"Dia ini emang nggak ada kerjaan apa? Berdiri kayak patung gapura," gerutu Anya sembari melirik seseorang dari balik tembok.
Hazel terkekeh mendengar itu. Keduanya hendak pergi dari asrama. Naas, Rafael sudah berada didepan gerbang bersama kedua temannya. Kini Anya dan Hazel tengah bersembunyi dibalik tembok.
"Namanya juga jodoh. Mau gimana lagi," kekeh Hazel.
Dengan kesal, Anya memukul lengan Hazel. Bukannya marah, Hazel malah tertawa lebih kencang.
"Lewat tinggal lewat! Apa susah? Paling dia cuma mau ngajak lo jalan. Ya nggak susah kan?"
Anya melotot. "Gampang di elo. Susah di gue! Katanya orang kaya, tapi kelakuannya malah kayak preman pasar!"
"Ya mau gimana? Mau nunggu mereka pergi? Sampai besok juga nggak bakalan pergi!"
Anya semakin frustasi. Otak yang tadinya susah untuk berpikir, sekarang terasa tidak beguna.
Di Asrama Atlet Melawa, ketika libur semuanya harus dalam keadaan kosong. Para pengurus akan membersihkan sekaligus memperbaiki kamar yang sekiranya ada kerusakan. Maka dari itu semuanya harus kosong.
Anya sudah senang karena libur kali ini akan menginap di tempat pamannya Hazel dan tidak ke GOR umum lagi. Tapi semuanya hancur gara-gara Rafael.
"Gini aja deh. Elo tunggu disini. Gue jalan dulu, gue bakal bilang kalau elo udah pergi duluan. Pasti mereka bakal ikut pergi," Usul Hazel yang membuat Anya tersenyum cerah.
"Kau memang bestie aku yang paling!!! Terbaik!!!" Heboh Anya sembari mengangkat jempolnya.
Hazel menghela napas berat. Ia berjalan dulu ke gerbang, sementara Anya bakal berada cukup jauh dibelakang tembok. Seperti dugaan, Rafael dan kedua anteknya menghalangi Hazel. Entah apa yang dibicarakan mereka, cukup lama, akhirnya Rafael dkk pergi.
Anya melompat heboh seperti ia lakukan ketika memenangkan pertandingan bulutangkis. Dengan sedikit berlari, Anya menyeret kopernya sekaligus milik Hazel.
"Seharusnya dari tadi Zel! Kan gue jamuran tadi di tembok!"
"Dan harusnya gue nggak bantu lo sih An." Hazel memandang jam murahnya di pergelangan tangan kiri. "Woi! Bis nya bentar lagi berangkat!"
"Apa!!!"
.
.
.
.
.
.
"Peternakan? Beneran?" Ucap Anya antusias.
"Kayak nggak pernah liat peternakan aja," Balas Hazel lalu bersedekap dada.
"Lo lupa? Gue dari daerah Itya, apalagi panti asuhan gue dulu deket sama Pantai Yatna. Mana ada tuh ternak."
Hazel bergumam berpikir sejenak. "Dulu gue pernah ke Pantai Yatna. Sepanjang jalan banyak tuh rumput."
"Iya memang banyak. Tapi kalau ada peringatan tsunami yang repot. Pernah ada tsunami di tengah malam, aku nggak sempat bawa apa-apa langsung mengungsi."
"Lha terus itu gimana? Nggak punya baju dong!"
"Ya dikirimi sama relawan lah! Dulu Putri Selena juga datang berkunjung untuk menjadi relawan."
Mendengar nama Putri Selena membuat raut muka Hazel berubah seketika. "Bisa nggak jangan ngomongin soal dia?"
Anya bingung. "Kenapa? Dia kan baik, cantik, murah senyum pula."
Raut muka Hazel semakin kusut. Rasa tak sukanya tak bisa disembunyikan. "Lo itu cuma tahu luarnya aja. Jangan kemakan tipu daya muslihat perempuan itu! Dia itu, bencana dihidup keluarga gue!"
Tak pernah Anya melihat Hazel semarah itu. Walaupun Anya kadang bikin repot, Hazel tetap kalem menanggapi. Tapi sekarang....
"Kalau aja kakak gue suka sama orang yang sederajat, bukan perempuan itu, pasti keluarga gue baik-baik aja," Sambung Hazel sedih.
Anya juga ikut sedih. Ia menepuk pundak Hazel. "Gue berdoa semoga ada jalan yang lebih baik. Semoga semuanya bisa kembali seperti semula."
Hazel tersenyum. "Thanks!"
"Tapi jangan sebut Putri Selena kayak gitu lagi ya! Kalau ketahuan orang lain, habis lu!"
"Bodoamat!"
Bis berhenti. Anya berjalan terlebih dahulu ke pintu depan bis dan disusul Hazel. Keduanya menggesek kartu di alat pembayaran bis secara bergantian.
Semua orang di Tora memang menggunakan kartu ketika membayar bis dan dibayar 50 ultra setiap bulannya. Tapi berbeda dengan Anya dan Hazel. Sebagai calon atlet, mereka dapat fasilitas publik secara gratis dan akan ditarik ketika mereka memutuskan untuk berhenti menjadi atlet.
Karena ini adalah rute terakhir bis kota Zerka, hanya menyisakan Anya dan Hazel. Mereka pun keluar dari bis tanpa berdesakan seperti yang ada di bis kota Melawa.
Setelah dua gadis itu turun, bis langsung pergi. Ternyata di halte, ada dua orang laki-laki dan perempuan dewasa menyambut, mereka adalah paman dan bibi Hazel.
"Jadi ini yang namanya Anya?" Ucap riang paman Hazel.
"Iya pak. Saya juga teman sekamar Hazel," Jawab Anya sopan.
"Panggil aja uncle Jo! Biar sama seperti Hazel. Dan kau bisa menyebut istriku aunty Kelly," Kata Jo yang disetujui Kelly.
"Hazel banyak cerita tentang kamu. Kandidat terkuat angkatan ini," Sahut Kelly antusias.
Anya terkekeh. "Hazel suka melebihkan cerita aunty. Hazel juga kuat kok, walaupun masih kuat aku!"
"Keluar deh narsis nya."
"Haha! Yaudah! Ayo kita ke rumah! Istri ku sudah masak banyak!"
Jo berjalan paling depan lalu diikuti yang lain. Anya tersenyum memandang sekitar. Kota Zerka sangat berbeda dengan Itya maupun Melawa, disini sangat hijau dan sangat asri.
Anya yakin kalau liburan kali ini yang paling menyenangkan.
.
.
.
.
.
Kota Zerka berada di Provinsi Hega. Hega, Melawa, dan Itya adalah bagian dari Negara Tora.
1 ultra=1000 rupiah
Di Provinsi Hega, penduduk lebih suka bercocok tanam dan berternak. Mangkanya terlihat sangat asri.
Follow akun ini biar nggak ketinggalan kisah Anya.
Golden and Blue.
Story by assitami.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Golden and Blue
Teen FictionJadi Atlet itu menyenangkan, tapi tidak lebih menyenangkan dari menjadi orang kaya. Itulah yang Anya pikirkan. Setiap hari berhayal bisa menjadi orang kaya dan hidup enak. Hingga suatu hari ia menabrak Angel menggunakan mobil. Sebagai ganti rugi, A...
