"Gue Angel Princessa Gustav. Anak pengusaha kaya raya keluarga Gustav. Dijamin, hidup lo bakalan enak!"
"Tapi gue nyuruh tukar bukan buat enak-enak! Gue mau elo putusin lima pacar gue tanpa ada masalah apapun."
"Kalau lo berhasil, gue nggak bakal nuntut apa-apa lagi. Tapi kalau gagal, lo bakal masuk penjara. Paham?"
Kepala Anya berdenyut sakit mengingat kalimat gadis yang ia tabrak dua puluh menit lalu. Kini ia tengah berada di salah satu lorong rumah sakit yang terdapat vending machine.
"Dia udah gila," Gumam Anya lalu menenggak air putih yang ia beli.
"Gimana bisa tukar selama satu bulan, sementara libur ini tinggal duapuluh delapan hari lagi!"
"Dasar playgirl cap kadal! Kalau nggak kuat, ngapain ngelempar ke orang lain? Dasar orang kaya, suka seenaknya!"
Sumpah serapah terus saja Anya lontarkan. Tak perduli dengan orang lewat atau para perawat yang lewat menatapnya aneh.
"Lebih baik kau turuti saja." Tiba-tiba saja Lona datang. Ia pun membeli minuman soda kaleng dari vending machine.
Anya mendengus kesal. "Kalau ngomong emang gampang. Kau tau? Aku cuma ada 28 hari libur! Aku tak bisa libur seenaknya!" Ia pun menenggak air hingga habis lalu membuang botol yang ia pegang ke tempat sampah.
Suara kaleng jatuh terdengar. Lona tersenyum tipis lalu berjongkok untuk mengambil kaleng soda yang ia beli. "Selain wajah, sifat kalian hampir sama."
"Apa maksud mu!"
"Bukan apa-apa." Lona berdiri lalu menatap Anya. "Tadi kau bilang, kau anak Asrama Atlet Melawa bukan? Kalau kau gagal karena ini, bukankah masa depan mu akan berakhir."
Anya tak menjawab. Itu benar adanya. Mereka pasti tak akan memaafkan Anya walaupun Angel yang salah.
"Nona Angel memang suka seenaknya, tapi dia adalah orang yang menepati janji. Dia tidak akan mempermasalahkan kau yang menabraknya."
"Aku tidak sengaja ya!"
"Tapi tetap saja. Bagaimana pandangan masyarakat kalau calon atlet nasional melakukan kriminal? Mereka tak akan memberi toleransi."
"Tapi ini tidak adil!" Kata Anya frustasi.
"Sejak kapan dunia adil?" Lona mengeluarkan sebuah kertas kecil. "Dari nona Angel. Besok jam 9 pagi kau ke alamat ini."
Anya menerimanya dengan ragu. Dengan cermat ia membaca alamat yang ada dikertas itu. Alamat yang amat asing bagi Anya, nanti ia akan minta tolong kepada Hazel.
"Pikir baik-baik. Aku akan membantu mu jika kau menerimanya. Kau bisa melakukan nya." Lona menepuk baju Anya pelan lalu pergi begitu saja.
Gadis itu hendak menangis. Tukar peran? Jangan bercanda! Walaupun berwajah sama, tak akan menjamin semuanya lancar bukan?
"Gue kan nggak sengaja." Mata Anya terpejam, air mata turun secara perlahan. "Orang kaya emang suka seenaknya."
.
.
.
.
.
"Kafe mewah nih An. Lo yakin disini?" Kata Hazel ragu.
Anya dan Hazel tengah berada didepan sebuah kafe sesuai alamat yang Angel beri. Seperti orang hilang, mereka celingak-celinguk sembari diperhatikan pengunjung yang lain.
Sebenarnya mereka hendak masuk, hanya mereka merasa kurang pede karena penampilan mereka yang lusuh. Takut dikira pengemis yang hendak minta-minta.
"Kalau menurut kertas si Angel ya bener," Jawab Anya sembari memperlihatkan kertas alamat dari Angel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Golden and Blue
Ficção AdolescenteJadi Atlet itu menyenangkan, tapi tidak lebih menyenangkan dari menjadi orang kaya. Itulah yang Anya pikirkan. Setiap hari berhayal bisa menjadi orang kaya dan hidup enak. Hingga suatu hari ia menabrak Angel menggunakan mobil. Sebagai ganti rugi, A...
