau juga tahu. Ih ya, nanti bakal ada yang menjemput mu namanya Tejo. Foto nya nanti ku kirim, kau masih ingat cara mendownload foto kan?"

"Masih."

"Bagus!"

Tanpa ada salam perpisahan. Lona mematikan sambungan telepon begitu saja. Anya menatap layar smartphone milik Angel itu tidak percaya. Lona benar-benar menyebalkan!

Bel berbunyi dengan keras.

Anya pun buru-buru menuju kelas. Untung saja jalan ke gudang dan ke kelas 1B tidak banyak beloknya, Anya masih bisa mengingat nya dengan baik.

Ketika masuk kedalam kelas, sebuah kaki dibawah pintu masuk menghalangi. Anya yang tak sadar tentu saja tersandung. Ia jatuh dengan tangan sebagai pelindung tubuh, alhasih tangannya berdenyut sakit.

Gelak tawa langsung memenuhi tiap sudut ruang kelas 1B. Anya pun melirik sekitar, bahkan ada yang merekam ketika ia jatuh. Benar-benar bajingan! Ia langsung menatap tajam pelaku yang membuat nya terjatuh.

"Masalah lo apa sih! Ngapain lo jegal gue!"

Si pelaku orang yang sama ketika menyeletuk 'check-in' didepan guru. Wajahnya benar-benar begis, Anya tak suka. Padahal ia tak melakukan apapun hari ini.

"Kenapa? Mau marah? Mau ngadu ke pacar lo? Sana ngadu!" ia malah menantang.

Buru-buru Anya bangkit walau tangannya masih sakit, tapi harga dirinya jauh lebih sakit.

Anya mengeram marah. Ia mendekati gadis itu lalu menginjak kakinya dengan keras. Mungkin terlihat biasa, namun kenyataannya itu sangat sakit membuat teriakan yang sangat nyaring. Bukan hanya sekali, 3 kali Anya menginjaknya dengan penuh tenaga.

"Ngapain ngadu? Tuhan ciptain kaki buang nginjak manusia kayak elo," ucap Anya lalu tertawa puas.

Gadis itu memegangi kakinya sembari menatap tajam Anya.

"Kenapa? Mau marah? Dasar lemah!" cibir Anya. Ia memilih pergi ke bangkunya dan duduk diam disana.

Mengabaikan orang yang semakin mencibir nya. Mau Anya ramah atau bar-bar sepertinya sama saja, karena sekarang dia sebagai Angel. Angel dengan kesan buruk nya.
.
.
.
.
.
.
Bel berbunyi nyaring tanda kegiatan belajar mengajar berhenti. Otak Anya sudah terkuras habis. Mungkin kalau otak itu mesin, sudah meledak sedari tadi.

Kimia, fisika, matematika, dan bahasa asing.

Benar-benar perpaduan untuk membunuh secara perlahan. Yang Anya heran, kenapa materinya tidak sama seperti kelas umum di Asrama Atlet Melawa? Disini lebih banyak angka dan menghitungnya lebih rumit.

Limit, gravitasi, newton, molekul, atom terus saja menghantui kepala Anya. Gadis itu memilih menelungkupkan kepala nya ke meja daripada berkemas untuk pulang.

Mungkin sebentar lagi akan menangis.

Disini tidak ada Hazel. Mungkin kalau ada mereka akan saling mencibir rumus dan menangis bersama karena tidak paham. Sekarang hanya ada Anya sendiri, teman yang lain benar-benar tidak mau mendekat.

Setelah didengar sangat senyap, Anya bangkit lalu mengusap wajahnya kasar. "Orang kaya! Orang kaya! Ini mah kaya orang gila!"

Anya merehangkan badannya sembari mengamati sekitar. Kosong. Dan yang lebih parah adalah pintunya tertutup dan mungkin saja terkunci. Sial!

"Untung aja gue nggak sekolah disini. Lama-lama bisa gila gue!"

Akhirnya gadis itu mengemasi barang-barang nya secara cepat lalu melangkah menuju pintu keluar. Benar saja terkunci.

"Kayaknya mereka pengen di geplak pake raket gue deh!" desis Anya kesal.

Mungkin tak sepenuhnya sial. Di  dinding sebelah kanan ada jendela di tutup secara asal tanpa dikunci. Mungkin mereka pikir dirinya tidak akan sadar, tapi itu salah besar.

Jendela yang tinggi nya sedada Anya itu langsung dibuka lebar. Gadis itu menggeser kursi terdekat lalu melewati jendela dengan mudah. Dirinya tersenyum bangga dengan aksinya.

"Mereka kurang kreatif," kekeh Anya.

Setelah sedikit merapihkan pakaian, ia langsung pergi ke gerbang. Mencari orang yang bernama Tejo untuk mengantarnya pulang.
.
.
.
.
.
Di dalam mobil menuju pulang. Anya melihat pemandangan dari jendela mobil. Deretan gedung tinggi tak pernah bosan untuk Anya lihat, apalagi beberapa mobil yang menyalip mobil yang ia tunggangi.

Melawa Town Square.

Tugu nama tersebut langsung ada dalam pemandangan. Anya tersentak. Ia pernah melihat nya di televisi! Dalamnya bagus dan banyak makanan enak!

Langsung saja Anya bersemangat.

"Pak Tejo! Kita ke Melawa Town Square dulu ya! Sebentar saja!" pekik Anya antusias.

Tejo yang tengah fokus menyetir menoleh sejenak kearah Anya yang berada disamping nya. "Kesana? Sendirian saja non?"

"Ya karena cuma sebentar saja. Aku janji!"

Tejo menyerit aneh. Baru kali ini nona muda nya memekik antusias. Biasanya dia cuma datar dan dingin, apalagi senyum lebar. Tapi senyum itu menular kepada dirinya.

"Iya non, kita putar balik!"
.
.
.
.
.
.
Golden and Blue.
Story buat assitami.

Like dulu sebelum lanjut ke part selanjutnya ❤

Tbc

Golden and BlueCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang