finally, Zavier Sorofan!

17 4 1
                                        

Hari ke sepuluh. Semakin tipis. Misi Anya belum selesai. Bagaimana ini!

Cuma tinggal Zavier dan Gio, kenapa Chiko malah mempersulit!

Karena dipaksa semua pihak, Anya memilih berbicara empat mata dengan Chiko di cafe dekat sekolah setelah kegiatan belajar mengajar selesai.

"Begini Chiko. Gue cuma mau hidup biasa aja. Gue tau karena kebanyakan cowok buat hidup gue berantakan," kata Anya mengulang kalimat Angel. Sebelum nya, Angel menelponnya dan menyuruh berkata demikian.

"Maksudnya, aku buat kamu berantakan?" kata Chiko sedih.

Anya menggeleng cepat. "Bukan seperti itu. Kau baik Chiko. Baik. Gue nggak bisa balas cinta lo. Sorry."

"Gue nggam butuh dibalas!"

"Oh ya? Jadi selama ini apa? Kau bertahan kenapa? Kau tidak marah kenapa!" Pekik Anya tak habis pikir. Ada ya orang seperti Chiko.

"Karena aku ingin Angel yang dulu! Angel yang ramah, Angel maniak blueberry, Angel teman sekaligus cinta pertama ku! Aku yakin kau masih sama kan?"

"Tapi gue nggak suka blueberry Chiko! Nggak suka!" pekik Anya yang membuat atensi pengunjung cafe yang lain.

Chiko terdiam seakan tak percaya. Benarkah?

"Kau katanya paling care sedunia! Tapi apa? Satupun kau tak tahu aku! Aku nggak suka blueberry! Aku nggak biru! Aku nggak suka teddy bear! Dan ngapain lo kirim raket bulu tangkis?" tambah Anya.

Semuanya semakin tak masuk akal. Itu semua bukan kesukaan Angel, justru itu adalah kesukaan Anya. Termasuk teddy bear. Ia selalu memungut teddy bear yang dibuang lalu dicuci hingga bersih. Yah, walau akhirnya dibuang juga karena ia tak punya tempat untuk menyimpan nya.

Dan raket bulutangkis. Jelas-jelas Angel tidak suka olahraga. Sebenarnya apa maksud Chiko mengirimkan semua itu?

"Tapi kau berterimakasih kemarin!"

"Itu cuma basa-basi! Apa lo nggak sadar kalau lo itu bodoh! Gue bukan Angel yang lo maksud! Berhenti Chiko!"

Chiko mengeraskan rahangnya kesal. Ia masih tidak Terima dengan kalimat yang dilontarkan oleh Anya. Jadi effort nya selama ini tidak berguna?

"Sorry Chiko. Elo harus sadar! Gue ini bukan Angel yang lo maksud!"

Sekarang Chiko lemas. Tak ada harapan. Kalau benar Angel yang ada dihadapannya ini bukan cinta pertama nya, jadi kemana dia? Cowok itu terlalu bahagia melihat Angel berambut pirang, tak perduli siapa dia, Chiko menganggap Angel adalah cinta pertama nya.

"Gue tau itu elo. Nggak inget? Kita dulu sering main di rumah pohon dekat pantai Yatna! Kita cari kerang! Kita makan blueberry bareng. Kamu nggak ingat?" nampaknya Chiko tak pantang menyerah.

Pantai Yatna? Rumah pohon? Anya teringat sesuatu. Dulu memang ada rumah pohon tak berpenghuni tapi ditemukan oleh Anya lalu dibersihkan. Entah bagaimana nasibnya sekarang, Anya tak pernah kesana lagi.

Dejavu rasanya. Tapi kenapa Anya tak bisa mengingat apapun! Ingatan Anya yang lemah atau ingatan Chiko yang terlalu kuat?

"Gue nggak pernah ke pantai Yatna Chiko. Please stop!" dusta Anya.

Bahu Chiko merosot. Ada pantangan menangis untuk laki-laki, tapi Chiko tak perduli. Ia menangis sekarang. Ia mencintai terlalu dalam sehingga mengusik orang yang tak tahu apa-apa.
.
.
.
.
.
Chiko sudah menerima. Anya lega luar biasa. Ia sudah menceritakan nya kepada Angel, gadis itu juga sangat senang dan berterima kasih kepada Anya.

"Mending lo ke Timezone deh sebelum balik jadi miskin lagi. Disana banyak permainan!"

Sejak kapan Angel berubah menjadi baik? Apa mungkin efek putus dari Chiko? Entahlah. Yang jelas Anya memang harus ke Timezone walau seorang diri.

Golden and BlueCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang