expected place

19 4 2
                                        

"Nona yakin ingin berasa di GOR umum?" tanya Lona khawatir.

Angel mengangguk. "Gue nggak punya pilihan. Yang paling penting, si Alya nggak ketahuan."

Anya yang mendengar namanya berubah hanya bisa memandang datar. "Jangan ubah nama orang sembarangan! Nama gue Anya! Anya Chelzea!"

"Alah! Salah dikit nggak ngaruh." Angel menepuk bahu Anya lalu menatapnya dalam. "Pokoknya, jangan sampai ketahuan. Lona bakal kasih tau semuanya."

Anya mengangguk patuh. Angel tersenyum puas lalu menurunkan tangannya.

Violet, teman yang sama-sama tinggal di GOR umum, mendekati Anya dengan wajah khawatir. "An, hati-hati ya."

Anya membalas dengan senyum. "Tak apa Vio. Semuanya akan ok. Tolong jaga si Angel, setelah 14 hari semuanya akan kembali seperti semula."

Violet mengangguk paham, mati-matian ia menahan tangis. Mantan narapidana ini memang sedikit sensitif menyangkut orang yang ia sayang. Hanya Anya yang ia punya saat ini.

Lona pun memberi instruksi agar Anya dan dirinya bisa langsung berangkat. Anya masuk ke kursi penumpang bagian depan, sementara Lona duduk di kursi pengemudi.

Setelah berpamitan untuk terakhir kali, Lona melajukan mobil meninggalkan GOR umum Melawa. Untung saja pagi ini sedang kosong, kalau tidak mereka bakal menjadi bahan tontonan.

Mobil sudah berjalan jauh. Bahkan siluet Angel dan Violet yang berdiri di tepi jalan pun sudah menghilang dari pandangan. Anya menghela napas berat sembari memandang jendela mobil.

"Teman mu itu tidak akan melukai nona Angel bukan?" Lona membuka suara.

Anya menoleh lalu mengangguk. "Walaupun dia mantan narapidana, dia sangat baik."

Mendengar kata narapidana, Lona langsung menginjak rem karena kaget. Anya yang tak memakai sabuk pengaman, dahinya membentur dashboard mobil. Gadis itu mengeluh kesakitan sembari mengelus dahi, untung saja tidak berdarah.

Lona melotot tajam. "Kenapa kau tidak beritahu!"

"Ngapain? Dia nggak bakal ngapa-ngapain. Dia juga normal kok, nggak lesbi," jawab Anya yang masih mengelus dahinya.

"Kalau dia memukul nona Angel bagaimana? Kau mau tanggung jawab?"

Anya mengeram kesal. "Udah deh ya! Violet tuh cuma difitnah! Dia tuh aslinya lembut. Kalau si Angel ketusuk jantung nya, gue bakal kasih jantung ke dia. Paham?"

Tiba-tiba suara klakson menggema. Ternyata mobil mereka menghalangi pengemudi yang lain. Dengan segera Lona melajukan mobil agar tidak kena marah.

Anya menghela napas. Ia kembali menatap jendela. "Tenang saja, Angel tidak akan terluka bersama Violet."

"Aku pegang kata-kata itu."

Suasana kembali hening. Anya tak tahu arah mana yang Lona bawa, ia hanya menikmati pemandangan tanpa banyak berkomentar.

Gedung pencakar langit, supermarket, para pengendara lain terasa sangat menyenangkan untuk dilihat. Selama ini, Anya terlalu sibuk latihan hingga tak terpikir untuk jalan-jalan walaupun hanya sekedar melihat.

Mungkin perjalanan ini tak terlalu buruk. Melihat pemandangan dan tidak melihat wajah Lona yang datar membuat semua baik-baik saja. Anya sendiri bingung mau bersikap seperti apa kepada Lona.

Setelah 20 menit berlalu. Mobil yang dikendarai Lona mulai memasuki sebuah perumahan elit. Mulai dari gapura depan yang megah, ternyata didalamnya juga megah. Banyak sekali rumah-rumah elit berpagar tinggi dengan warna yang berbeda. Gila! Seperti yang ada di televisi yang Anya lihat!

"Jaga sikap selama ada disini. Tetangga sini tak sama dengan perumahan lain. Mereka cenderung tertutup karena banyak orang penting yang sangat menjaga privasi." suara Lona mengacaukan decak kagum Anya.

"Gue tahu! Jangan seolah-olah gue ini troublemaker ya!" protes Anya.

Lona masih sibuk mengendalikan stir mobil. "Bahasanya! Jangan kasar!"

Anya memanyunkan bibirnya. "Angel juga gitu kan. Kok gue nggak boleh!"

"Dia pengecualian."

Anya mendengus kesal sembari bersedekap dada. Ia merasa kalau si Lona ini tak suka dengan dirinya. Mungkin karena Anya orang asing, padahal kan wajah Angel dengan Anya kan sama!

Mobil mulai memasuki sebuah rumah berpagar hitam tinggi. Rumah besar putih dengan 2 pilar didepan terpampang nyata. Ditambah dengan para laki-laki bersergam hitam tersebar di sekitar pagar hingga halaman tengah berjaga menambah kekaguman Anya. Apa sebenarnya Angel ini dari keluarga kerajaan sehingga dijaga ketat?

Mobil berhenti didepan rumah. Lona membuka pintu sendiri sementara Anya dibukakan oleh seorang laki-laki bertubuh kekar berseragam hitam. Dengan gugup ia keluar sembari melirik takut laki-laki yang membukakan pintu untuk nya.

Anya hendak berterima kasih, namun Lona langsung menariknya masuk kedalam rumah. "Jangan berterima kasih! Kau itu nona! Seorang nona muda tidak mengucapkan terima kasih."

Iyakah? Pantas saja aura Angel terlalu suram. Mengucapkan terima kasih saja tidak boleh.

Tapi itu bukan menjadi masalah bukan? Melihat kemewahan rumah yang bernuansa putih dan emas begitu hebat dimata Anya. Keramik jutaan ultra pun dipajang disetiap sudut rumah. Kemewahan akan sejalan dengan kesombongan.

Lona menyeretnya kedepan pintu yang bertuliskan Angel room dan Anya yakin kalau ini adalah ruangan milik Angel yang berada di lantai satu.

"Ini kamar nona Angel. Jangan sampai ada barang yang rusak maupun hilang. Kau istirahat lah terlebih dahulu. Nanti aku ajak berkeliling," kata Lona.

Anya mengangguk patuh. "Iya.terima kasih Lona."

"Sudah aku bilang! Jangan berterima kasih!"

Anya hanya speechless. Lona mendengus kesal lalu pergi. Tak mau ambil pusing, gadis itu langsung memutar tuas pintu lalu mendorongnya pelan.

Wangi lavender langsung menyapa ketika Anya memasuki ruangan milik Angel. Kasur ungu yang luas, meja belajar yang bagus, serta beberapa pintu yang tertempel ditembok, ruangan serba ungu. Walaupun Anya tak terlalu suka ungu, tapi Anya sangat menyukai tempat ini. Kamar Angel.

"Jadi ini kamar orang kaya?" Anya menarik napas dalam-dalam. "Setiap sudutnya wangi uang!"
.
.
.
.
.
.
Sebelum lanjut, klik bintang dulu❤
Ada kritik dan saran silahkan ditulis di kolom komentar.

Terima kasih.

Golden and Blue.
By assitami

Tbc

Golden and BlueCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang