Jangan lupa vote and commentnya kakak kakak baik 😉
Serra membungkuk terengah engah, gadis itu meletakkan kedua tangannya di lutut. Dirinya baru saja menyelesaikan lari beberapa putaran di lapangan sekolah, rambutnya yang diikat ekor kuda sudah basah oleh keringat.
Gadis itu tidak menyadari jika sedari tadi Bian mengawasinya dari sudut yang sepi dalam diam. Pria itu membuka buku persiapan tes untuk masuk universitas. Mengerjakan beberapa soal, lalu sesekali mengangkat wajahnya untuk sejenak melihat Serra yang fokus latihan sendiri.
Di antara siswa kelas sepuluh lainnya, gadis itu memang menonjol. Wajahnya yang khas Asia Timur menyita banyak perhatian terutama lawan jenis, siswa seangkatannya atau kakak kelas. Bian mengira Serra berdarah campuran, entah ayah atau ibunya yang berasal dari Asia Timur.
Meskipun menjadi incaran kakak kelas, Serra tidak pernah menanggapi mereka serius. Yang ada gadis itu malah memanfaatkannya agar mereka membeli dagangannya. Dan dengan begitu, dagangan Serra cepat habis serta merauk banyak keuntungan.
"Ser, nongkrong yuk." Ajak Sasya yang dibelakangnya diikuti Rayi dan Gara mereka bertiga memang biasa nongkrong dengan setelah pulang sekolah.
"Capek gue, udah sore juga. Mau ngerjain dimana emang? Gue keringetan gini, engga bawa baju ganti juga."
"Di Forest caffee, nanti lo ke rumah gue dulu aja ganti baju. Yuk keburu kemaleman ntar baliknya." Sasya tau jika Serra tidak biasa pulang terlalu malam apalagi hanya karena nongkrong tidak jelas.
Ketika telah tiba di rumah Sasya, Sera sudah ingin berteriak jika saja tidak ingat bahwa ada orang tua temannya itu di rumah. Sasya meninjaminya baju yang memperlihatkan pusarnya, sedangkan Serra tidak terbiasa dengan baju itu. Bukannya apa, gadis itu takut masuk angin.
"Sini deh Ser, duduk." Sasya memaksa temannya itu duduk di kursi yang terletak di depan meja rias.
Serra tidak bisa menolak saat Sasya menyapukan bedak dengan powder brushnya, lalu gadis itu menyisir alis temannya itu dengan browcara, dan memberi liptint untuk sentuhan terakhirnya.
"Emang engga kemerahan ini liptint?" tanya Serra yang mengatupkan bibirnya agar liptint itu rata. Sebagai remaja sebenarnya Serra juga ingin memiliki pernak pernik make up, tapi apa daya gadis itu terlalu sayang mengeluarkan uang untuk membelinya.
"Engga tenang aja, muka lo itu udah kaya eonni eonni Korea. Tinggal poles dikit udah cakep, engga perlu banyak effort." Sasya memang senang bermain dengan make up, dan Serra sering menjadi kelinci percobaannya.
Ponsel mereka berbunyi nyaring, sepertinya para pria sudah tidak sabar menunggu. Tidak ingin mendengar omelan dari Rayi, Serra pun menyeret Sasya agar segera menyusul Rayi.
o0o
Forest Caffee sore itu lumayan ramai, beruntung gerombolan Serra mendapatkan tempat duduk. Saat akan memesan minuman, Serra dikejutkan dengan kemunculan Bian yang berdiri di belakang mesin kopi.
Anehnya pria itu mengenakan celemek khas karyawan Forest Coffee. Tatapan Serra bertemu dengan mata hitam legam milik Bian ketika pria itu mendongak. Wajah pria itu tampak datar, tidak ada senyum di sana.
Serra pun langsung membuang muka, menghindari kontak mata yang lebih lama lagi. Detak jantungnya terasa semakin cepat, gadis itu menarik napas panjang. Mencoba mengatur detak jantungnya agar tidak semakin kencang.
"Ser, mau pesen apa?" Sasya menyenggol lengan Serra yang sejak tadi dipanggilnya tetapi tidak segera merespon, gadis itu menanyakan apa yang mau temannya itu pesan.
"Es kopi susu gula arennya satu Kak," ujar Serra yang memang menyukai kopi susu gula aren sejak dulu.
Setelah membayar mereka pun segera duduk dan mengerjakan tugas kelompok yang harus segera dikumpulkan. Serra menarik turun kaos Sasya yang sedang ia kenakan, karena memperlihatkan kulit perutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
WHEN THE PARTY'S OVER
RomanceSurat cinta masa putih abu abu itu ternyata masih tersimpan rapi. Kenangan itu sulit untuk mereka lupakan. Setelah bertahun tahanun berlalu, akankah semesta mempertemukan mereka kembali? Ciuman Bian di malam promnight itu membekas meskipun sudah ber...
